
Di dalam kamar meskipun matanya terpejam namun pikiran Inspektur Lucca masih terjaga. Ia masih teringat dengan pengakuan identitas Livia yang notabene adalah seorang vampir.
Pikirannya melayang dalam ketakutannya sendiri setelah teringat dalam sebuah literatur yang pernah dia baca yang menyebutkan jika seorang vampir akan menghisap darah manusia sampai kering dan meninggal.
“Apa benar dia akan melakukan hal itu padaku ?” batin Inspektur Lucca dengan berkeringat dingin, berprasangka buruk pada Livia.
Ia kembali mengingat semua yang telah terjadi bersama wanita itu. Selama ini Livia sama sekali tidak menunjukkan gelagat aneh ingin menghisap darahnya ataupun membunuh dirinya.
“Tapi bisa jadi dia mempunyai niatan itu dan menunggu aku lengah atau kesempatan bagus lainnya untuk menghisap ku sampai mati.” gumamnya masih ketakutan sendiri meskipun selama ini tak ada yang pernah ia takuti sama sekali meskipun menghadapi lawan sekuat apapun.
Lama berpikir tanpa dasar, pria itu pun akhirnya tertidur dua jam berikutnya.
“klak.” pintu kamar Inspektur Lucca terbuka dan siapa lagi yang membukanya jika bukan Livia.
Wanita itu masuk ke kamar Inspektur Lucca dan berdiri di sampingnya menatapnya intens.
“Lucca aku harap kau tidak takut pada ku atau berprasangka negatif padaku setelah aku memberitahukan identitasku pada mu.” ia menyelimuti tubuh Inspektur yang menggigil setelah melihat suhu di ruangan kamar Inspektur sembari mencari remot AC lalu menurunkan temperatur di sana ke suhu ruangan.
“Lucca aku rindu pada mu, tapi aku tak bisa melakukan apapun pada mu sampai semuanya kembali seperti sedia kala.” Livia terlihat sedih sembari mengusap pipi Inspektur dan segera keluar dari sana sebelum pria itu menyadari kedatangannya.
Pagi harinya Inspektur bangun. Ia terkejut saat merasa tubuhnya hangat.
“Selimut ? Apa semalam aku memakai selimut ?” gumamnya saat mendapati ada selimut yang menutupi tubuhnya yang membuatnya hangat dan menarik selimut itu.
Pria itu kemudian duduk dan menatap suhu di ruangan yang juga hangat. “Apa aku semalam merubah suhu AC di ruangan ini ?” gumamnya mengerutkan kening sambil mengingat kejadian semalam yang tak bisa diingatnya. “Mungkin aku lupa pada Apa yang kau kerjakan semalam karena terlalu takut.”
__ADS_1
Satu jam berikutnya Inspektur yang sudah bersiap setelah mengenakan seragam polisinya.
“Inspektur sarapan mu sudah siap.” Livia datang membawakan saran pagi untuk mereka ke tempat pria itu duduk.
Livia terlihat sudah kembali seperti biasanya dan menyantap sarapan pagi sementara Inspektur Lucca diam menatap Livia.
“Bukannya vampir menghisap darah manusia, tapi kenapa dia makan makanan manusia ?” batin Inspektur merasa aneh.
“Inspektur kenapa tidak segera dimakan ?” tanya Livia melihat pria itu melamun menatap makanan di depannya.
“Ya, aku akan makan.” Inspektur Lucca tampak kikuk juga kaku di depan Livia. Ia pun segera memakan sesuap masakan yang dibuat oleh Livia. “Semoga saja dalam makanan ini ada racun yang bisa melumpuhkan semua saraf di tubuhku.” ia menelan makanan sambil memejamkan mata.
Livia sekilas menatap Inspektur yang duduk di sebelahnya. “Hari ini dia aneh sekali. Ada apa dengannya ? Apa dia kira aku meracuni makanannya ?” batin Livia menahan senyum. Tidak mungkin juga ia meracuni pria tersebut jika memang ia ingin membunuhnya dari awal dia tak akan mau menjadi shadow body guard-nya.
“uhuk... terimakasih.” pria itu segera meminum air yang diberikan oleh Livia untuk mengatasi tersedaknya. “haah...” pria itu bernafas lega setelah menaruh gelas kembali ke meja dan terlebih dia tidak keracunan makanan dari Livia yang biasa ia makan setiap harinya. “Ternyata makanan ini tak ada racunnya.”
Inspektur Lucca menatap ke arah jam yang tergantung di dinding.
“Livia kita berangkat sekarang ke gedung putih.” pria itu segera beranjak dari duduknya. Sejujurnya meskipun ia mencoba untuk bersikap seperti biasanya pada Livia namun dalam hati ia masih curiga pada wanita tersebut dan mengira Livia akan pembunuhnya dengan menghisap darahnya pelan-pelan sampai kering.
Kali ini Inspektur Lucca tidak menjalankan misi menangkap buronan kelas kakap atau sejenisnya tapi ia mengamankan acara konferensi perdana menteri yang merupakan perwakilan dari beberapa negara untuk membahas kerjasama di bidang militer.
30 menit setelahnya Inspektur Lucca dan Livia sudah berada di area gedung putih tempat berlangsungnya konferensi bersama beberapa agen kepolisian lainnya yang ikut mengamankan jalannya acara tersebut.
Inspektur Lucca sengaja ditugaskan di sana bersama agen kepolisian khusus lainnya bukan karena tak ada agen kepolisian lainnya yang bersedia bertugas di sana, melainkan karena saat ini situasi Milan sedikit bergejolak setelah ada perseteruan dengan Slovakia sehingga diperlukan pengamanan yang cukup ketat disana.
__ADS_1
Dua jam setelah meeting berlangsung, tiba-tiba dari kejauhan terlihat kepulan asap yang membumbung.
“Ada penyusup masuk tim 1 siaga.” ucap seorang agen kepolisian yang berada di garis depan pada anggota pengamanan lainnya.
Baru saja tim 1 Siaga untuk menangkap penyusup tersebut tiba-tiba terjadi tembakan beruntun yang mengepung tim 1.
“Monitor, tim 2 maju.” ucap akan kepolisian lainnya melihat tim satu yang tertembak.
Di saat bersamaan Inspektur Lucca juga segera siaga tanpa menunggu perintah. Ia naik ke lantai tiga pos penjagaan untuk memantau keadaan sekaligus mencari penyusup tadi.
“Aku menemukan satu.” pria itu mengeker dengan lensa di Laras panjangnya kemudian segera melesatkan pelurunya tepat menembus target yang langsung ambruk di tempat.
Tim 2 dan tim 3 maju setelah mendapatkan komando untuk menyergap penyusup dengan di bantu Inspektur Lucca yang terus menembak mati beberapa penyusup lainnya yang muncul.
“Livia...” gumamnya di tengah lelahnya juga tak menepati terus wanita itu sedari tadi padahal ia berangkat bersamanya. “Kemana dia ?”
Tepat di saat pria itu break sejenak menembak dan menatap ke samping mencari keberadaan Livia, lima peluru melesat ke arahnya.
“Astaga aku lengah.” Inspektur Lucca bisa mendengar suara peluru yang menuju ke arahnya dan segera siaga kembali sembari balas menembak dan juga menghindari peluru tadi.
“Awas Inspektur !” teriak Livia dari atas setelah turun dari atap gedung melihat satu peluru yang tak bisa di tahan pria itu.
“dash !” peluru yang seharusnya mengenai Inspektur Lucca, kini mengenai Livia yang membuat wanita itu jatuh.
“Livia !” Inspektur Lucca segera menangkap wanita itu sebelum jatuh terhempas ke tanah.
__ADS_1