
"Nak.." Panggil Mom Laura pada Rena.
Rena tersenyum saat melihat Mom Laura. Ibu nggak apa-apa? Tasnya nggak apa-apa!" Tanya Rena beruntun.
Mom Laura yang mendengarnya pun sedikit tertawa.
"Hei bukannya saat sadar mikirin diri sendiri, malah mikirin tas. Gimana perasaanmu? Apakah masih sakit!" Sambungnya.
Rena menggelengkan kepalanya pelan dan berkata "nggak begitu sakit lagi kok, Bu. Tadi dokter sudah beri suntikan pereda nyeri katanya." Jawabnya.
"Terima kasih ya, Nak atas bantuan mu tadi siang. Karena nolongin Ibu, kamu jadi celaka seperti ini!"
"Iya, Bu nggak apa-apa. Saya ikhlas bantunya." Jawab Rena dengan tersenyum.
Dibelainya kepala Rena lalu merapikan anak rambut Rena yang sedikit menutupi mata indahnya dan berkata "Nama kamu siapa? Ibu sampai lupa menanyakan."
"Namaku Renata, Bu. Tapi biasa dipanggil Rena." Balasnya.
"Nama yang cantik, secantik orangnya," puji Mom Laura saat melihat warna mata Rena.
"Aduh kok saya jadi lupa memperkenalkan anaknya Mom. Sini Nak, Mom kenalkan pada gadis yang sudah menolong Mom." Panggil Mom Laura.
Saat Nathan mulai berjalan menuju tempat tidur Rena, tiba-tiba bunyi ponselnya berdering lalu mengangkatnya.
"Katakan ada apa. Baik saya kesana sekarang!!" Jawabnya sembari memberikan kode pada Sang Mom kalau dirinya harus segera pergi.
"Aduh maafkan sikap anaknya Mom yah, sepertinya dia lagi ada urusan yang penting hingga harus pergi begitu saja tanpa berkenalan denganmu." Sesal Mom Laura.
"Nggak apa-apa kok, Bu." Ucap tulus Rena.
"Jangan panggil Ibu lagi, panggil Mom saja ya, rasanya lebih enak kalau kamu panggil Mom." Ucapnya sembari mengelus lengan Rena lembut.
Rena yang merasa begitu disayang bak seorang Ibu kandung begitu membuatnya haru hingga meneteskan air mata.
__ADS_1
Hal itu pun tidak lepas dari penglihatan Mom Laura. Di hapus nya air mata yang tersisa di pipi Rena dan berkata "Apakah ada yang sakit? Bilang pada Mom, nanti Mom minta pada dokter untuk memberikan obat penghilang rasa sakit!"
Rena menggelengkan kepalanya lalu berkata "Rena rindu Mama..." Ucapnya lirih.
"Memangnya Ibumu dimana? Mom sampai lupa memberikan kabar pada mereka kalau kamu kena musibah." Seru Mom Laura.
"Mereka sudah meninggal sejak usiaku tujuh tahun dan saat ini aku tinggal di panti asuhan." Jawab Rena sembari menerawang langit kamarnya.
"Maafkan Mom kalau itu membuatmu sedih, sekarang ada Mom disini, anggap Mom adalah Ibu juga. Jadi mulai saat ini, kamu dapat Ibu lagi, hemm." Ucap sembari menoel hidung Rena dengan tersenyum.
"Kasihan, dirinya harus bertahan hidup ditengah kondisinya saat ini." Batin Mom Laura sambil menatap wajah cantik milik Rena.
"Kalau begitu beritahu Mom nomor telepon panti mu, pasti mereka khawatir karena sudah sore begini kamu masih belum pulang juga," ucap Mom Laura yang di angguki oleh Rena.
Setelah memberikan nomor ponsel Ibu Kepala Panti Asuhan, Mom Laura lalu menghubungi beliau langsung. Ibu Rahma, yah itulah nama kepala panti tempat Rena hidup selama puluhan tahun yang sudah dianggapnya sebagai Ibu kandungnya sendiri.
"Baik, Bu. Nggak apa-apa.. malah saya yang harus meminta maaf sekaligus minta maaf karena Rena membantu saya hingga dia harus terluka seperti ini." Ucap Mom Laura pada Ibu Rahma.
Yeah setelah mendapatkan nomor ponselnya, Mom Laura langsung menghubungi beliau dan memberikan kabar tentang Rena yang masuk rumah sakit.
"Iya, Mom nggak apa-apa kok. Toh juga Rena disini banyak yang bantuin." Ucap Rena dengan melihat orang-orang yang ada dihadapannya saat ini, lumayan banyak. Ada dua pria berbadan tegap yang akan berjaga di depan kamarnya dan tiga orang wanita yang lumayan berumur yang siap menjaga dan membantu dirinya selagi dia masih berbaring di tempat tidur.
Itu semua adalah atas perintah dari Mom Laura, awalnya dirinya lah yang mau menginap di rumah sakit tapi karena lain hal, akhirnya dia menyuruh pekerja rumahnya yang datang dan bermaksud menggantikan dirinya untuk menjaga Rena.
Awalnya Rena menolak dengan alasan tidak enak hati serta canggung namun karena Mom Laura yang memaksa dan katanya ini sebagai bentuk rasa tanggung jawab sebagai seorang Ibu jadi mau tidak mau, dirinya pun setuju.
"Mom pulang dulu ya, anak Mom sudah menunggu di mobil. Mungkin lain kali Mom memperkenalkan mu padanya. Besok Mom akan kesini lagi, apakah ada makanan yang mau kamu makan sayang?" Tanya Mom Laura.
"Nggak perlu repot-repot Mom, Rena juga disini dikasih makan kok," jawabnya sembari menahan tawanya karena akan terasa nyeri saat perutnya terguncang.
"Ya sudah, nanti Mom bawa semua makanan yang bibik Ros masak ya," Ucap Mom Laura lalu mulai berjalan menuju pintu kamar Rena. Namun ketika akan menutup pintu kamarnya, dirinya berbalik lagi lalu berkata pada ketiga orang yang menemani Rena agar mereka menjaganya dengan baik dan mengikuti semua permintaan Rena.
Rena yang melihatnya dari tempat tidurnya pun merasa tersentuh. Betapa beruntungnya anak yang mempunyai orang tua yang begitu perhatian pada anaknya.
__ADS_1
"Hati-hati Mom dijalan," ucap Rena saat mata Mom Laura memberikan kode kalau dirinya pamit pulang.
*
*
*
Di mobil
"Kamu kemana saja, Nak. Dari tadi Mom menunggu disini, katanya sebentar tapi sampai malam begini baru jemput Mom." Ucap Mom Laura.
"Maaf, Mom. Tadi ada yang harus Nathan kerjakan jadi agak terlambat menjemput Mom."
"Ya sudahlah, yang penting kamu sudah ada disini. Lalu, apa kamu sudah makan malam? Karena Mom saat ini sudah sangat lapar," Tanya Mom Laura. Karena dia tahu kalau terkadang Sang anak akan sering lupa makan kalau sudah fokus mengerjakan sesuatu. Makanya dia akan selalu berkata belum makan agar Nathan mau ikut makan bersamanya.
Di ruang perawatan
"Bu, kalian istirahatlah di sofa atau di dalam kamar sana." Ucap Rena sembari menunjuk sebuah ruangan yang berisi tempat tidur dan peralatan selayaknya sebuah kamar tidur.
"Nggak, Non. Kita disini saja, Nyonya perintahkan kami untuk menjaga dan menemani Nona disini. Kalau kami istirahat dan Nona membutuhkan kami bagaimana? Nanti kami akan kena arah oleh Nyonya Laura." Ucap salah satu wanita paruh baya yang menemani Rena malam ini.
"Ya sudah dari Ibu saja, kalau sudah lelah bisa istirahat. Nanti saya bisa memanggil Ibu kalau memang butuh bantuan." Ucapnya disertai senyuman manisnya.
"Istirahatlah, Non. Agar besok pagi bisa bangun dengan segar!" Ucap salah seorang Ibu yang menjaga dirinya.
Di Kediaman Raharja
"Sayang, Mom akan menjenguk Rena dirumah sakit, apa kamu mau bertemu dengannya?" Ajak Mom Laura.
"Maaf, Mom. Sepertinya Nathan harus segera ke kantor, ada rapat pagi yang harus aku hadiri. Tapi mungkin lain kali aku akan bertemu dengannya," ucapnya sembari mencium kedua pipi Mom nya lalu berjalan beriringan dengan Bram yang selalu setia menunggunya muali dari dirinya bangun tidur hingga menyiapkan segala keperluannya.
Bram bukan aja asisten pribadinya di kantor, namun juga asisten pribadi untuk hidupnya. Bagi Nathan Bram merupakan paket komplit yang akan selalu ada sampingnya, baik sebagai karyawan ataupun sebagai sahabatnya.
__ADS_1
🏵️🏵️🏵️