Sekertaris Galakku

Sekertaris Galakku
Bab 29. Pernikahan Kontrak


__ADS_3

Rena tak habis pikir bagaimana mungkin sebuah pernikahan dibuat mainan olehnya.


"Apa bapak mabuk? Atau salah minum obat!! Ucap Rena kesal.


"Kenapa? Apa ada poin-poin yang kamu tidak setujui? Tanya menyelidik.


Sebenarnya bukan poin-poin yang ada didalam surat itu, namun karena kata pernikahan kontrak yang membuat Rena tidak habis pikir. "Iya, semuanya!!" Pekik Rena yang membuat Nathan kaget.


"Maksudmu apa? Bukannya disitu saya sudah membuat beberapa poin yang menguntungkan mu?" Ucap Nathan kesal.


"Atau... Jangan-jangan kamu.." Ucap Nathan namun terhenti saat Rena memotong Perkataannya.


"Jangan-jangan apa!! Pokoknya aku nggak setuju, titik!" Ucap Rena lalu beranjak dari duduknya dan keluar begitu saja dari ruangan Nathan.


"Apa-apaan itu!" Gerutu kesal Nathan saat Rena melenggang pergi, padahal masih ada yang ingin dibahasnya.


***


Disepanjang jalan menuju ruangannya, Rena tak henti-hentinya mengomel tak jelas. Hingga Bram yang berpapasan dengannya pun tak dilihatnya.


Sebenarnya saat Bram yang melihat Rena dari pintu lift ingin menyapanya namun niatnya itu diurungkannya saat melihat Rena marah-marah, entah dia marah pada siapa?!


"Aku harus bicara pada Mom dan Ibu hari ini." Gumam Rena. Yah dirinya harus membicarakan tentang pernikahannya dengan Nathan.


Sepulang kantor, Rena sudah membuat janji dengan Mom Laura. Setelah keluar dari ruangan Nathan, Rena langsung mengirimkan pesan chat untuk Mom Laura.


[Mom, bisakah kita bertemu saat Rena pulang kerja hari ini?]


[Tentu saja sayang, Mom akan menjemputmu dikantor. Ada hal yang penting ingin Mom sampaikan juga padamu!]


Dahi Rena berkerut saat membaca pesan balasan Mom Laura. "Hal penting apa? Kok malah aku yang penasaran sih!" Kesal Rena.

__ADS_1


"Hai, sayang!" Sapa Mom Laura saat Rena sudah masuk kedalam mobil.


"Hai, Mom. Balas Rena dengan mencium tangan Mom Laura lalu memeluk dengan erat.


Yeah, sudah beberapa hari ini dirinya tidak pernah bertemu lagi dengannya, ada rasa rindu dihatinya jika tak bertemu dengan wanita yang begitu baik dan menyayangi dirinya dengan tulus.


"Mom juga rindu padamu sayang," ucap Mom Laura yang seakan tahu yang dirasakan oleh Rena.


***


Restoran


Mereka berjalan masuk kedalam sebuah restoran mewah dan berkelas. Rena terkesima melihat ornamen yang terlihat wow dimatanya. Setelah mereka memesan makanan, tiba-tiba Mom Laura menggenggam tangan Rena yang memang dia letakkan diatas meja. Rena yang sedari tadi fokus melihat keindahan arsitektur restoran yang baru pertama kali dia kunjungi, dirinya terkejut saat menyadari tangannya digenggam. "Mom, ada apa?" Tanya Rena saat melihat tatapan mata Mom Laura.


"Nggak apa-apa sayang, Mom begitu menyayangimu sungguh!" Ucapnya tulus.


"Mom kenapa? Aku juga sayang sama Mom!" Ucap Rena yang langsung membalas genggaman tangan Mom Laura lalu mengelusnya.


Rena begitu terkejut dengan perkataan Mom Laura, entah mengapa lidahnya terasa kelu. Padahal hal ini juga yang ingin Rena bicarakan padanya, namun saat melihat tatapan mata Mom Laura, dirinya tak kuasa menolaknya.


Rena menghembuskan nafasnya pelan, baiklah, beri Rena waktu satu hari untuk berfikir. "Apakah bisa Mom?" Ucapnya. Sebenarnya, Rena ingin menolaknya secara halus namun dentah mengapa dirinya tak bisa berkata-kata.


"Baiklah, besok malam Mom tunggu jawabanmu, sekalian kita makan malam bersama dirumah, ajak juga Ibu Rahma." Ucap Mom yang diangguki Rena.


Tak lama makanan yang mereka pesan datang dan menyantapnya diiringan cerita dan gelak tawa keduanya.


***


Panti Asuhan


Rena melamun di pinggiran jendelanya, entah apa yang harus dia katakan besok. Andai saja Nathan menerima permintaan Mom nya tanpa embel-embel surat kontrak, mungkin Rena akan langsung menyetujuinya namun, setelah dia tahu bahwa Nathan bahkan sudah membuat surat kontrak dengan segala poin-poin penting didalamnya.

__ADS_1


Rena mengingat poin-poin yang terdapat didalam surat kontrak itu, memang tidak ada yang memberatkannya. Bahkan Nathan tidak akan menuntun dirinya di urus karena ada pelayan dan Bram yang akan mengurusnya, belum lagi dengan poin yang kedua, kalau Nathan tidak akan menyentuhnya selama dirinya tidak menginginkannya, dan poin terakhir adalah, dirinya akan tetap bertanggung jawab atas segala kebutuhan dan memberikannya fasilitas hanya dengan setuju dengan kontrak pernikahan yang dia tulis.


Lamunannya terhenti saat mendengar Ibu panti memanggilnya. "Rena.. kamu ngapain bertengger dijendela!" Goda Ibu panti yang melihat wajah sedih Rena.


"Yee, Ibu mah, emang Rena burung kakak tua apa!" Protes Rena.


"Hehe, ya kamu juga sih, ngapain bengong disitu. Ayo sini, duduk disamping Ibu." Titah Ibu panti sembari menepuk sisi kasur sampingnya.


"Iya bu, ada apa?" Jawab rena sembari melangkahkan kakinya menuju kasur.


"Nyonya Laura sudah menelepon Ibu soal makan malam besok, tapi Ibu sudah katakan kalau Ibu tidak bisa datang. Besok Ibu harus jaga adik-adikmu, karena mba Hani izin pulang ke kampungnya." Jelas Ibu yang diangguki Rena.


"Tapi Ibu restui kalian, Ibu tahu kalau ini memang terasa mendadak namun kalau Ibu perhatikan, Nak Nathan itu baik dan yang paling penting adalah, dia sangat menyayangi dan menghormati Nyonya Laura. Kata orang tua dulu nih ya, kalau kita ingin memilih suami, kitaharus lihat dulu bagaimana cara dia memperlakukan orang tuanya, jika baik, otomatis pada istri dan anak-anaknya nanti juga akan baik." Sambung Ibu yang memberikan nasihat pada Rena.


Rena akui untuk yamg satu itu, tapi apakah dia juga akan memperlakukan ku dengan baik? Di tempat kerja saja sudah nyebelin gitu, apa kabarnya kalau sudah jadi istrinya!! Bisa-bisa aku dijajah seperti negeriku." Ucapnya namun hanya alam hati. Tak mungkin bukan, dirinya menceritakan hal buruk tentang bos nya itu, bisa nggak enak hati nanti Mom Laura pada Ibu panti.


Rena memeluk Ibu panti yang audah dianggapnya sebagai Ibu kandungnya sendiri. "Terima kasih ya Bu, Rena sudah yakin dengan keputusan Rena besok." Tutir Rena yang dihadiahi kecupan di pucuk kepalanya.


***


Kediaman Mom Laura


"Iya sayang ya, Ibu Rahma tak bisa ikut kita makan malam hari ini." Ucap Mom Laura saat mengetahui alasan Ibunya tidak bisa hadir.


Suasana terasa sangat kaku dan dingin saat tidak ada obrolan yang berarti disela-sela acara makan malam bersama. Rena dan Nathan tampak diam dan tenang saat makan, begitupun dengan Mom Laura.


Bahkan Bram pun yang khusus datang karena diminta Nathan pun akhirnya bersedia datang, bukan datang untuk makan, namun dirinya datang karena mengantarkan surat kontrak yang sudah diperbaharui Nathan sebelumnya pun ikut diam.


"Oh iya, jadi apa kamu sudah putuskan sayang? Kalau Ibu Rahma, katanya dia setuju namun, tetap mengembalikan semua keputusannya kembali padamu," ucap Mom Laura.


"Jadi, apa jawabnmu?!" kali ini bukan Mom Laura yang berbicara, melainkan Nathan.

__ADS_1


***


__ADS_2