Sekertaris Galakku

Sekertaris Galakku
Bab 49. Nyonya Nathan Raharja


__ADS_3

“Pagi Momy,” sapa Rena.


“Pagi kesayanganku, bagaimana tidurmu? Nyenyak!” tanya Laura yang di angguki oleh Rena.


“Syukurlah, jadi kamu sudah siap untuk sore nanti?” Ucap Laura sembari tersenyum.


Rena tersenyum malu, dirinya tak menjawab pertanyaan dari Laura dan membuat Laura tergelak. “Rena, Rena... Masa iya sih masih malu saja, apa kabarmu nanti malam kalau masih malu begini.” Goda Laura yang membuat wajah Rena semakin memerah.


Nathan yang mendengarnya pun hanya tersenyum simpul. Nathan sangat bahagia karena calon istrinya adalah pilihan Momy-nya juga, padahal banyak orang terpecah karena pilihan anaknya untuk calon istri, begitu pun sebaliknya.


Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, sebentar lagi keduanya akan menikah. Rena pun sudah di rias sedemikian rupa oleh MUA terkenal, dengan dibantu Bu Ramlah dan pegawai dari butik langganan Laura. Rena memakai gaun yang sudah di pesan sebelumnya, begitu cantik dan anggunnya, riasan dan gaun pengantinnya pun sangat berpadu dengan sempurna, bak putri dongeng, Rena melangkah keluar menuju Altar pernikahan. Nathan sudah menunggunya dengan gagah, dengan memakai tuxedo yang sudah dia pilih waktu itu. Begitu serasi dengan bak seorang pangeran kerajaan yang menanti seorang putri cantik.


Nathan dan Rena mengucapkan janji pernikahannya dengan lancar, begitu pun sebaliknya. Akhirnya kata SAH keluar juga, mereka sudah resmi sebagai pasangan suami dan istri. Nathan tak sungkan mengecup bibir Rena, walau sebentar, namun mampu membuat wajah Rena bak udang rebus.


Mereka melangkah menuju di mana Laura dan Ramlah berada, mereka memberikan selamat untuk pernikahan keduanya, rasa haru sungguh kental di sana, untaian harapan dan doa tulus dari kedua ibu yang ada si hadapan mereka saat ini, terlebih saat Rena mengingat kedua orang tuanya yang sudah meninggal. “Harusnya ada Ayah yang mengantarku ke pelaminan, namun takdir berkata lain. Mereka pasti juga ikut merasa bahagia melihatku saat ini, ayah... Ibu... Rena rindu kalian, doakan Rena di sini, bisa bahagia bersama suami Rena dan bisa mengarungi bahtera rumah tangga yang indah dan bahagia.” Ucap Rena dalam hati, tanpa terasa, 1 tetes air mata pun jatuh tak tertahankan.


“Jangan menangis sayang, sekarang ada aku yang akan selalu ada untukmu, menemuimu dan mencintaimu.” Ucap Nathan, seakan tahu apa yang di pikirkan istrinya, sembari menghapus bekas air mata Rena yang masih tersisa di pipi putihnya.


Pesta pernikahan mereka berlangsung dengan hikmat, tenang dan damai. Walau hanya keluarga dan teman terdekat saja, namun bisa membuat acara sore ini begitu istimewa dan meriah.


Acara selesai pada pukul 10 malam, badan Rena sungguh sangat lelah dan terasa remuk, padahal tamu mereka hanya 500 orang saja. Namun karena keluarga besar Nathan banyak yang datang, jadi otomatis pun mereka datang semua, mereka sangat penasaran seperti apa wajah wanita yang begitu beruntung memiliki seorang suami yang tampan, baik, dan tentunya kaya raya, dan setelah mereka melihat Rena, mereka semuanya kagum dengan kecantikan yang terpancar di wajahnya.


Laura menyuruh Nathan dan Rena kembali ke dalam kamarnya terlebih dahulu untuk beristirahat, berhubung pesta mereka memang diadakan di sebuah hotel berbintang lima, jadi sangat cepat mereka bisa beristirahat. Sebelum naik ke atas, Laura membisikkan sesuatu di telinga Nathan, “Hati-hati kamu masukkan senjatamu, Rena itu anak perawan, jadi mainnya harus pelan-pelan, dan ya, jangan lupa pakai yang Momy sudah siapkan di dalam kopermu, biar Momy bisa segera menimang cucu.” Ucap Laura sembari menepuk bahu kiri Nathan dan berlalu menuju aula tempat pesta pernikahan Nathan dan Rena tadi. Ucapan Laura sontak membuat Nathan terkejut bukan main.


Nathan dan Rena akhirnya sampai di kamar yang sudah dipersiapkan oleh pihak hotel, saat memasuki kamar tersebut, aroma bunga begitu tercium, menguarkan aroma yang membuat mereka menjadi rileks.


“Kamu mandilah terlebih dahulu,” ucap Nathan gugup.

__ADS_1


“Bapak saja lebih dulu, aku mau membuka gaun ini dulu,” balas Rena.


“Baiklah.” Balas Nathan singkat sembari melangkah menuju kamar mandi.


Baru satu langkah dirinya berjalan, Rena kembali memanggilnya, “Pak,” panggilnya.


Nathan berhenti lalu berbalik ke arah Rena, “Ada apa?” tanyanya.


.l


“Hem,” ucapan Rena tertahan, membuat kening Nathan berkerut, “Anu Pak, apa bapak bisa tolong buka ritsleting gaunku? Aku kesulitan membukanya,” Kekeh Rena yang merasa canggung.


“Oh iya, sini.” Ucapnya sembari membantu Rena membuka gaunnya. Nathan cukup dibuat takjub melihat punggung mulus dan putih milik Rena, membuat dirinya kesusahan menelan salivanya sendiri.


Nathan terus menatap punggung Rena, tanpa dia sadari, ritsleting itu sudah sampai paling bawah, yang membuat Nathan lagi-lagi begitu berat menelan salivanya, serasa menekan biji kedongdong saja, sangat sulit bahkan hampir tak tertelan. “Sialan juga perancangnya, buat orang panas dingin saja,” umpatnya dalam hati.


Setelah membantu Rena, Nathan kembali menuju kamar mandi dan 15 menit kemudian, Nathan keluar dengan baju piamanya, terlihat segar dan sangat tampan, apa lagi dengan sisa air yang jatuh menetes dari rambutnya, makin membuat orang yang melihatnya pun akan meneteskan air liurnya.


Rena melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, cukup lama dirinya berada di dalam sana. Hingga Nathan mengetuk pintu kamar mandi.


Tok, tok..


“Rena, Ren, kamu sedang apa di sana?” tanya Nathan dengan gurat wajah cemas. Pasalnya Rena sudah hampir satu jam lamanya di dalam dan sampai sekarang belum keluar juga, Nathan takut terjadi sesuatu padanya di sana.


Tiba-tiba kepala Rena menyembul keluar, Rena terlihat cengengesan, dari wajahnya, terlihat ada yang sedang mengganggunya. “Kamu kenapa? Kenapa enggak keluar-keluar!” seru Nathan.


Rena terlihat malu mengatakannya hingga dengan terpaksa menarik tangan Rena dengan lembut, “Ayo keluar.”

__ADS_1


Betapa terkejutnya Nathan saat melihat Rena yang memakai lingerie seksi berwarna hitam, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Membuat Nathan tiba-tiba jadi salah tingkah.


"Maaf, Pak. Aku enggak tahu ini baju siapa, saat aku ingin memakai pakaianku, tiba-tiba semuanya enggak ada, jadi terpaksa aku memakai pakaian yang ada, tapi ini kenapa tipis begini ya!” ucap Rena polos, dirinya memang tak tahu menahu soal lingerie seperti ini.


"Cepatlah keluar, ada yang ingin aku katakan padamu.” Ucap Nathan yang langsung keluar dari kamar mandi yang menjadi satu dengan kamar waredrobe. “Semakin lama di sini, aku makin tak bisa mengontrol pusaka milikku nantinya,” gumam Nathan.


Akhirnya Rena memberanikan dirinya untuk keluar, walau dengan menutup bagian atas dan intinya yang terlihat menerawang. Rena segera naik ke atas kasur lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Ba-bapak mau bicara apa?” ucap Rena gugup. Dirinya baru kali ini berduaan dengan Nathan di atas tempat tidur. Biasanya mereka hanya sebatas pelukan saja, sungguh malam ini terasa sangat panas, padahal suhu kamarnya sudah standar kamar di hotel ini.


"Nah itu,” ucap Nathan tiba-tiba yang membuat Rena mengernyitkan dahinya. “Itu apa Pak?” ulang Rena. “Ya itu tadi yang kamu bilang, kita sudah menikah tapi kamu masih memanggilku dengan sebutan Bapak! Kalau orang dengar, nanti aku dikiranya bapak kamu lagi,” kesal Nathan.


“Jadi bapak mau di panggil apa?” tanya Rena.


Nathan terlihat berpikir, dia juga bingung ingin di panggil apa oleh Rena, sebab dirinya sampai detik ini belum memikirkan sebutan yang pas untuk Rena juga.


“Apa saja, asal bukan Pak atau Bapak,” jawab singkat Nathan.


Kali ini giliran Rena yang tampak berpikir, “Apakah Mas, Kakak, Abang atau...” Rena langsung menggelengkan kepalanya, begitu Kelu bibirnya mengucapkan panggilan yang belum sempat dia ucapkan.


“Kalau Mas, bagaimana?” ucap Rena sembari menatap Nathan.


“Boleh sih, tapi apa cocok denganku!” ucapnya, dan juga, Rayyan pun kamu panggil Mas bukan! Apa nanti enggak ke tukar?” sahut Nathan.


“Jadi aku harus panggil apa!” ucap Rena yang merasa serba salah.


“Bagaimana kalau aku panggil sa-say-yang!!” ucap Rena dengan cepat sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


“Nathan tersenyum melihat wajah wanita yang kini sudah menjadi Nyonya Nathan Raharja.


...****************...


__ADS_2