Sekertaris Galakku

Sekertaris Galakku
Bab 45. Rayyan dan Rena


__ADS_3

Laura dan Mery saling bertatapan, mereka takut kalau mereka akan saling adu jotos kembali seperti dulu. Namun perkiraan mereka berdua salah, Nathan melepas genggaman tangan Rayyan padanya lalu berkata padanya, “Pergilah, selesaikan semuanya hari ini, sebab tak ada hari esok lagi, kami akan segera menikah,” ucapnya yang membuat Rayyan, Laura dan Mery tersenyum lebar mendengar penuturan Nathan yang terlihat dewasa dalam menyikapi masalah, tak seperti 5 tahun yang lalu.


Nathan melihat kedua wanita yang sangat dihormatinya lalu tersenyum. “Apa ini yang kalian inginkan, kami sudah berbaikan dan dirimu akan segera memiliki menantu!!” ucap Nathan dingin yang membuat kedua wanita paruh baya itu tertawa sembari adu tos bersama.


“Kak, akhirnya!” Ucap Mery lega sembari memeluk Laura dengan erat, bebannya selama ini terasa lenyap begitu saja. Sedang Laura langsung berhamburan memeluk anaknya yang terlihat sendu saat melihatnya berpelukan dengan Mery.


Di luar,


Tampak Rena sedang menunggu taksi yang akan membawanya kembali ke kantor. Ya, meskipun hatinya sakit dan ingin menangis, tapi dirinya tak ingin ada yang melihatnya. Mungkin di ruangan pribadinyalah dirinya bisa menuangkan segala perasaannya.


Saat akan memasuki taksi, tangan Rena dicekal oleh seseorang. Rena berbalik, “Mas Rayyan! Kenapa ada di sini? Aku mohon Mas, selesaikan masalah kalian dulu, aku tak mau menjadi duri dalam hubungan kalian.” Ucap sembari menepis tangan Rayyan lalu masuk ke dalam taksi. Bukannya berhenti, Rayyan malah ikut masuk ke dalam taksi bersamanya.


“Mas, apa-apaan sih, kenapa malah masuk juga?” kaget Rena saat melihat Rayyan sudah duduk di sampingnya.


“Ren, aku mohon, dengarkan dulu penjelasanku,” ucapnya sembari menggenggam tangan Rena.


“Cukup Mas, selama ini kalian berdua sudah membohongiku. Sudah berbulan-bulan lamanya kita mengenal dan ternyata kalian....” ucap Rena tak terhenti, dirinya tak sanggup lagi bicara.

__ADS_1


“Pak, antarkan kami ke taman di Jalan Mawar,” ucap Rayyan yang memberikan alamat tujuannya pada sopir taksi.


“Kita mau ke mana, Mas? Aku sudah cukup mendengar semua perkataan dari Bibi Mery dan Momy Laura.


“Kita harus bicara, aku harus menjelaskannya padamu, jangan sampai kau menganggapku sengaja membohongimu selama ini,” ucap Rayyan menatap mata Rena.


Sesampainya mereka di taman,


Rayyan menarik lembut tangan Rena dan mendudukkannya di bangku taman. Suasananya begitu asri dan tampak hijau sepanjang mata memandang, sangat cocok di jadikan tempat bercerita. “Ren, seperti yang Mas katakan sebelumnya di telepon malam itu, ada hak yang ingin Mas katakan, dan inilah yang sebenarnya yang ingin aku katakan tapi entah mengapa Momy-ku dan Bibi Laura mengatur semua pertemuan ini tanpa aku ketahui sebelumnya, harusnya hari ini aku akan memintamu untuk bertemu besok siang, tapi nasi sudah menjadi bubur, sebelum aku katakan yang sebenarnya padamu terlebih dahulu, kamu sudah mendengarnya dari Bibi dan momy-ku,” desah Rayyan.


Kalau untuk masalahnya sendiri, aku rasa kamu sudah tahu semuanya, jadi tak perlu lagi aku ceritakan di sini. Intinya, kami yang telah di permainkan oleh Kemala waktu itu, curahan cinta yang diberikannya padaku ternyata juga dia berikan pada Nathan tanpa sepengetahuanku. Jujur, kami jarang bisa bersama, aku terlalu sibuk dengan profesiku sebagai dokter kala itu, salahku juga karena tak pandai mengatur waktu hingga Mala, begitu panggilannya, bermain-main dengan sepupuku sendiri, yakni Nathan.


Ternyata Momy dan Bibi Laura sudah mengetahui semua kebusukan Mala, maka dari itu, dia melarang Nathan berhubungan dengan Mala, namun sayang karena rasa cintanya itu, membutakan matanya hingga dirinya percaya dengan apa yang dikatakan Mala, dia memfitnahku, dia mengatakan kalau aku yang merayunya dan memaksanya. Setelah dari situ, aku memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Mala sejak itu. Aku pergi dari kota A, bisa dibilang juga sebagai pelarian untuk menghindari Mala dan menghindari pertengkaran dengan Nathan nantinya.” Rayyan menghela nafasnya beratnya, rasanya sangat lega saat dirinya bisa mengatakan semua yang selama ini dia pendam.


Rena menyimak dan memperhatikan dengan saksama penjelasan Rayyan padanya. Ternyata kesalahpahaman seperti ini bisa sampai 5 tahun lamanya dan baru sekarang bisa di selesaikan!” ucap Rena, sungguh dia tak mengerti dengan jalan pikiran Nathan dan Rayyan, memang benar kata pepatah, ‘cinta itu membuat orang buta, ibarat tai pun menjadi rasa coklat’” batin Rena menggelengkan kepalanya pelan.


“Apa yang kau pikirkan?” ucapnya saat melihat reaksi Rena yang tampak datar saja saat mendengar penuturannya. “Tidak apa-apa hanya saja aku bingung pada kalian berdua, kalian sudah tahu kalau sudah diperdaya seorang wanita, namun masih juga menyiksa diri kalian masing-masing. Pantas saja, Bibi Mery dan Momy Laura begitu ingin mempertemukan kalian secara langsung agar bisa berbicara dari hati ke hati secara langsung. Ck’ dasar pria, egonya sungguh di atas langit,” ujar Rena dengan senyum mengejek.

__ADS_1


“Bukannya sama saja ya dengan wanita! Kalian juga para wanita punya gengsi yang tinggi melebihi ego para pria,” ucap Rayyan yang membalas ejekan Rena, dan setelah itu, mereka tertawa bersama-sama layaknya tak pernah ada masalah di antara mereka berdua.


Rayyan menatap wajah cantik Rena, ini mungkin yang terakhir kalinya dia bisa menatapnya secara langsung, lama dan intens. “Jadi ... kalian akan segera menikah?”


“Menikah?” ulang Rena, “entah, aku bingung dengan sepupumu itu, dia suka berubah-ubah, kadang hangat, kadang juga dingin seperti es. Apa jadinya perkawinanku nanti kalau dia saja masih datar padaku, sepertinya dia terpaksa menikah denganku,” ucap Rena sembari tertawa. Rayyan bukan tidak melihat kecemasan yang dirasakan oleh Rena, tapi dia tahu, sudah ada rasa di hati Nathan saat ini, namun belum kuat saja. Dan itu karena pengalaman cintanya yang pertama tidak berjalan mulus bahkan tragis.


“Aku yakin, Nathan pasti mencintaimu,” ucap Rayyan memberikan semangat pada Rena, walau di dalam hatinya terasa sakit karena harus merelakan wanita yang dia cintai, wanita yang membuatnya tersihir saat pertama kali dirinya bertemu.


“Andai waktu bisa di putar, saat kita bertemu pertama kali, aku akan langsung melamarmu, menjadikanmu istri dan ibu dari anak-anakku kelak, yang menemaniku di saat aku sehat dan di saat tuaku nanti, namun sayang, takdir tidak berpihak padaku. Jalan yang kita jalani berbeda hingga kita tak bertemu di ujung yang sama, inginku salahkan takdir namun apalah dayaku ini, sedikit lagi kau sudah akan menjadi bagian dari hidup Nathan.” Gumam Rayyan pelan yang masih fokus melihat mata indah indah, mata yang saat pertama kali dia tatap dan saat itu juga dirinya langsung jatuh hati padanya.


“Mas kenapa? Ada yang salah denganku!” tanya Rena saat melihat Rayyan terus menatapnya dan mendapatkan geleng-an kepala dari Rayyan sebagai jawaban dari pertanyaannya.


“Ya sudah, yuk kita balik, aku harus kembali ke kantor. Pasti Pak Nathan juga sudah kembali ke kantor hari ini,” ucap Rena yang mulai melangkahkan kakinya, namun secepat kilat Rayyan menahan dan memeluk Rena dari belakang saat Rena sudah berbalik. “Mas, apa yang kau lakukan? Tidak enak jika dilihat orang lain,” ucap Rena yang merasa kurang nyaman dengan posisinya saat ini.


“Aku mohon, sebentar saja Ren! ucap Rayyan lirih, “ini untuk yang terakhir kalinya aku memelukmu, merasakan aroma tubuhmu khas.” batinnya.


Akhirnya Rena diam, merasakan dekapan hangat Rayyan padanya untuk terakhir kalinya. Jujur di hati kecilnya, ada rasa untuknya, namun untuk rasa cinta, hanya untuk Nathan. Mungkin rasa untuk Rayyan adalah rasa nyaman yang Rena rasakan karena selama ini, Rayyan begitu baik, perhatian dan lembut padanya. Tapi berbeda dengan Nathan, bukan hanya rasa nyaman tapi juga ada getaran yang menjalar di relung hatinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2