
"Ish, Pak Bram nyebelin! Masih pagi sudah buat orang senewen aja hufft." Omelnya sembari membereskan meja kerjanya.
"Kening Ayyura berkerut saat melihat Pak Bram berjalan melintasi meja resepsionis dengan biasa saja, pandangannya lurus kedepan tanpa menoleh kearahnya sekalipun, seakan tidak terjadi apa-apa di parkiran.
Tak lama ponsel milik Ayyura berbunyi, pas dilihat, ternyata pesan chat WhatsApp dari Pak Bram. "Temui aku pas jam makan siang di Taman belakang." Itulah isi pesan Bram untuk Ay.
Ayyura merasa sangat senang saat menerima pesan chat dari pria yang disukanya, hingga rasa kesal yang baru dia rasakan tadi, hilang begitu saja digantikan dengan perasaan deg-degannya.
"Duh, mau ngomongin apa yah? Kok perasaan ku gini!" Gumam Ayyura dengan menggigit kukunya.
Diruangan berbeda, tampak seseorang tersenyum saat mengamati sebuah layar CCTV yang memperlihatkan kegiatan yang dilakukan para pekerja Raharja Corp tanpa terkecuali.
***
Taman belakang
"Na loh, ayo, lagi nungguin siapa disini?!" Tanya Rena yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan Ayyura yang sedang menunggu pria pujaan hatinya.
"Ya ampun, Renaaaa, kaget tahu! Teriak Ayyura yang kaget saat melihat orang yang mengagetkannya.
"Huahahaha, tawa Rena pecah saat melihat bagaimana ekspresi wajah sahabatnya itu saat kaget.
"Iya, iya maaf." Sesal Rena yang cukup kesulitan merayu Ayyura yang sedang mode ngambek.
Jauh dibelakang Rena dan Ayyura, terlihat sosok pria tinggi yang sedang mengamati kegiatan 2 wanita yang sedang.. entahlah apa, karena dirinya pun tidak berani mendekat.
"Oh iya, makan yuk." Ajak Rena sambil mengaitkan tangannya kelengan Ayyura.
Ayyura tampak berfikir, sudah hampir 30 menit dirinya menu Pak Bram yang tak kunjung datang, padahal waktu makan siangnya sudah hampir selesai, tadinya dia ingin makan siang disesi kedua, namun karena dirinya sudah janjian dengan pangerannya, akhirnya Ayyura meminta tolong untuk bertukar jam istirahat dengan rekan kerjanya.
"Ya udah deh, yuk, aku juga sudah lapar." Ucapnya dengan beranjak dari kursi taman yang terbuat dari kayu jati ukir.
Rena mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Ayyura barusan. "Bukankah saat kutelfon tadi dia bilang akan pergi makan duluan!" Tanyanya dalam hati.
Pria itu hanya bisa menghela nafasnya dengan berat saat melihat 2 wanita yang tadi sedang berbincang meninggalkan taman menuju seberang jalan. Tak lama, dering ponselnya terdengar, membuat lamunannya buyar seketika melihat nama yang menelfonnya.
__ADS_1
"Baik, Pak. Saya segera kesana." Ucapnya cepat setelah mengangkat teleponnya.
***
Food Court
"Ay, aku mau nanya, bukannya tadi kamu bilang mau makan saat jam istirahat pertama? Tapi kok malah kayak orang kelaparan begini!" Tanya Rena saat melihat sahabatnya makan dengan lahap.
"Boro-boro makan, nah dari tadi aja aku nungguin dia di Taman belakang tapi nggak nongol-nongol! Gerutu Ayyura saat mengingat hampir 1 jam lebih dirinya menunggu, hingga rasa laparnya pun tak dihiraukannya.
"Dia? Dia siapa?" Tanya Rena dengan mengerutkan keningnya.
"Ampuun, ini mulut lemes bangettt," gerutu Ay dalam hati karena tidak bisa menyimpan rahasia. "Ngg, siapa ya? Iyaya, siapa?!" Sambungnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Rena memicingkan matanya saat melihat gelagat mencurigakan Ayyura yang tampaknya menyimpan sebuah rahasia.
"Beneran? Sumpah deh Ay, gelagatmu sepertinya ada yang kamu tutupi dariku. Emang kamu nggak percaya sama aku? Udah nggak anggap aku sahabatmu!! Cerocos Rena.
Ayyura menghembuskan nafasnya sesaat sebelum menjawab pertanyaan Rena. Baiklah, aku akan jujur padamu, tapi janji ya jangan ketawain aku!! Ucap Ayyura yang diangguki oleh Rena.
"Ayo cepat ceritain," rengek Rena yang sudah sangat penasaran.
"Hmm, apa kamu nggak telfon atau kirim pesan padanya? siapa tahu saja dia lupa!" Ucap Rena dengan bahu yang terangkat keatas.
"Nggak, ih gara-gara kamu juga mengagetkan ku tadi, jadi lupa deh!" Ucap Ayyura.
"Yeee, kamu aja memang yang lamban berfikir, Rena menggelengkan kepalanya.
Ayyura menjadi salah tingkah saat menyadari ucapan Rena ada benarnya.
***
Setelah makan siang bersama Ayyura, Rena kembali ke ruangannya. Kring..kring, terdengar dering telepon diatas meja kerjanya, Rena berlari sekuat tenaga agar bisa sampai diruangannya. Dwngan nafas ngos-ngosan, Rena menjawab teleponnya dengan cepat, "Ha-hh-Haloo, dengan Rena sini. Ada yang bisa saya bantu?!"
"Cepat keruanganku!" Titah Nathan. Yeah, yang menelepon Rena barusan adalah bos nya Nathan.
__ADS_1
Tok, tok, tok..
"Masuk! Terdengar sahutan dari dalam."
"Permisi Pak, ada yang bisa saya bantu!" Jawab Rena saat sudah masuk.
"Mari, silahkan duduk." Ajak Nathan dengan sopan.
Rena mengerutkan keningnya, dia bingung dengan sikap bos nya yang tiba-tiba baik dan tidak ketus padanya. Namun Rena tetap berdiri dan tidak mengindahkan ajakan Nathan.
"Ayo cepat duduk, saya nggak akan gigit kamu!! Ucap Nathan yang terlihat menahan kesalnya.
Dengan cepat, Rena duduk di sofa yang berbeda dan berada cukup jauh dari bosnya itu. Jaga-jaga kalau bosnya marah, dia bisa langsung kabur." Pikirnya.
Tingkah Rena tersebut membuat Nathan menghela nafasnya dengan pelan lalu mendekat ke arah Rena lalu berkata padanya "ada apa? Kenapa duduknya jauh begitu, kan tadi saya sudah bilang kalau saya nggak akan gigit kamu."
Rena hanya bisa cengengesan saat ketahuan bahwa dirinya sedang menjaga jarak dengan bos yang memang sejak awal tidak menyukainnya.
"Baiklah, kamu disana saja, toh sama saja dimana pun kamu duduk. Begini, ada yang ingin aku katakan padamu! Ini tentang keinginan Mom dan Ibu pantimu soal pernikahan kita." Ucap Nathan datar.
Terlihat raut wajah Rena sedikit berubah setelah mendengar kata pernikahan. Aku kira Mom Laura sudah lupa, dan kenapa dengan Ibu? Sepertinya Ibu tak pernah membahasnya denganku! Pikir Rena dalam hati.
"Ini!! Lempar Nathan, sebuah map merah yang sudah berada didepan Rena.
"Ini apa, Pak? Tanya Rena yang terlihat bingung dengan map merah yang dilemparkan Nathan.
"Buka dan bacalah, kamu pasti akan mengerti." Ucapnya datar.
Betapa kagetnya Rena saat membaca isi map tersebut. "Surat Kontrak?? Gumam Rena pelan, lalu beralih menatap Nathan dan bertanya padanya, "ini surat kontrak apa, Pak?" Sambungnya.
"Bacalah sampai bawah, jika ada poin-poin yang membuatmu keberatan atau ada yang ingin kamu tambahkan, tulis saja disana, nanti biar saya suruh Bram buat yang baru." Ucap Nathan dingin.
Setelah membaca hingga halaman terakhir, Rena dibuat tercengang. Bagaimana tidak, isi map yang dilempar Nathan adalah surat kontrak pernikahan antara dirinya dan Nathan.
Rena tak habis pikir bagaimana mungkin sebuah pernikahan dibuat mainan olehnya.
__ADS_1
"Apa bapak mabuk? Atau salah minum obat!! Ucap Rena kesal.
***