Sekertaris Galakku

Sekertaris Galakku
Bab 42. Perhatian dari Pria Dingin dan Datar


__ADS_3

“Rena.. Rena!! panggil Nathan dengan lantang saat Rena tak menjawab panggilannya. “A-ah, i-iya Pak? Bapak memanggil saya! Jawab Rena saat tersadar seseorang memanggil namanya. “Ada apa denganmu? Ini waktu jam kerja, jangan suka melamun!” geram Nathan.


“Iya, Pak, maaf, tidak akan saya ulangi lagi.” Ucap Rena lirih sembari menundukkan kepalanya.


“Ya sudah, ayo masuk! Siapkan semuanya!” jawab Nathan dingin.


“Huh, ada apa sih dengan otakmu Rena, bisa-bisanya kamu pikir yang aneh-aneh saat jam kerja,” Rena bermonolog.


“Saya senang dapat bekerja sama dengan perusahaan Pak Nathan, semoga kerja sama Raharja Corp dan Winarta Grup bisa berjalan dengan lancar,” ucap CEO Winarta Grup yang bernama Alan Winarta.


“Saya juga senang dapat bekerja sama dengan perusahaan besar yang sudah sampai melenggang sampai keluar negeri, Pak Alan Winarta.” Ucap Nathan sembari menjabat tangan Alan.


“Panggil Alan saja Pak Nathan,” ucapnya sembari tersenyum ramah.


Baiklah, Pak Alan. Mungkin lain kali kita bisa lanjutkan pembicaraan kita dilain hari dan waktu,” ucap Nathan yang sedikit terganggu dengan tatapan Alan yang sedari tadi melirik ke arah Rena.


“Kalau Pak Nathan bersedia, kita bisa makan siang bersama di suatu tempat. Anggaplah ini sebagai perayaan karena dua perusahaan besar bersatu dalam suatu proyek besar,” ujar Alan, ya.. dia sangat tertarik pada Rena, sedari tadi dia terus memperhatikan gerak geriknya. Cantik, itu kata yang langsung terlintas di benaknya saat melihat Rena masuk bersama Nathan.


“Itu sungguh ide yang bagus, namun saya mohon maaf mungkin, kita bisa atur waktu kita lain waktu Pak Alan, kebetulan setelah ini, kami harus kembali menghadiri rapat penting siang ini,” ucap Nathan bohong, sembari berjalan bersama berjalan menuju lift.


“Baiklah, mungkin lain kali. Saya permisi dulu,” ucap Alan tersenyum, namun di dalam hatinya tersisa kekecewaan karena tidak bisa mencari alasan untuk berbicara dengan sekretaris Nathan.


“Permisi Pak Bram dan senang bertemu dengan Anda Nona...”


Rena langsung melanjutkan perkataan Alan. “Renata, panggil saja Rena,” ucap Rena sembari tersenyum pada Alan.


Nathan melihat senyum seringai Alan, dasar Kadal buntung!! Pekik Nathan dalam hati. Ya, sebelum bekerja sama, Nathan selalu menyuruh Bram untuk mengecek terlebih dahulu latar belakang dari perusahaan yang akan mereka temani bekerja sama, seperti perusahaan Winarta ini. Alan terkenal sebagai seorang playboy kelas kakap.

__ADS_1


Setelah kepergian Alan dan timnya, Rena dipanggil ke ruangan Nathan melalui interkom yang terpasang di ruangan Rena. “Cepat ke ruangan saya!” ucap Nathan singkat lalu memutuskan sambungannya tanpa mendengar jawaban Rena.


Rena menghela nafasnya, “Apa kenangan malam itu dia sudah lupa ya? Bisa-bisanya dia kembali dingin dan datar padaku.” Gumam Rena sembari berjalan menuju ruangan Nathan.


Tok, tok..


“Permisi Pak,” ucap Rena saat sudah masuk ke dalam ruangan Nathan.


Nathan yang tengah sibuk dengan berkas ditangannya, menoleh ke arah Rena yang sudah berada tepat didepan mejanya. “Lain kali, kamu bisa pakai pakaian yang lebih panjang sedikit, jangan memakai rok yang pendek seperti itu lagi saat kita sedang rapat atau bertemu dengan klien.


Rena bingung dengan apa yang dikatakan oleh Nathan padanya, Rena lantas memperhatikan rok yang dikenakannya. “Enggak pendek-pendek amat kok, tapi kenapa dia marah!” batin Rena sembari menarik-narik roknya agar turun ke bawah.


Nathan memperhatikan tingkah Rena, “Itu tidak akan menjadi panjang kalau kamu tarik begitu. Sana ganti, saya tidak mau lihat kamu memakai rok pendek itu lagi,” ucap Nathan kesal sembari mengingat kejadian tadi.


Ya, dia masih ingat betul dengan tatapan Alan pada Rena. Itu sungguh membuat konsentrasinya terganggu. “Tapi Pak, apa harus sekarang? Apa sekalian besok saja!” tawar Rena.


“Maaf, saya tidak bermaksud membentak mu, ikutilah apa yang saya minta, saya tidak suka dibantah.” Sambung Nathan lagi.


“Baik Pak, saya permisi pulang dulu.” Ucap Rena yang mulai beranjak dari hadapan Nathan. Namun baru selangkah dirinya berjalan. Rena sudah dipanggil lagi, “Tunggu dulu! Kenapa kau mau pulang? Ini belum waktunya pulang kantor! Apa kau lupa?” sergah Nathan.


Dahi Rena berkerut, “Bukannya Bapak menyuruh saya mengganti rok saya sekarang? Pakaian yang saya bawa kemarin semua sudah kotor jadi ya, saya harus pulang ke Panti dulu Pak, habis itu saya kembali lagi ke kantor.” Jawab Rena dengan suara yang pelan.


Nathan terlihat menghela nafasnya berat, lalu merogoh saku jasnya dan segera menelepon Bram, “Bawakan beberapa setelan pakaian kantor untuk Rena sekarang!” titah Nathan.


“Baik, Tuan,” jawab Bram dari seberang telepon.


Bram yang sedang bersama dengan Ayyura pun akhirnya membatalkan kembali rencana makan siang bersama. “Maaf, Ay. Saya harus pergi, nanti saya kabari lagi.” Pamit Bram yang kini berlari ke arah parkiran mobil.

__ADS_1


Terdengar helaan nafas panjang Ayyura. Pasalnya ini bukan yang pertama kalinya mereka ingin makan siang bersama, tapi entah mengapa selalu saja ada hambatannya, Ayyura tak bisa berbuat banyak. Akhirnya Ayyura kembali masuk ke dalam kantor menuju kantin yang memang sudah disediakan oleh perusahaan dengan gratis.


“Kamu tunggulah disini, Bram sebentar lagi akan datang.” Titah Nathan lalu kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda. Sedangkan Rena, dia terus berdiri di depan Nathan. Ya, Rena tidak berani duduk di sofa milik Nathan karena yang punya ruangan belum mempersilahkan.


Nathan yang letih melihat Rena yang masih berdiri di depannya lantas menegurnya kembali lalu menyuruhnya duduk. “Apa kau tidak letih berdiri terus? Cepat duduk di sana!” ucapnya sembari menunjuk sebuah sofa hitam yang selalu dia duduki saat menerima tamu penting.


***


Di tempat berbeda, tampak Bram dengan sigap melajukan mobilnya menuju butik langganan keluarga Nathan. Setibanya di sana, Bram segera menghampiri pegawai yang ada di sana, “Saya ingin setelan pakaian kantor wanita yang sederhana namun tampak elegan saat digunakan,” ucap Bram sembari mengatur alur nafasnya. Ya, sesaat setelah dia menerima telepon dari Nathan, dirinya bergegas pergi dan melajukan mobilnya dengan cepat, perkiraannya akan bisa tepat waktu sebelum Ayyura selesai waktu makan siangnya.


“Mari Tuan, saya antar-kan,” ucap pegawai Butik yang mengarahkan Bram ke bagian baju kantor. “Kamu pilihkan saja 10 set pakaian kantor yang tadi saya inginkan, cepat!! Ucap Bram dengan terburu-buru, dirinya tak ingin membuat Ayyura kecewa untuk ke sekian kalinya lagi.


“Baik, Pak! Jawab pegawai tersebut dengan cepat karena kaget.


“Tunggu aku Ay!” batin Bram sembari melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.


***


Di Kantin,


Terlihat Ayyura makan dengan sangat lambat, tentu saja semua karena Bram. Nasi goreng yang menjadi menu pilihannya pun hanya sesendok saja yang dia makan, selebihnya hanya di aduk-aduk saja.


Tadinya dia sudah sangat bersemangat karena impiannya bisa lebih dekat dengan pangerannya bisa segera terwujud, tapi lagi-lagi harus gagal karena pangeran berkuda-nya itu harus melaksanakan titah dari Sang Raja.


Di saat dirinya sudah ingin beranjak dari tempat duduknya, sebuah tangan kekar menahannya. “Kau mau ke mana!” ucap pria yang menarik lengan Ayyura.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2