Sekertaris Galakku

Sekertaris Galakku
Bab 40. Ungkapan Perasaan


__ADS_3

Rena turun ke lantai bawah dengan tergesa-gesa, “Semoga enggak telat,” doanya. Namun sayang, mungkin Tuhan belum berpihak padanya, meja makan sudah kosong, bersih tanpa ada siapa pun di sana.


“Eh Non Rena, cari siapa?” tanya pelayan yang tadi membangunkannya. “Yang lain ke mana? Kok enggak ada? Katanya tadi lagi makan!” tanya Rena balik.


“Oh Tuan yang ganteng-ganteng itu ya! Tadi ... yang satu saya lihat keluar dan yang satunya lagi ada di halaman belakang vila ini, sepertinya lagi jalan-jalan. Non kalau mau makan, makan saja. Soalnya mereka sudah makan semua kok, katanya Sang Ratu masih lama turun jadi mereka makan terlebih dulu!” jelasnya, Kalau begitu saya pamit dulu Non, besok pagi saya akan datang lagi untuk membuatkan sarapan.” Pamitnya sembari berlalu menuju pintu belakang.


Rena menghela nafasnya, sepertinya aku akan kena semprot Pak Nathan lagi deh. Semoga yang pergi itu Pak Nathan,” ucap Rena dalam hati.


Setelah makan, Rena kembali ke atas kamar untuk mengambil ponsel miliknya yang tertinggal di atas meja rias. Namun baru beberapa langkah, dirinya berhenti saat mendengar suara bariton yang sangat dia kenal.


“Dari mana saja kamu?” ucap Nathan, ya suara bariton yang didengar Rena adalah Nathan.


“E-eh, anu Pak, tadi saya ketiduran setelah membereskan barang-barang saya,” jawab Rena dengan menunduk, dirinya sangat takut kena omelan Nathan.


“Oh...” jawab Nathan datar, dingin singkat dan padat. Lalu masuk ke dalam kamarnya.


Rena terperangah, “Hanya itu? Bukankah biasanya akan panjang ujungnya!” gumam Rena pelan. Di detik selanjutnya, Rena merasa lega, karena hari ini dia tidak akan kena omel untuk yang ketiga kalinya seperti minum obat yang 3 kali dalam sehari.


Terdengar suara ponsel miliknya dari luar, “Ponselku!” Ucap Rena sembari berlari kecil memasuki kamarnya.


“H-halo,” jawab Rena dengan nafas terengah-engah karena berlari tadi.


[Kenapa dengan nafas mu? Kamu dari mana? Apa kamu sudah sampai? Kenapa tidak memberikanku kabar, kau tahu Rena, aku sungguh khawatir padamu.]


Rena menghela nafasnya sebelum menjawab serentetan pertanyaan Rayyan padanya.

__ADS_1


“Maaf, Mas. Tadi aku ketiduran, ini baru saja selesai makan dan baru mau kabari Mas Rayyan, tapi keburu Mas yang lebih dulu telepon aku.” Jawab Rena yang berjalan menuju balkon vila ini sembari berdoa agar kebohongannya saat ini tidak dihitung Malaikat.


[Oh, Mas kira kamu kenapa-kenapa. Tapi syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Oh iya, ada yang ingin aku katakan padamu, tapi ....]


“Tapi, tapi apa Mas? Kok Mas kayak ragu begitu!” tanya Rena yang penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Rayyan padanya.


[Sebenarnya ada yang ingin aku katakan, tapi mungkin ini kejujuran yang bisa membuatmu membenciku. Tapi kalau aku mau melangkah ke depan, aku rasa aku harus jujur padamu juga tentang masa laluku.]


“Masa lalu?” batin Rena, “masa lalu yang seperti apa Mas!”


[Mas harap, nanti setelah kamu mendengar penjelasan ku, kamu tetap seperti ini padaku, kamu tetap menerimaku seperti saat ini tanpa menghakimi kesalahan yang pernah aku lakukan, walau itu tidak aku sengaja.]


“Iya Mas, Rena akan usahakan itu.” Balas Rena walau di dalam hatinya begitu penasaran dengan kebenaran yang akan diutarakan oleh Rayyan padanya.


[Aku akan mengatakannya saat kamu sudah di Kota A. Sebentar lagi aku akan balik ke sana, sebenarnya aku ingin sekali menemui mu di sana, tapi tadi dokter yang menggantikan tugasku tiba-tiba menelepon kalau dia ada operasi darurat jadi aku harus pulang untuk jadwal praktekku besok pagi.]


[Baiklah, sekarang kamu tidur, istirahatlah, besok aku akan menelepon mu kembali.]


Rena tersenyum saat sambungan teleponnya mati. “Sungguh beruntung wanita yang akan menjadi istrimu nanti Mas,” ucap Rena sembari menatap bintang-bintang kecil yang tersebar di langit yang gelap.


Tanpa Rena sadari, Nathan yang sudah sedari tadi berdiri di belakangnya. Ya, dia mendengar saat Rena memuji Rayyan. Nathan berdehem untuk mengurangi perasaannya yang entah mengapa sedikit terluka saat wanita yang sebentar yang akan menjadi istrinya memuji pria lain yang notabenenya adalah orang yang paling dia benci.


“Astaga, Pak Nathan!” Ucap Rena sembari memegang dadanya. Sejak kapan bapak di sini?” tanya Rena yang tidak menyadari kehadiran Nathan.


“Baru, baru saat kamu mengatakan kalau wanita yang akan menjadi istri dari Dokter Rayyan adalah wanita yang beruntung,” jawab Nathan sembari menatap mata Rena.

__ADS_1


Rena yang ditatap menjadi salah tingkah, dia tak ingin Nathan salah paham padanya.


“Maksud saya—ini tidak seperti yang bapak pikirkan. Biar saya jelaskan dulu,” ucap Rena yang melihat tatapan tajam Nathan padanya.


“Memangnya kamu tahu apa yang sedang aku pikirkan? Bukankah kamu hanya selalu memikirkan Dokter kesayanganmu itu!! sindir Nathan.


Saat Rena akan berbicara, Nathan langsung memotong perkataannya. “Saya rasa, kamu tahu batasan mu dan saya harap kamu bisa menjaga nama baik saya, jangan sampai kamu membuat hati Momy kecewa.” Ucap Nathan yang ingin beranjak pergi dari sana, namun dengan cepat Rena memeluknya dari belakang.


Hening, 1 detik, 2 detik, 3 detik hingga 1 menit lamanya tak ada yang bersuara, hanya suara angin yang menderu yang terdengar di telinga.


“Aku tahu bapak tak mempunyai rasa apa pun padaku, tapi bisakah bapak bersikap baik padaku? Tidak banyak yang aku minta bukan!” ucap Rena lirih. “mas Rayyan memang menawarkan ku sebuah hati yang bisa aku singgah yang di dalamnya begitu banyak kasih sayang dan cinta yang akan tercurah untukku. Namun entah mengapa hatiku hanya terpaut pada satu pria saja, pria yang tak pernah bisa diraih, pria yang selalu menyakiti perasaanku, pria yang tak pernah melihatku.” Ucap Rena yang semakin mengeratkan pelukannya. Dadanya bergemuruh bertanda sedang menahan tangisnya agar tak pecah.


Rena sangat kaget saat merasakan tangannya digenggam oleh Nathan. Terdengar suara helaan nafasnya yang berat, entah berapa kali Rena mendengarnya. Sampai tiba saat Nathan akhirnya mengeluarkan suaranya.


“Maaf,” satu kata itu cukup membuat air mata yang sedari tadi ditahan Rena akhirnya luruh. Nathan membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan pelukan Rena padanya, Nathan mengangkat wajah Rena yang mungil dan menghapus jejak air mata yang masih tersisa di pipi mulus Rena.


“Maafkan aku. Aku bukan pria yang ekspresif, yang bisa mengatakan semua perasaanku padamu. Aku adalah aku, beginilah aku. Seperti yang kamu bilang, aku datar, dingin dan ya aku mengakui itu, selama ini mungkin aku memang salah karena tidak peka dengan perasaanmu, tak pernah mengungkapkan perasaanku padamu, tapi jujur. Aku selalu melihatmu, aku tidak sejahat yang kau pikirkan.” Ucap Nathan yang kini membalas pelukan Rena lebih erat dari sebelumnya.


Rena yang malu, langsung membalikkan tubuhnya menghadap langit. Wajahnya berubah menjadi merah, sungguh dia berharap ini bukan mimpi. Bagaimana bisa seorang Nathan yang dia kenal bisa berbicara lembut seperti tadi, “Benarkah ini bukan mimpi? Jika memang mimpi, kumohon Tuhan agar aku tak terbangun! Doa Rena dalam hati.


Nathan tertawa kecil melihat tingkah Rena yang sedang malu. Nathan menarik Rena ke dalam pelukannya. Tubuh Nathan yang lebih tinggi dan lebih besar dari Rena, membuat tubuhnya bisa masuk ke dalam pelukan Nathan lebih dalam.


Dan pada akhirnya, mereka bersama-sama melihat pemandangan langit malam dengan hati yang lega.


Lega karena sudah mengutarakan isi hati mereka masing-masing.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2