
“Sayang, ayo bangun dulu, aku lapar banget.” Ucap Rena sembari mengguncang bahu Nathan pelan.
Terdengar suara helaan nafas Nathan dan tak lama kedua netranya terbuka lalu tersenyum. Dia memandang wanita yang ada di hadapannya saat ini, wanita yang sudah resmi sebagai istrinya, wanita yang sudah membuatnya kembali percaya cinta dan wanita yang sudah membuatnya merasakan kenikmatan dunia yang hakiki.
“Ada apa?” tanya Nathan saat melihat Rena mengerucutkan bibirnya.
“Aku lapar sayang, sejak semalam aku belum makan!” Protes Rena, karena semalam memang Nathan tak henti-hentinya menghujam senjatanya ke lubang gua milik Rena tanpa memberikan jeda untuknya mengisi perutnya.
Bukannya bangun, Nathan malah menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya kembali dan berkata padanya, “Jangan buat bibirmu seperti itu, yang ada bukan kamu yang makan, tapi aku yang akan memakanmu terlebih dahulu.” Ucap Nathan sembari mengecup bibir Rena.
Rena menjauhkan kepalanya dengan cepat, “Ih, apaan sih. Aku benar lapar, kalau mau lanjut perangnya, biar kita isi perut dulu, biar ada tenaganya sayang.” goda Rena sembari memainkan jari jemarinya di wajah tampan Nathan.
Nathan tampak mengerang, baru juga di elus, adiknya yang di bawah sana sudah kembali terbangun. Dengan cepat dirinya membalikkan tubuhnya dan kini dengan posisi dirinya sudah mengungkung tubuh istrinya, “Kau harus tanggung, tidurkan dia dulu, setelah itu, baru aku memberikanmu izin turun makan.” Ucap Nathan sembari menarik tangan Rena dan menempelkannya pada adiknya yang terlihat sudah tegak lurus.
Mata Rena membulat, “Ya ampun, kerja rodi lagi aku kalau begini,” ucap Rena dalam hati.
Tanpa menunggu aba-aba dari sang suami, tangan Rena kini sudah mulai mengurut adik Nathan di bawah sana, yang membuat si empunya mengerang.
Tak lama Rena bermain-main dengan benda tumpul itu, Nathan kini mulai memulai kembali aksinya, entah mengapa tubuh Rena begitu membuatnya candu. Dengan nafas yang memburu, keduanya kembali menghunjam kepemilikan mereka satu sama lain, yang membuat keduanya mengeluarkan suara merdu yang mengisi seluruh kamarnya. Untung saja Nathan sudah meminta Bram untuk memilih kamar yang kedap suara, hingga tak membuat suara seksi Rena tak terdengar orang lain.
“Aahh.. aku mau keluar sayang!” Racau Rena yang sudah merasakan ada cairan yang mendesak keluar.
“Tahan sebentar sayang, aku juga sebentar lagi akan keluar,” ucap Nathan yang masih memompa tubuhnya di atas tubuh Rena dengan tempo yang semakin cepat hingga membuatnya ambruk di atas tubuh Sang Istri, “Aaahhhhh....”
__ADS_1
***
Setelah membersihkan diri di kamar mandi, Rena dan Nathan akhirnya sarapan pagi, namun mereka tidak turun ke bawah, melainkan meminta pada FO untuk membawakan mereka sarapan di kamar. Dan tak lama pun makanan yang mereka pesan akhirnya datang yang di bawa langsung oleh beberapa waiters.
Rena makan dengan lahap, karena memang dirinya begitu kelaparan. Tenaganya sudah habis karena harus mengimbangi Sang Suami yang begitu kuat dan tak lelang menghunjam miliknya terus menerus. Hingga saat akan mandi saja, senjata Nathan pun kembali terbangun, namun untung saja Nathan mau bersabar hingga Rena bisa bernafas dengan tenang saat suaminya berkata, “Untuk kali ini biar aku yang membuatnya tidur, makanlah yang banyak nanti, agar nantinya kamu punya cukup tenaga menerima kenikmatan yang akan aku berikan padamu.”
Setelah mereka sarapan, Nathan meminta izin pada Rena untuk menemui Bram di bawah karena harus mengurus beberapa hal penting tentang perusahaannya. Rena masih setia di atas tempat tidur, jangan tanyakan kenapa, sebab itu adalah amanah dari suaminya, dia tak di ijin kan turun dari tempat tidur. Rena membaringkan tubuhnya dengan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga hanya memperlihatkan kepalanya saja. Rena masih asyik menonton film drama Korea yang sedang di gilai banyak wanita, termasuk dirinya.
Wajah pemeran itu sangat tampan hingga membuatnya sedikit menjerit tatkala melihat adegan mereka saat Sang pria mencium bibir wanita yang di cintainya setelah lama mereka berpisah. Tanpa Rena sadari, kelakuannya yang menjerit dan tertawa geli saat melihat adegan romantis film yang dia tonton pun di perhatikan oleh Nathan.
Nathan tersenyum geli melihat istrinya tersipu malu sendiri dan terkadang menutup wajahnya dengan selimut saat melihat adegan romantis yang membuat Rena bertingkah sangat lucu.
Nathan berdehem sembari berjalan menuju ranjang besar yang semalam sedikit bergoyang dibuatnya. “Ehem,” ucapnya sembari menatap istrinya yang terlihat kaget karena melihat Nathan sudah berada di hadapannya.
“Bagaimana kau bisa menyadari suamimu masuk kalau perhatian kamu itu ada pada pria itu!” sahut Nathan sembari naik ke tempat tidur lalu berbaring dengan posisi memunggungi Rena. Dirinya sengaja mengatakan hal itu pada Rena, dia ingin melihat reaksi Rena seperti apa, apakah dia akan cuek dan marah atau sebaliknya, dia malah akan membujuknya.
Rena tersenyum mendengar gerutu Nathan padanya, artinya dia sangat mencintai dirinya karena cemburu. Dengan cepat Rena mematikan TV yang sedang menayangkan film favoritnya dan ikut berbaring di samping suaminya. Rena berinisiatif untuk merayu Nathan agar tidak marah padanya, Rena menyusupkan wajahnya ke punggung Nathan lalu memeluknya dengan erat lalu berkata padanya, “Maafkan aku, aku hanya menontonnya karena aku begitu bosan berada di dalam kamar sendirian tadi.”
Nathan tersenyum lebar mendengar perkataan Rena, namun dirinya masih mau menguji Rena, bagaimana cara Rena membujuknya ketika dalam mode merajuk.
Rena mencoba lagi, dia tak ingin karena masalah sepele begini dirinya harus bertengkar. Maafkan aku ya, please!! sayang balik dong, kok belakangi aku, janji deh, apa pun keinginanmu, pasti akan aku kabulkan, tapi jangan merajuk lagi ya!” ucap Rena dengan suara manja, “katanya habis sarapan mau itu lagi,” ucapnya dengan malu-malu.
Nathan yang mendengarnya pun dengan cepat berbalik ke arah Rena, yang membuat Rena menahan tawanya.
__ADS_1
“Ya Tuhan, ternyata kata ajaibnya cukup kata ‘ITU LAGI’,” ucap Rena sembari menghela nafasnya pelan.
“Benar ya, kamu janji kan akan menuruti semua mauku!!” ucapnya bersemangat, “Kalau begitu kita main lagi yuk!! Setelah itu kita ke kamar Momy, katanya tadi dia menyuruh kita ke kamarnya segera, ayo cepat sebelum Momy ke mari dan mengganggu kita.” Ucap Nathan yang langsung menutup seluruh tubuh mereka berdua dengan selimut yang menutupi tubuh polos mereka saat ini, tak kelihatan apa yang mereka kerjakan di dalam sana, hanya bunyi decitan ranjang yang terdengar serta selimut yang terlihat bergerak seperti sebuah ombak yang sedang bergulung-gulung.
Setelah perangnya selesai, Nathan dan Rena sedang berjalan menuju kamar Laura yang berada satu lantai di atas kamar mereka.
Tok, tok..
“Ayo masuk,” ucap Laura saat membuka pintu kamarnya,”
“Ada apa Momy menyuruh kami datang?” tanya Nathan.
“Ini buat kalian, ini hadiah perkawinan kalian dari Momy dan Ibu Rahma.” Ucap Laura sembari memberikan sebuah amplop pada Rena.
“Ini apa Momy?” tanya Rena, pasalnya dia tak menginginkan apa-apa lagi, baginya cukup dengan dia memiliki cinta Nathan, mendapatkan kasih sayang dari kedua Ibu sambungnya.
“Hadiah ini tak gratis asal kalian tahu,” ucap Laura seringai.
Nathan dan Rena saling menatap, bertanya sebenarnya apa yang ada di dalam amplop tersebut. “Maksudnya apa Mom? Enggak usah bercanda deh,” ucap Nathan yang masih bingung dengan rencana apa yang sedang di susun oleh Laura.
“Bukalah, nanti kalian juga mengerti,” ucap Laura tersenyum.
Akhirnya Rena membuka amplop yang sedari tadi dia pegang, “Tiket!!” ucap Rena dan Nathan bersamaan sembari menatap Laura yang nampak tersenyum.
__ADS_1
***