Sekertaris Galakku

Sekertaris Galakku
Bab 22. Sakit


__ADS_3

Dia tidak menyangka nasib Rena hampir sama menyedihkan dengan dirinya namun dia masih terbilang beruntung karena dirinya masih memiliki Mom Laura yang menjadi sandaran baginya disaat dirinya bersedih hati.


Lama Nathan dengan pikirannya sendiri, sampai tersadar dengan lamunannya saat Mom Laura menarik tangannya keluar dari ruangannya. "Ayo cepat, iku sama Mom." Ucapnya.


"Iya, Mom, tapi kita mau kemana? Masih ada laporan yang harus Nathan periksa," jelas Nathan.


"Ada, Bram disini," jawab Mom Laura.


"Iyakan, Bram! Kamu bisa kan, bantu Nathan menyelesaikan laporannya hari ini." Sambung Mom Laura dengan penuh penekanan disetiap katanya.


Bram ingung, dua orang ihadapannya aat ini adalah orang yang sudah berjasa di kehidupannya dan merupakan orang yang paling penting di dalam hidupnya, setelah kematian orang tuanya, Bram tinggal bersama Mom Laura dan Nathan setelah Nathan memaksa dirinya untuk tinggal dirumahnya, awalnya hanya beralaskan satu dua hari, namun tak terasa sudah puluhan tahun dirinya tinggal bersama.


Jadi tidak heran jika Bram begitu menghormati dan memuliakan keluarga Raharja, terutama Mom Laura yang begitu menyayangi dirinya seperti Nathan tanpa membeda-bedakan di antara mereka berdua.


"Maaf, Tuan. Untuk kali ini aku setuju dengan Mom Laura," Ucap Bram dalam hati sembari menundukkan kepalanya saat Nathan menatapnya.


Didalam Mobil


"Jalan, Pak." Ucap Mom Laura setelah Sang supir masuk ke dalam mobil.


"Iya, Nya. " Jawabnya.


"Mom, sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Nathan.


"Aishh, sudah kamu diam saja dan duduklah dengan tenang." Ucap Mom Laura.


"Sebenarnya Mom mau membawaku kemana?" Tanya Nathan dalam hati.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya mereka sampai juga di Panti Asuhan tempat Rena tinggal.


"Hah, bukankah ini panti asuhan tempat dia tinggal!" Batinnya.


"Mom, kenapa kita kesini?" Tanya Nathan.

__ADS_1


"Kan kita mau jenguk Rena, sekalian kamu harus meminta maaf. Karena dirimu, dia jadi sakit begini." Omel Mom Laura.


Nathan hanya bisa menghela nafasnya pelan, karena tidak mungkin dirinya menolak permintaan Mom nya. "Yuk, masuk." Ucap Mom Laura sembari menarik lengan Nathan.


"Iya, Mom. Tapi hanya sebentar, karena Natham masih banyak pekerjaan di kantor." Ucap Nathan dingin.


"Terserah kamu saja, intinya kamu harus meminta maaf pada Rena, karena sifat kekanak-kanakan mu keluar bukan diwaktu yang tepat!" Ucap Mom Laura tak kalah tegas.


Di Panti Asuhan


"Permisi, Ibu Rahma." Ucap Mom Laura yang sebelumnya sudah menelepon Ibu Panti tentang kedatangannya bersama Sang anak.


"Wah, Nyonya Laura sudah datang rupanya, yuk masuk Nyonya." Ucap Ibu Rahma, namun setelah melihat orang yang berada dibelakang Nyonya Laura, Ibu Panti menjadi sangat terkejut. "Tuan Nathan! benar bukan, anda Tuan Nathan?" Sambungnya.


"Iya, Bu. Senang melihat anda kembali." Ucap Nathan.


Jadi yang Nyonya Laura maksud mau bawa anak itu, itu Tuan Nathan?!" Ucap dan dibalas oleh kekehan Nathan.


"Jadi, keadaannya sekarang bagaimana, Bu. Apakah dia sudah minum obat?! Ucap Mom Laura.


"Mari kita ke kamar Rena," ajak Ibu pada Nyonya Laura.


"Yuk sayang!! Ajak Mom Laura sembari merangkul lengan anaknya.


Tok..tok..tok


"Ren, Rena! Ada Nyonya Laura, Ibu masuk ya!" Ucap Ibu panti sembari mendorong pelan pintu kamar Rena.


Ibu panti dan Mom Laura berjalan mendekat dimana Rena sedang tertidur. Dan, Nathan, dia masih tak bergeming di depan pintu masuk kamar Rena. Dirinya hanya memandang dari jauh, namun dirinya bisa melihat wajah pucat Rena yang sedang tertidur, sungguh damai wajahnya.


Berbeda saat dia aktif, sifatnya berubah-ubah, kadang baik dan kadang juga super galak. Tapi entah mengapa, Nathan merasa dia hanya galak padanya, sebab beberapa kali dia melihat cara memperlakukan orang lain, sangat ramah.


Mom Laura membelai lembut kepala Rena sembari berkata padanya "sayang, Mom sudah datang kesini, kamu cepat sembuh ya! Mom sedih melihatmu terbaring lemah seperti ini." Lirih Mom Laura, yang dapat didengar oleh Nathan.

__ADS_1


"Apa yang membuat mu begitu spesial, hingga membuat Mom ku begitu menyayangimu." Tanya Nathan dalam hati sembari melihat Mom Laura membelai lembut rambut Rena.


Rena tersenyum, dia bermimpi saat ini dirinya sedang bertemu dengan orang tuanya, Sang Ibu sedang membelai rambutnya sambil berkata pada dirinya agar cepat sembuh dan dirinya harus kuat dalam menjalani kehidupannya. "Kamu akan bahagia, Nak bersama dengan orang yang ada di sampingmu." Ucapnya sembari mengecup kening Rena yang dengan bercsamaan Rena membuka kedua matanya, orang yang pertama kali yang dilihatnya adalah Mom Laura dengan ekspresi wajah sesih dan cemas.


"Mom..." Ucap Rena dengan suara lirihnya.


"Ya sayang, kamu sudah bangun? Bagaimana perasaan mu sekarang?!" Tanya Mom Laura yang membantu Rena yang ingin bangun.


"Rena baik Mom, sudah jauh lebih baik setelah minum obat dari dokter tadi." Ucap Rena.


"Maafkan Mom ya sayang, karena anaknya Mom, kamu jadi sakit begini!" Sesal Mom laura sembari melirik ke arah Nathan. Rena yang melihatnya pun menjadi tidak enak hati.


"Nggak apa-apa kok, Mom. Lagian, aku juga yang minta pada Pak Bram menurunkan ku dijalan, awalnya malah Pak Nathan melarang namun Rena tetap bersikeras karena ada keperluan mendesak, eh ternyata di jalan itu memang sangat sulit mencari taksi atau semacamnya hehe." Bohong Rena, dia tidak tahu kalau disana ada sepasang telinga yang mendengar kebohongan yang di katakan Rena pada Mom nya.


"Dia kenapa? Kenapa berbohong? Apakah dia mau mencari simpati Mom? Atau diriku?!" Ucapnya dalam hati.


"Heem," deheman Nathan membuat Rena sedikit kaget, saat melihat Nathan ada di hadapannya saat ini.


"Sejak kapan dia ada disini? Dan, untuk apa?" Pikirnya.


"Kalau begitu, Mom keluar sebentar ya. Mom ambilkan buah dulu, nanti Mom kembali lagi." Ucapnya sembari menatap tajam Nathan.


Nathan yang sudah tahu arti tatapan Sang Mom pun hanya menjawab singkat pada Mom nya "Iya, Mom. Tenanglah." Jawabnya pelan.


Nathan mencoba menetralkan perasaannya saat berada dihadapan Rena, antara malu dan gengsi untuk meminta maaf pun tak terelakan. Nathan kembali berdehem untuk mengurangi perasaan kikuknya, "Ma-maafkan aku." Ucap Nathan cepat, padat dan sangat singkat.


Rena sedikit kaget saat mendengar perkataan maaf Nathan padanya. "Iy-yaa, Tuan. Saya maafkan!" Ucap Rena dengan singkat.


"Sebenarnya bukan salah saya 100% bukan, yang membuat kamu jatuh sakit," ucap Nathan dengan melenggang kearah jendela.


"Kalau kamu mau salahkan, salahkan Tuhan karena dia menurunkan hujan tepat saat kamu tutun dari mobil." Sambung Nathan.


Rena yang mendengar perkataan Nathan, bukannya menjadi mencair, namun makin membenci Nathan. "Dasar manusia nggak da akhlaknya!! Ucap Rena dengan wajah merahnya yang sedang menahan rasa marahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2