
“Cukup!! Kamu kenapa sih Nathan? Biarkan saja kenapa sih, dia pergi. Toh benar kan kata Kak Rayyan. Besok baru dia akan bekerja padamu, jadi biarkan dia pergi bersamanya malam ini,” ujar Siska yang sangat bosan melihat pertengkaran keduanya.
“Lebih baik kita segera bersiap lalu ke pesta itu juga bersama-sama,” ucap Siska yang kini menggandeng lengan Nathan. Nathan menyentak tangan Siska dengan kasar dan berkata pada Siska , “Aku tidak pergi bersamamu, sudah dari tadi saya katakan padamu, dan ya mungkin sebagai atasan saya tidak berhak, tapi apakah sebagai calon suami saya tidak berhak pergi bersama dengan calon istriku!!”
Semua masih tercengang mendengar pernyataan Nathan, tak terkecuali Rena dan Bram. Mereka tak menyangka kalau Nathan akan jujur pada yang lainnya. “Dia bilang harus merahasiakan hal ini dari semua orang? Tapi kok dia malah beritahu orang lain!” ucap Rena dalam hati.
Genggaman tangan Rayyan seketika lepas tatkala mendengar perkataan Nathan sepupunya. “Kenapa ini harus terulang kembali, dan kenapa aku selalu kalah di awal start di saat aku baru memulainya!!” pekik Rayyan dalam hati.
Sedangkan Siska, jangan ditanyakan lagi. Dirinya sudah sangat kesal dengan Nathan. Apakah dirinya harus kalah untuk yang kedua kalinya? Dulu Kemala, sekarang Renata! Sungguh sial nasib percintaanku!! Pekik Siska dalam hati sembari melenggang pergi dan memilih menaiki lift yang di sebelahnya menuju kamarnya, sedang Rayyan entah sudah pergi ke mana.
Nathan melepas genggaman tangannya pada Rena. Dirinya kembali lagi pada mode dingin dan datarnya, “Hem, mulai lagi deh penyakitnya kambuh,” ucap Rena saat sikap Nathan yang kembali seperti sebelumnya. Sedangkan Bram hanya datar saja, dirinya tak mau mencampuri urusan percintaan bos sekaligus sahabatnya itu.
Akhirnya setelah memasuki kamar masing-masing. Nathan seperti yang dia rencanakan, setelah mandi, dirinya mengistirahatkan tubuhnya sebentar lalu bersiap untuk ke pesta sebentar malam.
Di kamar berbeda, tampak kamar yang sangat berantakan, beberapa barang terlihat berserakan dilantai bahkan ada serpihan kaca yang juga ikut berserakan.
Tok..tok..tok..
Cklek'
“Kamu! Buat apa kamu kesini?” bukannya saya sudah bilang kalau saya akan pergi dengan calon istri saya!! ucap Nathan pada Siska yang sudah melenggang masuk ke dalam kamar milik Nathan. Nathan benar-benar dibuat frustrasi oleh Siska, sungguh wanita yang keras kepala,” pikirnya saat melihatnya yang masuk ke kamar seorang pria tanpa permisi.
__ADS_1
Siska berbalik menatap Nathan yang tampak sudah siap ke pesta. “Kamu sungguh tampan malam ini Nathan,” ucap Siska yang semakin mendekatkan tubuhnya pada Nathan. Model baju yang dikenakan Siska malam ini memang sedikit terbuka, apa lagi saat Siska semakin mencondongkan tubuhnya pada Nathan yang sudah dalam posisi terduduk, belahan itu pun menyembul sedikit keluar yang membuatnya terlihat.
Nathan semakin tidak nyaman dengan situasi seperti ini, “Apa maumu Siska, sudah berapa kali saya katakan padamu, jangan suka bertindak di luar batas,” ucap Nathan yang memegang kedua lengan Siska dengan kuat.
“Apa.. Apa yang mereka punya sedangkan aku tidak?? Coba sebutkan!! Teriak Siska. Nathan cukup terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Siska, “Mereka? Mereka siapa? Siapa maksudmu?!” ucap Nathan.
Ck’ apa kamu bodoh, atau memang pura bodoh hah!! Kamu tau pasti apa maksudku, apa yang kau lihat dari kedua wanita yang ada di hidupmu yang tidak bisa kau lihat dariku, aku cantik Nathan, aku kaya, bahkan apa yang kedua wanita itu miliki bahkan aku bisa membelinya!! Ucap Siska yang matanya sudah memerah.
Apa yang kau lihat dari Kemala, kau jatuh cinta padanya pada akulah yang terlebih dulu mencintaimu. Di saat wanita licik itu pergi, aku yang datang padamu, aku menawarkan cinta padamu, menemanimu di saat kau sedang jatuh.” Ucap Siska yang sudah berurai air mata, dirinya tak sanggup lagi menahan agar tidak menangis.
Sekarang Renata? Diakah wanita pilihanmu sekarang? Apa kamu sudah tahu segala tentangnya? Apa kamu sudah yakin kalau dirinya tidak akan menghianatimu seperti Kemala dulu?!” Ucap Siska lirih yang langsung jatuh berlutut di hadapan Nathan sembari memeluk pinggangnya. “Nathan, aku mencintaimu lebih dari apa pun, kenapa kau tidak pernah melirikku walau sedetik!” Seketika tangisan Siska semakin pecah, wajahnya yang sudah terhias oleh riasan yang tebal, kini sudah tak berbentuk lagi.”
Nathan memegang bahu Siska seraya mengatakan, “Tidak ada yang kurang darimu, hanya saja cinta tidak bisa memilih, hatiku yang memilihnya, bukan mataku. Sungguh aku menyukaimu tapi hanya sebatas sahabat, tidak lebih.” Tukas Nathan lalu beranjak dari duduknya dan segera menelepon Bram. Setelah Bram datang, dirinya bersiap turun ke ruangan Aula besar yang ada di Hotel tersebut, namun sebelumnya Nathan sudah meminta Bram untuk memberitahu Rena agar dirinya bersiap dan menemani Nathan ke Pesta malam ini.
Di Lobi
Nafasnya masih terengah-engah saat dirinya sampai di lantai satu tempat acara berlangsung, tepatnya dirinya berada di lobi.
Ting..
Rena terperanjat saat Nathan tiba-tiba menepuk bahunya dari belakang, “Kamu kenapa? Ada apa dengan nafasmu!” tanya Nathan saat dirinya melihat Rena yang sudah mengambil nafas.
__ADS_1
Flashback on
Rena yang baru saja keluar dari kamar mandi, mendengar ponselnya berdering, ternyata pesan dari Bram.
[Cepatlah bersiap, lalu segera ke kamar Pak Nathan, 304].
Itulah isi pesan yang dikirimkan Bram untuk Rena.
Rena berjalan menuju kamar 304 milik bosnya. Tidak terlalu Bram karena kamar mereka berlima memang masih dalam 1 lantai yang sama.
Di sepanjang koridor Rena berjalan, terdengar beberapa karyawan Hotel terlihat sedang bergosip ria dengan teman-temannya, “Kamu tahu enggak di kamar 309, tadi saat aku bersihkan, kamarnya sangat berantakan, bahkan banyak pecahan kaca yang berserakan di lantai, tapi enggak masalah sih, karena pemilik kamar itu memberikanku tip yang cukup banyak,” ucap salah satu karyawan Hotel itu.
“Dia bertengkar kali sama pacarnya, enggak mungkin bukan dia hem-hem tapi kasurnya masih rapi, pasti mereka bertengkar,” timpal temannya.
“Terserah sih dia mau buat apa pun, yang jelas aku bersyukur karena aku bisa membawa uang lebih buat istri dan anakku jajah,” ucap karyawan Hotel itu dengan tertawa.
Rena tak terlalu memedulikan pembicaraan mereka, Rena terus fokus berjalan mencari kamar yang tadi di katakan Bram padanya. Rena menyebut satu persatu nomor kamar yang dilihatnya, “301, 302, 303, tiga kosong em—“ Rena terdiam sesaat saat melihat kejadian yang terjadi di depan matanya, dirinya langsung bersembunyi dibalik tembok kamar Nathan, Rena mengintip ke dalam kamar, terlihat Siska sedang memeluk erat Nathan.
Antara takut dan ingin menegurnya karena acara pestanya akan segera di mulai, Rena tak berani lagi mengintip kegiatan Nathan dan Siska saat adegan mereka semakin panas menurut Rena dari sudut matanya melihat, posisi Nathan yang duduk dan Siska yang terlihat sangat dekat dengan wajah Nathan, tak salah bukan kalau dirinya beranggapan mereka sedang berci*man.
Rena masih mengintip apa yang di lakukan mereka di dalam kamar, walaupun percakapan mereka tidak jelas, namun dengan melihat interaksi mereka, sudah Rena pastikan kalau mereka pasti mempunyai hubungan yang spesial. Saat akan berbalik, Rena dibuat kaget saat Bram sudah ada di hadapannya. Untung saja Bram tadi langsung menutup mulut Rena saat dirinya teriak, jadi Nathan dan Siska tidak mendengarnya.
__ADS_1
Saat Bram akan bicara, ponselnya sudah berdering. Dengan isyarat tangan dari Bram, Rena diam dan tak bersuara sesuai dengan instruksi Bram. Terlihat Bram menjawab telepon dari Nathan, entah apa yang dibicarakannya di telepon, Rena tidak mendengarnya karena dirinya segera turun ke bawah dan menunggu Nathan di lobi.
Flashback off