
Dua sosok bayangan berhasil menembus pertahanan seorang wanita di luar dan masuk ke dalam rumah Inspektur Lucca.
Dua sosok tadi menampakkan wujudnya dua orang pria bermata tajam saling menatap di sekitar tempat tidur Inspektur Lucca yang kemudian saling mengangguk dan kini berpindah di samping kiri dan samping kanan ranjang sang Inspektur.
“Nyaman nya tidur ku hari ini tanpa gangguan.” gumam Inspektur Lucca mengganti posisi tidur.
“Kenapa jadi berisik sekali ?” tak sengaja alat penutup telinganya terlepas yang membuatnya kembali mendengar suara gaduh di sana. “Ternyata ini lepas.”
Inspektur mengambil alat penutup telinganya dan menetapkan sekitar yang tampak kosong namun lambatnya waspada setelah mendengar suara gerakan.
“Apa ada seseorang di sini ?” Inspektur Lucca malah melepas satu alat penutup telinganya yang masih terpasang kembali memastikan situasi di sana. “Ada dua orang yang bersembunyi di kamar ini.”
Setelah mengetahui ada penyusup yang masuk ke kamarnya pria itu pun segera mengambil senapan panjang yang sengaja ia gantung di dekat tempat tidurnya supaya memudahkannya mengambil dalam keadaan darurat.
“Siapa kalian ? Keluar atau tunjukkan diri kalian !” bentaknya menodongkan pistol ke arah lemari di dekat pintu. “Keluar !”
Karena tak ada respon ia pun menekan kokang laras panjangnya namun ternyata tembakannya meleset karena sosok dari berpindah tempat.
“Kurang ajar kalian mengganggu waktu tidurku !”
Inspektur Lucca menembakkan tembakan beruntun yang membuat dua sosok tadi akhirnya menampakan diri.
“Siapa sebenarnya kalian ?” tanya Inspektur Lucca berdiri di depan sosok tadi dan menodongkan pistolnya ke kepala salah satu penyusup.
__ADS_1
“dor !” tak ada jawaban dan membuat pria itu tak segan lagi melepaskan peluru dan seketika sosok tadi ambruk. “dor !” Inspektur Lucca kembali menembak meskipun lawannya sudah ambruk dan barulah dia berhenti menembak saat sosok tadi terbakar lalu berubah menjadi abu.
“Jangan lari kau !” Inspektur Lucca mengecat satu sosok lainnya yang keluar dari rumahnya.
Sungguh ia terkejut sekali setelah sampai di luar rumah dan melihat banyak sekali sosok orang yang tak dikenal mengepung rumahnya.
“Astaga, siapa sebenarnya mereka ini ? Mereka bukanlah target Kepolisian tapi kenapa terus menerus mengejar ku ?!” umpatnya kesal dan tak ada waktu baginya untuk menghafal wajah-wajah asing itu karena mereka mulai menyerangnya secara bersamaan.
“dor !” Inspektur Lucca kembali menembakkan senapan laras panjangnya juga pistol DF-46 miliknya secara bersamaan.
“Peluruku hampir habis. Jika aku masuk mengambil peluru maka tamatlah aku.” Inspektur melihat pelurunya tersisa beberapa saja. “Seandainya saja aku bisa bertemu dengan Livia.” di dengar keadaan genting pria itu malah memikirkan, tidak tepatnya merindukan sosok Livia.
Inspektur Lucca pun terus menembak sambil berjalan mundur untuk masuk ke rumah dan mengambil peluru cadangannya.
“Sial !” Inspektur Lucca menembakkan pistolnya ke arah pria yang menghalanginya. Namun ternyata pelurunya sudah habis. “Minggir kau !” terpaksa ia pun harus menyerangnya dengan tangan kosong.
Inspektur Lucca sedikit kemalahan karena tak hanya menghajar satu musuh saja dan sosok nanya pun ikut mengapungnya saat ini dan membuat kondisinya terdesak.
“Boom.” tepat di saat ia hampir kehabisan tenaga sebuah Bom meledak 3 m di belakangnya yang membuat semua sosok tadi hilang semua binasa.
“Livia, apa itu kau ?” ucapnya saat melihat kelopak mawar merah berjatuhan di dekatnya.
“Inspektur Lucca.” seorang wanita muncul dari balik kepulan asap dan menghampirinya. “swish.” ia pun melempar belati kecilnya ke arah inspektur.
__ADS_1
“Oh.” Inspektur Lucca pun sampai berkeringat dingin saat belati tadi melewati pipinya yang hampir saja menggores pipinya namun ternyata mengenai lawannya.
“Sepertinya ini juga peledak.” Inspektur Lucca menduga blocking dilemparkan oleh Livia juga mengandung bahan peledak. Ia pun segera mundur sejauh mungkin dan benar saja lima detik berikutnya belati itu meledak.
“Inspektur Lucca ini semua belum selesai. Cepat ambil peluru mu aku akan mengatasi yang di sini.” ucap Livia yang menatap Inspektur mengatur ritme nafas.
“Ya, tentu saja.” pria itu kemudian berlari secepat mungkin masuk ke kamar dan mengambil semua peluru yang ada di sana.
“boom.”
“dor.” suara ledakan bom dari Livia dan suara tembakan peluru dari Inspektur terdengar bergantian menghancurkan tiga puluh sosok orang asing yang tak dikenalnya.
“Akhirnya selesai juga.” Inspektur Lucca menaruh senjata laras panjangnya ke tanah untuk menopang tubuhnya yang sedikit merasa lelah.
“Terinkasih Livia.” ucapnya pada wanita yang menolongnya dan ini berdiri di sampingnya.
“Sampai jumpa Inspektur.” balas Livia sambil tersenyum kecil dan bersiap untuk pergi dari sana.
“Tunggu Livia Neve !”Inspektur mengejar Livia dan berhasil menahan wanita itu pergi. “Aku sudah mempertajam pendengaranku. Apakah kau akan tetap berada di sisiku ?”
“Ya ?” Livia baru mengingat apa yang pernah ia ucapkan pada pria itu. “Maaf belum waktunya bagi ku berada di sisimu Inspektur.”
Livia melepas tangan Inspektur dari lengannya dan bergerak dengan cepat meninggalkan pria tersebut.
__ADS_1
“Livia ! Jangan pergi !” teriak Inspektur Lucca.