
Setelah mendengar perkataan Mom nya. Nathan langsung membayangkan bagaimana tadi dirinya begitu menikmati ciuman mereka, rasanya berbeda. Apakah karena bibir Rena yang terasa panas karena dia sedang demam atau memang karena hawa panas yang dia rasakan itu karena-." Nathan tidak melanjutkan perkataannya tadi sembari berkata pada dirinya sendiri "Yah, itu pasti hawa panas dari demam Rena!"
Tadi, dirinya memang begitu dekat dengan Rena hingga tak ada jarak, mungkin hawa panas dari tubuh Rena yang berpindah pada tubuhnya, jadi membuat dirinya panas, jadi, ini bukan hawa panas yang berasal dari dalam dirinya. Itulah yang menjadi pemikiran Nathan, dia masih saja terus menyangkalnya.
Keesokan harinya..
Setelah perdebatan antara dirinya dan Mom Laura sore itu, suasana meja makan menjadi suram. Tidak ada lagi suasana hangat seperti biasanya, Mom Laura pun tidak turun sarapan karena masih kesal dengan perkataan Nathan yang menyudutkan dirinya.
Nathan menghela nafasnya berat, "apa jadwalku hari ini Bram?!" Tanya Nathan pada Bram yang memang sedari tadi ikut sarapan bersamanya, semalam dia menginap di rumah Mom Laura, Bram tahu soal pernikahan yang putuskan oleh Mom Laura dari Mom nya langsung.
Bahkan dia meminta Bram untuk membujuk Nathan agar mau menuruti keinginannya. Awalnya Bram ragu, namun karena dia percaya bahwa Mom Laura tidak akan mungkin memutuskan sesuatu hal yang besar seperti ini dengan gegabah. Dan pada akhirnya, dia setuju untuk membantu Mom Laura agar bisa lebih mendekatkan Rena dan Nathan, bukan hanya didalam kantor saja, namun sebisa mungkin diluar kantor juga.
"Hari ini tidak ada meeting apapun Tuan, hari ini kita bisa sedikit beristirahat." Jawab Bram.
Bram bertanya pada Nathan, "Lalu apa yang harus anda lakukan? Apakah akan menuruti keinginan Mom?
Nathan diam, dia tahu apa maksud pertanyaan yang di tanyakan oleh Bram padanya. "Tidak, tentu saja tidak. Aku tidak mencintainya, aku malah semakin membencinya." Ucap Nathan yang langsung berdiri saat sarapannya sudah habis.
Ketika akan masuk kedalam mobil, Nathan berhenti sejenak dan mengatakan "katakan pada Mom, kalau aku berangkat sekarang, dan tidak perlu menunggu ku makan malam nanti." Ucap Nathan pada salah satu pelayan yang merupakan asisten pribadi Mom nya.
Didalam mobil
Sepanjang perjalanan menuju kantor, hati Nathan begitu tidak tenang, ada perasaan terganjal didalam hatinya. Entah ini apa karena dirinya tidak bertegur sapa dengan Mom nya? Ada perasaan bersalah dihatinya karena kemarin dirinya sempat berkata keras pada Mom nya. Namun semua perasaan itu ditepisnya, dia tidak mau kalah lagi soal kehidupan percintaannya, cukup sekali dia mengikuti kemauan Mom nya yang berakhir tragis.
Kejadian yang membuat dirinya sakit hati dan membuat hubungan persaudaraan diantara dirinya dan Rayyan renggang.
"Tuan... Bagaimana kalau kali ini Tuan menuruti kembali keputusan Mom!" Ucap Bram dengan ragu, dirinya takut kalau Nathan akan curiga padanya.
Nathan melirik tajam ke arah Bram. "Berapa jumlah yang diberikan Mom padamu untuk membujukku, hah!!" Ucap Nathan.
Bram yang sedang menyetir tiba-tiba mengerem mobil secara mendadak. "Ap-apa maksud Tuan? Sungguh, Mom tidak sedang menyuap ku. Saya hanya memberikan saran saja sebagai teman. Dan saya tahu, kalau Tuan merasa tidak nyaman dengan suasana dirumah. Dan, saya rasa, Mom pun merasakan hal yang sama persis yang Anda rasakan." Jelas Bram.
"Kau tahu, Bram. Aku begitu menyayangi dan menghormati Mom, namun untuk urusan ini, saya harap kamu mau mendukungku," ucap Nathan, dan segera berlalu masuk kedalam lobby kantornya tanpa menunggu Bram membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
Bram hanya bisa menghela nafas panjang dan berat. Di satu sisi dirinya ingin membuat Mom nya dan Nathan kembali baikan. Namun disisi lain, dia tahu betul tentang masa lalunya, bagaimana terpuruknya dia dulu saat Mom Laura mencampuri urusan percintaannya. Memang niatnya baik, namun tetap saja, hal itu menghancurkan hati Nathan.
Di kantor
Setelah sampai di ruangannya, Nathan bekerja seperti biasanya, mengecek beberapa laporan pengajuan kontrak kerja sama dengan beberapa perusahaan besar. Dirinya berusaha seprofesional mungkin saat dirinya sudah berada di kantor.
Tak tak tak, bunyi suara hells yang menggema di area lobby. Semua mata tertuju padanya satu wanita yang berjalan menuju meja resepsionis. Wajah yang begitu cantik, dengan postur badan yang tinggi serta pembawaannya yang begitu anggun, membuat setiap orang terpanah dibuatnya.
"Permisi mba, bisa bertemu dengan Nathan Raharja?!" Ucap Siska.
"Maaf dengan siapa saya berbicara saat ini, biar nanti saya sampaikan ke atas." Ucap Ay dengan ramah.
"Saya Siska, bilang saja, kekasihnya ingin bertemu dengannya." ucap Siska yang dipelototi oleh Ayyura.
"kenapa?? nggak percaya?" ucap Siska yang dihadiahi gelengan kepala Ayyura. Siska memutar matanya dengan malas. "Bilang saja, Siska teman dekatnya." sambungnya
Setelah Ayyura memberitahukan pada Bram, akhirnya Ayyura mengantarkan wanita yang bernama Siska itu ke ruangan Ceo nya yang berada di lantai lima belas.
"Mari, Nona saya antar ke ruangan Pak Nathan." Ajak Ayyura dengan sopan dengan menaiki lift yang kan membawanya ke angan Pak Nathan.
"Wow, gila aja nih cewek. Cantik banget!!" Ucap Ayyura dalam hati saat melihat wanita yang sejak tadi menjadi tontonan orang-orang yang berada di lobby Raharja Corp secara langsung.
Bagaimana tidak, selain cantik, wanita yang diketahui bernama Siska ini juga berpakaian sangat minim, tentu saja menjadi perhatian para pria.
Ting'
Mari silahkan, Nona ikut saya. Ayyura dan Siska berjalan menyusuri koridor yang membawa mereka menuju ruangan sekertaris yang biasa ditempati oleh Rena.
Silahkan duduk, nona. Saya ke ruangan Pak Bram dulu untuk melapor." Ucap Ayyura menuju ruangan Bram yang terhubung langsung dengan ruangan Nathan.
"Heh silahkan." Ucap Siska dengan malas.
Tok..tok..tok
__ADS_1
"Permisi, Pak. Ada tamu Pak Nathan diluar sedang menunggu, katanya tadi namanya Siska." Ucap Ayyura dengan hormat.
"Persilahkan dia masuk dan terima kasih." Ucap Bram singkat dan dingin.
Ayyura hanya bisa menghela nafasnya sembari berjalan menuju ruang tunggu yang berada tidak jauh dari ruangan Rena. "Silahkan, Nona. Pak Nathan sudah menunggu didalam." Ucap Ayyura yang mempersilahkan Siska masuk.
Ayyura berjalan dengan gontai menuju lift, dia melihat dirinya dari pantulan kaca lalu berkata pada dirinya sendiri "Susah banget sih, buat kamu menatapku pangeran tak berkuda."
Ruangan Nathan
"Silahkan masuk, Nona. Tuan Bram sudah menunggu anda di dalam." Ucap Bram dengan sopan.
"Hai, Bram, bagaimana kabarmu?" Tanya Siska saat dirinya melihat didepan pintu yang bisa dia pastikan adalah ruangan Nathan.
"Aduh, Bram Bram. Kamu masih kaku saja denganku." Ucap Siska dengan memandangnya dengan sebelah alisnya terangkat.
Bram tersenyum menyeringai dan berkata padanya "Kamu pun masih sama, walau ditolak berapa kali pun tetap saja selalu mencoba!"
Siska yang kesal mendengar perkataan Bram lalu segera masuk kedalam ruangan Nathan dengan menghentakkan kakinya lalu disusul oleh Bram yang juga masuk ke dalam ruangan Nathan.
"Nathan sayang", ucap Siska manja sembari mendekat kearah Nathan. Awalnya Siska ingin langsung memeluknya, namun belum sempat melancarkan aksinya, tangan Nathan sudah memberikan penolakan duluan.
"Silahkan duduk." ucap Nathan dingin.
"Ish, kenapa sih, Nath." gerutu Siska.
"Ingat, ini kantor, jaga perilaku mu." Jawab Nathan sembari berjalan menuju sofa yang sudah diduduki sebelumnya oleh Siska.
"Iya iya," jawabnya dengan cemberut.
"Ada apa kamu kesini? Nathan langsung to the poin. "Bukannya kamu baru tiba tadi pagi? Kenapa sudah ada di kantor ku? Apa kamu tidak letih habis perjalanan jauh." Sambung Nathan.
"Duh, suka deh kalau lagi mode perhatian begini sama aku," ucap Siska yang sudah berpindah posisi duduk dan sudah berada di samping nathan dengan bergelayut manja di lengannya.
__ADS_1
Nathan dan Bram yang melihatnya pun hanya bisa menghela nafas. Sebab mereka tahu sifat dari Siska yang keras kepala dan pantang menyerah. Padahal sudah berkali-kali Nathan menolak cintanya, namun tetap saja mengejarnya. Padahal, bagi Nathan, Siska hanya sebagai sahabat baiknya, tidak lebih.
***