
“Ini tiket buat bulan madu!” Terka Nathan yang di angguki Laura.
“Kami memberikan kalian tiket berbulan madu selama sebulan lamanya, tapi ... Setelah kalian pulang, Momy dan Ibu Rahma harus sudah mendengar kabar baik dari kalian, apa kalian mengerti maksud Momy!” tutur Laura.
“Tapi Mom....”
Belum sempat Nathan menyelesaikan perkataannya Laura langsung menyela dan mengatakan, “ Kalau kalian memikirkan soal pekerjaan, kalian tak perlu repot-repot, sebab selama kalian pergi, pekerjaan kalian kami yang akan menghandle nya. Intinya kami hanya ingin kalian bersenang -senang dan membawa pulang kabar yang menggembirakan buat kami semua.
“Maksud Momy apa?!” tanya Rena yang memang tak mengerti maksud mertuanya itu. Berbeda dengan Nathan terlihat berbinar membayangkan akan setiap harinya bisa berperang bersama istrinya, “Aku siap, aku siap!!” pekik Nathan dalam hati.
“Tuh lihat suamimu, tampaknya dia sudah mengerti dan sudah siap!” ucap Laura yang membuat Rena mengalihkan pandangannya dan fokus melihat Sang suami.
Nathan yang jadi pusat perhatian pun hanya bisa tertawa cengengesan melihat istri dan Momy-nya menatap dirinya dengan heran.
Setelah berbicara dengan Laura, Nathan dan Rena kembali ke kamarnya. “sayang memang kita mau ke mana bulan madunya? Soalnya aku belum pernah pergi keluar daerah apalagi luar negeri!” ucap Rena jujur.
Tenang sayang, ada suamimu di sini, kamu tinggal ikut saja, atau apakah ada negara yang ingin kamu kunjungi? Nanti kita ke sana.” Ucap Nathan sembari mengecup tangan Rena.
“Hem, ke mana ya?! Sepertinya aku tidak punya impian, tapi aku paling suka dengan pemandangan, pemandangan apa pun itu, aku pasti suka,” ucap Rena sembari mengalunkan tangannya di leher Nathan lalu mengecupnya singkat.
__ADS_1
“Aku ke mana saja asal ada kamu sayang.” Ucap Rena dengan tersenyum dan langsung mencium pipi sang suami.
Nathan tak menyia-nyiakan kesempatan kali ini, baginya, tindakan Rena sudah menjadi lampu hijau untuknya, yang artinya dia bisa memulai perangnya kembali. Nathan menggendong tubuh Rena ke atas kasur, tubuhnya sudah polos tanpa sehelai benang pun, dirinya cepat-cepat mengungkung istrinya dan mulai meraba dan mencium seluruh tubuhnya mulai dari kepala, lalu turun ke bagian leher dan berhenti di 2 bukit yang sangat besar dan tinggi.
Nathan bermain-main di sana, layaknya seorang bayi yang sedang menyusu, menghisapnya dengan rakus sampai dia puas. Setelah puas bermain di gunung milik Sang istri, Nathan menyusuri perut rata istrinya menggunakan lidahnya, membuat Rena menggeliat karena geli, tak hanya lidahnya yang aktif, kini tangan kekarnya pun kini mulai bergerak dengan lincah menuju lembah milik Rena yang mulai basah karena rangsangan Nathan tadi.
Jemari Nathan menggesek-gesekkan dengan bibir bawah Rena yang membuatnya mengeluarkan suara laknatnya, “Aaaahhh, sa-say-sayaangg!!" Nathan tersenyum melihat Rena yang mulai menikmati permainannya, “Kau menyukainya?” tanya Nathan disela-sela ciumannya.
Dengan malu Rena menganggukkan kepalanya berulang dengan pelan, sungguh rasanya dia malu mengakuinya namun Rena harus jujur mengakui kehebatan suaminya.
“Ini belum puncaknya sayang, bersiaplah!” tutur Nathan dengan senyum seringai.
Dan benar saja, setelah mengatakannya, Rena dibuat teriak keenakan olehnya, “Hutan gundulnya dimainkan oleh Nathan dengan sangat lihai, yang membuat Rena menggeliat tak karuan, seprei yang tadinya rapi, kini tak berbentuk lagi karena berulang kali Rena menariknya saat merasakan kenikmatan yang sudah sampai di ubun-ubunnya.
Tidak seperti malam sebelumnya, kali ini mereka hanya melakukannya satu kali, namun dengan durasi yang sangat lama, oleh karena itu tadi Rena sudah menyerah dengan kekuatan Nathan yang tiada habisnya, padahal besok paginya mereka sudah harus berangkat ke bandara menuju tempat bulan madu mereka, negara yang belum Rena ketahui, tempat yang katanya akan membuat Rena bahagia.
Nathan menarik tubuh Rena hingga mereka tertidur dengan posisi berpelukan, menghirup aroma rambut istrinya setiap kali mau adalah rutinitas barunya setiap malam.
***
__ADS_1
Pagi harinya, mereka bersiap menuju Bandara, 2 koper sudah tersedia di dalam mobil yang akan membawa mereka ke Bandara, ada Momy Laura dan Ibu Rahma yang mengantar mereka berdua. Pesan-pesan sudah diberikan keduanya, terutama untuk Rena, agar dirinya bisa lebih agresif lagi dalam hal ranjang.
“’Kata orang, pria kalau sudah kenyang atas dan bawah, maka suami tak akan pernah jajan di luar’” itulah pesan dari Laura dan Rahma pada Rena.
Rena mengangguk pelan mendengarkan nasihat kedua ibunya, dia sangat bahagia karena akhirnya kebahagiaan juga bisa berpihak padanya, padahal dulu, Rena mengira Tuhan sudah tak adil padanya, dia mengambil kedua orang tuanya, hartanya pun di kuasai oleh keluarga ibu dan ayahnya, ditambah saat itu Nathan begitu membenci dirinya, namun Rena ternyata salah, ternyata Tuhan sudah mengatur waktu yang tepat untuknya , waktu untuk dirinya bahagia.
Dengan diberikan suami yang baik dan sangat mencintai dirinya, terlebih di anugerahi 2 ibu yang begitu menyayangi dirinya sepenuh hati.
Selama di dalam pesawat, keduanya tampak kian mesra. Jemari Nathan tak pernah melepaskan tautannya dari jemari Rena. Walau bukan pertama kalinya Rena menaiki pesawat, namun kali ini dengan nuansa yang berbeda dengan situasi pun yang berbeda pula. Ya, akhirnya Rena tahu tujuan yang akan mereka pergi berbulan madu, Kanada yang menjadi pilihan Nathan.
Kanada merupakan salah satu negara terbesar di dunia yang terletak di Benua Amerika bagian utara. Dikenal dengan keramahan penduduknya, Kanada memiliki hutan belantara yang sangat indah, Kanada juga memiliki pegunungan yang menjulang tinggi, danau yang tenang, dan hutan yang sangat menakjubkan. Semuanya itu menjadikan Kanada masuk ke dalam daftar negara terindah di dunia.
Bisa saja Nathan membawanya ke daerah Bali, namun dia ingin membawanya ke tempat dengan iklim dingin. Ya, dirinya memang sengaja memilih Kanada, selain karena pemandangannya, karena di Kanada saat ini sedang musim salju, jadi tak heran jika dirinya ingin membawa Rena ke negara ini, selain agar Rena merasakan musik dingin, dirinya juga ingin merealisasikan programnya agar setibanya di Indonesia, Rena sudah berbadan dua, alias dia sudah mengandung.
Jangan tanyakan alasan dirinya ingin cepat-cepat agar Rena hamil, sebab ide itu muncul dari ide jahil Laura, dia menyarankan agar membawa Rena ke tempat yang sedang bercuaca dingin agar mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar, agar mereka bisa fokus membuatkan cucu untuknya.
Sesampainya mereka di Kanada, mereka di jemput oleh sopir yang akan membawanya ke penginapan yang sudah di siapkan oleh Laura. Ya, semua perlengkapan sudah di atur sedemikian rupa oleh Bram hingga mereka berdua tinggal menikmati setiap pelayanan yang mereka dapatkan, dan hanya berfokus pada satu tujuan, yakni membuatkan cucu untuk Laura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sekian dan terima kasih, terima kasih untuk semua waktunya, perhatiannya, like, komen dan favoritnya untuk karyaku “SEKERTARIS GALAKKU” semoga selama kalian membacanya, kalian semua bahagia ya!!
Salam dariku, author nathasya90 🙏