Sekertaris Galakku

Sekertaris Galakku
Bab 36. Balas Dendam Jilid 2


__ADS_3

“Ada apa kamu kesini? Kurang puas kamu membuat kakiku seperti ini!” Ucap Nathan sembari menunjuk kakinya yang kini terbalut oleh perban.


“Pak Nathan juga sih, kenapa coba bekap mulut dan memelintir tanganku tadi. Kan tanganku , ini lihat tanganku juga memar kan! Jadi.. bukannya sekarang kita sudah impas!” ucap Rena dengan mata berbinar.


“Enggak, ya bedalah, coba lihat tanganmu. Diperban enggak? Enggak kan! Makanya, ini belum impas, kamu harus mengurusku sampai kakiku sembuh total,” ucap Nathan tegas dengan satu sudut bibirnya terangkat.


Rena hanya bisa menghela nafasnya berat, sembari berkata, “Baiklah-baiklah, sini mana resepnya? Biar aku belikan secepatnya dan agar kaki Pak Nathan bisa cepat sembuh dan pulih,” ucap Rena dengan memperlihatkan senyum tulusnya sembari berdoa, “Ya Tuhan, cepat sembuhkan kaki bosku ini, agar aku bisa bebas dari penderitaan ini!” ucapnya dalam hati.


“Ini! Cepat tebuskan, aku harus segera meminumnya, paling tidak aku bisa bangun sendiri dari tempat tidur dan bisa menghadiri rapat besok pagi.” Ucapnya sembari mengulurkan tangannya yang sedang memegang secarik kertas yang bertuliskan resep obat.


Di koridor, saat Rena keluar dari kamar Nathan, Rena bergegas turun menuju lobi Hotel. Dan saat Rena sedang menunggu lift, Bram dengan pelan berjalan masuk kembali ke dalam kamar Nathan sebelum Rena melihatnya.


“Tuan, apa tidak keterlaluan kita mengerjai Nona Rena seperti ini! Bagaimana kalau Momy tahu, kita pasti akan kena omel,” ucap Bram.


Nathan yang mendengarnya hanya bisa menelan salivanya dengan berat saat membayangkan wajah seram Momy Laura saat sedang marah.


Flashback on


Setelah mendapatkan telepon dari Nathan, Bram segera memanggil dokter sesuai dengan perintah Nathan, dan menyuruh Rena datang ke kamarnya. Terkadang Bram tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya itu, setelah dokter datang dan memeriksanya, Bram dibuat makin bingung lagi saat Nathan meminta resep obat pada Dokter.


Dahi Bram berkerut mendengar permintaan nya pada Dokter, “Kalau sudah diberikan obat, lantas kenapa masih meminta resep obat?” batin Bram. Bukan hanya Bram yang dibuatnya bingung, Dokter yang memeriksanya pun bingung dibuatnya, tanpa bertanya lebih lagi, akhirnya sang Dokter memberikan resep obat yang diminta Nathan.


“Terima kasih, Dokter, nanti Bram akan mengantarkan Dokter ke bawah,” ucap Nathan dengan memberikan kode pada Bram agar mengantar Dokter tersebut ke bawah dan menyelesaikan pembayarannya.

__ADS_1


Dokter berjalan menuju pintu keluar kamar Nathan yang di ikuti oleh Bram di belakangnya, namun baru satu langkah, Bram kembali menoleh ke arah Nathan sahabatnya. “Boleh saya bertanya satu hal, Tuan?!” tanya Bram yang diangguki oleh Nathan. “Dokter sudah datang mengobati kaki Tuan, lantas untuk apa, Tuan menyuruh saya menelepon Nona Rena dan menyuruhnya kesini?!


“Karena dia harus bertanggung jawab pada perbuatannya bukan!” ucap Nathan dengan pandangan mata yang tajam. “Dan untuk resep?” sambung Bram kembali karena masih penasaran dengan semua kejanggalan yang dirasakan Bram.


“Ayolah Bram, tak mungkin kau tidak mengetahui apa yang saya pikirkan, bukan!” jawab Nathan dengan senyum seringai.


Bram yang baru sadar dengan semua perkataan Nathan, membuatnya tersenyum tipis saat menyadari bahwa Nathan sudah mulai tertarik pada Rena.


Flashback off


Di sepanjang jalan menuju lift hingga dia sampai di lobi, Rena tak henti-hentinya mengumpat bos menyebalkannya itu. “Dasar bos arogan, menyebalkan—untung dia bos!!” tanpa Rena sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang melihatnya sembari tersenyum, “Apakah ini rencanamu Tuhan! Di saat aku tak mengejarnya, kau bawa dia padaku lagi? Apakah ini tandamu kalau aku masih punya harapan dan harus berjuang mendapatkannya!” batin Rayyan.


Ya, yang sedari tadi memperhatikan Rena yang tengah berjalan menuju pintu luar dengan mulutnya komat-kamit adalah Rayyan. Secara kebetulan memang, padahal Rayyan yang tadinya berniat keluar kamar hanya sekedar ingin mencari angin segar setelah dadanya terasa sesak saat mengetahui kalau wanita yang dia sukai sudah menjadi calon pria lain, dan lebih menyesakkan lagi adalah Nathan pria yang beruntung itu.


Rayyan menepuk bahu Rena pelan, “Hai.”


Rena sungguh terkejut, bagaimana bisa lagi-lagi dirinya bertemu dengan Rayyan tanpa mereka janjian sebelumnya. “Mas Rayyan, di sini juga! Mau beli obat juga?” tanyanya beruntun. Rayyan tersenyum melihat wajah terkejut Rena yang dinilainya sangat lucu, padahal baru saja mereka bertemu di Pesta tadi namun entah mengapa Rayyan begitu merindukan senyuman Rena yang seperti ini.


Rayyan mengalihkan pembicaraannya dengan balik bertanya pada Rena, “Kamu sakit?”. “Eh, enggak, Mas. Aku sehat kok, bukan aku yang sakit, tapi Pak Nathan.” Jawab Rena cepat.


“Nathan? Dia sakit? Sakit apa? Selidik Rayyan, yang sedikit terbersit rasa cemas dihatinya. Walau bagaimanapun juga, Nathan tetaplah saudara sepupunya. “Kakinya yang sakit, bengkak,” ucap Rena sembari menunggu apoteker yang sedang mencari obat yang dicari oleh Rena.


“Maaf, Nona. Obat yang Anda cari kebetulan lagi kosong!” ucap singkat apoteker tersebut. “Coba Mas, sini aku lihat resepnya,” ucap Rayyan yang ingin melihat resep obat yang diberikan dokter pada Nathan.

__ADS_1


Rayyan yang memang seorang dokter, tentu saja mengetahui nama obat serta kegunaannya, jadi tak heran kalau dirinya ingin tahu obat apa yang dibutuhkan Nathan, siapa tahu dia mempunyai stok obat yang selalu di bawa ke mana-mana di dalam tasnya.


Dahinya berkerut “Ren, siapa yang kasih kamu resep ini?” tanya Rayyan. “Kenapa, Mas? Ada yang salah?” jawab Rena yang terlihat heran saat melihat ekspresi wajah Rayyan. “Oh, enggak kok, aku hanya berusaha mengingat saja, kalau-kalau salah satu obatnya ini ada di dalam tasku,” jawab Rayyan yang terlihat salah tingkah.


Rena tak mau pusing dan mempercayai apa yang dikatakan Rayyan padanya. “Itu resep yang diberikan Pak Nathan padaku, sepertinya itu yang diberikan dokter yang memeriksanya tadi,” ucap Rena yang mengingat perkataan bos menyebalkannya itu.


“Oh iya, kalau boleh tahu, apotek di sekitar sini selain di sini ada di mana lagi ya? Soalnya aku harus memberikan obat ini pada bosku sebelum dia marah,” ceplos Rena.


“Ada mbak, tapi agak jauh sih, sekitar 5 Km dari sini, kayaknya obat yang mbak inginkan ada di sana!” jawabnya. “Oh iya enggak apa-apa, nanti saya ke sana. Terima kasih ya, Mas!” ucap Rena sembari keluar dari apotek yang disusul Rayyan di belakang.


Terlihat tampak Rayyan yang diam saja setelah melihat resep obat tersebut. “Mas Rayyan kenapa? Dari tadi diam saja!” ucap Rena yang terlihat bingung dengan sikap Rayyan. “Enggak apa-apa kok, yuk kita balik ke hotel.” ajak Rayyan sembari menarik tangannya menuju hotel. Rena tampak diam saja, sungguh dia kaget dan salah tingkah karena gerakan tiba-tiba Rayyan yang menggenggam tangannya.


“Mas, kita mau ke mana?” tanya Rena yang heran saat Rayyan membawanya masuk ke dalam lift. “Aku antar kamu balik ke kamarmu, ini sudah malam, enggak baik kena angin malam begini,” ucapnya datar.


“Tapi, Mas. Aku harus dapat obatnya dulu, kasihan Pak Nathan, karena perbuatanku, kakinya jadi bengkak seperti itu.” Ucap Rena dengan nada menyesal sembari memencet tombol lift agar pintunya kembali terbuka.


Rayyan hanya bisa menghela nafasnya melihat kesungguhan hati Rena, tidak mungkin bukan, dia mengatakan kalau Nathan berbohong padanya dan sedang mengerjainya saja! Bisa-bisa hatinya terluka,” Batinnya.


Ya sudah, ayo aku temani kamu pergi ke sana sampai kita mendapatkan obatnya!” ucap Rayyan sembari menggenggam kembali tangan Rena menuju arah pintu keluar tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata yang melihatnya dengan tajam dengan salah satu tangannya yang tampak mengepal menahan emosi melihat Rayyan menyentuh Rena.


“Baiklah, anggap saja keadaan sedang berpihak padaku malam ini, tidak akan aku sia-siakan kesempatan ini.” Batin Rayyan sembari berjalan menuju mobilnya yang diparkirkan di pelataran Hotel.


Sembari berjalan santai menikmati suasana malam kota B pada malam hari, Rayyan tak membuang kesempatannya yang tidak mungkin datang kedua kalinya. Dia ingin lebih dekat dengannya, mengenalnya lebih jauh. Mungkin saja dia bisa membuat Rena mempertimbangkan keputusannya kembali untuk menikah dengan Nathan, toh janur kuning pun belum melengkung!

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2