Sekertaris Galakku

Sekertaris Galakku
Bab 35. Balas Dendam jilid 1


__ADS_3

Rena berlari kencang menuju kamarnya di kamar 300 tanpa mendengarkan Nathan yang meneriakkan namanya dengan lantang. “Rennaa....


Nathan berjalan tertatih tati menuju kamarnya, segera dilemparnya sepatu yang dia kenakan dan memeriksa kakinya yang tadi di injak oleh Rena, terlihat sedikit merah dan membengkak. Damn it!!


“Aku akan memberikanmu pelajaran yang setimpal,” ucap Nathan dengan seringai di wajahnya saat sedang menelepon.


“Iya, Tuan,” jawab Bram dari seberang telepon. Yeah, Bram lah orang yang ditelepon Nathan.


“Cepat panggilkan Dokter sekarang! Kakiku sangat sakit,” ucap Nathan lalu menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Bram. Sifat arogannya itulah yang menjadikan dirinya tidak mempunyai banyak teman, banyak teman-teman sekolahnya yang menjaga jarak dari Nathan, bukan karena mereka yang tak mau berteman, namun Nathan lah yang suka bersikap masa bodoh, tidak peka dan tidak memedulikan perasaan orang lain. Hanya Bram saja yang begitu kuat menghadapi perilaku Nathan sampai sekarang.


Setelah mendapatkan telepon dari Nathan, Bram segera memanggil dokter sesuai dengan perintah Nathan, dan menyuruh Rena datang ke kamar Nathan sekarang. Awalnya Bram bingung dengan perintah bosnya yang cukup jahil menurutnya, namun setelah melihat dan mengetahui cerita lengkapnya, akhirnya Nathan mengerti maksud dan tujuan Nathan memanggil Rena ke dalam kamarnya.


Bram tersenyum tipis bahkan saking tipisnya, Author pun tidak bisa melihatnya. “Rupanya sudah rasa di hatimu, Tuan!” gumam Bram pelan.


Setelah dokter memeriksa kaki Nathan dan memberikannya resep obat yang harus dia tebus di Apotek. Bram mengantarkan Dokter yang sudah memeriksa kaki Nathan sampai ke depan lobi Hotel lalu kembali naik menuju kamar milik Nathan. Saat keluar dari lift, Bram berpapasan dengan Rena yang memang menuju kamar Nathan. “Ayo cepat, Tuan sangat kesakitan bahkan dia tidak bisa berjalan untuk sementara waktu,” ucap Bram yang sengaja berbohong pada Rena sesuai dengan arahan dari Nathan sebelumnya.


Rena yang awalnya menolak karena takut nanti akan di marahi namun karena Bram meyakinkannya. Akhirnya Rena memberanikan dirinya untuk pergi ke kamar bosnya itu.

__ADS_1


Bram berjalan didepan Rena, dirinya sangat takut, sampai saat dirinya ingin berbalik, Bram memergokinya, “Mau ke mana kamu?!” tanya Bram saat melihat Rena berbalik arah.


Gleg’


“Ya, ketahuan,” ucap Rena pelan merutuki aksinya sendiri. “I-iya, Pak, enggak apa-apa kok. Tadi.. ponsel, ya ponsel saya tertinggal di kamar.” Ucap Rena sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Bukannya yang kamu pegang itu ponselmu??” tanya Bram dengan polosnya. “Ngg?!” Rena melihat ke bawah yang ditunjukkan oleh Bram. “Mati sudah, ibu Momy tolongin Rena!!” jeritnya dalam hati.


“Ayo masuk, baru saja tadi Dokter kesini memeriksa kaki Tuan Nathan—jadi saya minta tolong sama kamu untuk bisa mengurus dan menjaganya sementara waktu di kamar ini selama saya keluar,” ucapan Bram membuat otak Rena sudah berlari ke sana kemari.


“ Pak Bram, aku harus tidur di sini? Di sini!! Satu kamar dengan Pak Nathan!” ulang Rena yang seolah ingin menegaskan keseriusan ucapan Bram. “Iya, benar.” Ucap Bram lalu melenggang pergi menuju kamar Nathan.


“Bram, tolong kamu tebus obat ini di apotek K-24 di ujung jalan hotel ini. Tadi Dokter lupa membawa stok obatnya,” ucap Nathan sembari mencoba mengangkat kepalanya mencari keberadaan Rena yang dia tahu kalau saat ini Rena sedang melihat dan mendengar percakapannya bersama Bram.


“Baik, Tuan, saya akan—Maaf Tuan, saya lupa kalau saya harus mengirimkan dokumen yang akan kita bahas pada klien besok pagi,” ucap Bram dengan wajah yang terlihat bingung.


Rena tiba-tiba saja keluar dari tempat persembunyiannya, “Saya saja Pak Bram, sebagai permintaan maaf saya, biar saya saja yang menebus obat Pak Nathan di Apotek,” ucap Rena dengan sedikit tertunduk. Ya, Rena sungguh merasa bersalah pada bosnya itu, karena perbuatannya tadi, sampai membuat kaki Nathan harus diperban seperti itu. “Resep obatnya mana Pak Bram?” bisik Rena yang berjalan mendekati Bram.

__ADS_1


“Resep obatnya ada di atas meja samping tempat tidur Tuan Nathan, silakan kamu ambil sendiri. Karena saya harus kembali ke kamar saya sendiri dan mengirimkan dokumen persiapan rapat besok.” Ucap Bram sembari berlalu menuju pintu keluar.


“Maafkan saya Rena, ini semua perintah calon suamimu sendiri.” Gumamnya sembari menutup pintu dan meninggal Rena sendirian di dalam kamar Nathan.


“Ada apa kamu kesini? Kurang puas kamu membuat kakiku seperti ini!” Ucap Nathan sembari menunjuk kakinya yang kini terbalut oleh perban.


“Pak Nathan juga sih, kenapa coba bekap mulut dan memelintir tanganku tadi. Kan tanganku , ini lihat tanganku juga memar kan! Jadi.. bukannya sekarang kita sudah impas!” ucap Rena dengan mata berbinar.


“Enggak, ya bedalah, coba lihat tanganmu. Diperban enggak? Enggak kan! Makanya, ini belum impas, kamu harus mengurusku sampai kakiku sembuh total,” ucap Nathan tegas dengan satu sudut bibirnya terangkat.


Rena hanya bisa menghela nafasnya berat, sembari berkata, “Baiklah-baiklah, sekarang mana resepnya? Biar aku belikan secepatnya dan agar kaki Pak Nathan bisa cepat sembuh dan pulih,” ucap Rena dengan tersenyum kecut penuh arti.


“Ada apa kamu kesini? Kurang puas kamu membuat kakiku seperti ini!” Ucap Nathan sembari menunjuk kakinya yang kini terbalut oleh perban.


“Pak Nathan juga sih, kenapa coba bekap mulut dan memelintir tanganku tadi. Kan tanganku , ini lihat tanganku juga memar kan! Jadi.. bukannya sekarang kita sudah impas!” ucap Rena dengan mata berbinar.


“Ini! cepat tebus kan, aku harus segera meminumnya, paling tidak aku bisa bangun sendiri dari tempat tidur dan bisa menghadiri rapat besok pagi.” Ucapnya sembari mengulurkan tangannya yang sedang memegang secarik kertas yang bertuliskan resep obat.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2