Shadow Girl

Shadow Girl
Eps. 16 Pengakuan


__ADS_3

Inspektur Lucca masih berdiri diam mematung di depan sosok yang terlihat benar-benar berbeda kali ini.


“Livia.” panggil Inspektur lagi namun Livia masih saja tak meresponnya.


Wanita itu seperti tersihir saat menatap rembulan yang penuh kala itu dan tak mendengar panggilan Inspektur yang berulang kali menyebut namanya.


“Ada apa dengannya ? Kenapa terlihat aneh sekali ?” Inspektur Lucca masih menatap intens Livia yang belum turun dari pohon. “Livia cepat turun, apa kau tidak kedinginan ?” ucapnya bukan tanpa alasan karena memang saat itu angin malam bertiup sangat dingin sekali apalagi jika seorang wanita keluar malam ini tanpa mengenakan jaket tebal.


“Livia !” Inspektur Lucca sampai memanggilnya kembali entah untuk yang ke berapa kali dan kali ini wanita itu meresponnya dengan menatapnya.


Namun aneh sekali tatapan Livia kali ini. Ia terlihat seperti tidak mengenali Inspektur Lucca dan mantap pria itu dengan sedikit marah.


“Aku tidak tahu Kenapa kamu keras kepala sekali malam ini.” desau Inspektur Lucca yang menjadi tak sabar karena sikap Livia.


Pria itu pun melompat ke atas pohon sambil melepas jaketnya yang secara tak sengaja menutupi bulan penuh di depan Livia.


“Inspektur Lucca !” pekik Livia yang tiba-tiba tersadar saat tak lagi melihat bulan purnama dan warna iris matanya kembali berwarna hazel. “Kenapa Inspektur ada di sini ?” tanyanya terkejut.


Inspektur mengenakan jaket yang sudah ia lepas itu pada Livia kemudian duduk di sampingnya.


“Ohh...” Livia kembali mengucapkan matanya saat menatap bulan yang tampak penuh di depannya tak ada halangan lagi.


“Livia apa yang terjadi padamu ?” pekik Inspektur Lucca terkejut saat melihat warna mata Olivia yang kembali berubah menjadi merah. Tak hanya matanya saja yang terlihat aneh tapi gigi taringnya juga terlihat lebih meruncing dari biasanya.


“Kau jangan bercanda denganku.” Inspektur Lucca tiba-tiba mempunyai firasat buruk. Ia menatap intens wajah Livia yang menatapnya dengan tatapan kosong namun penuh dengan amarah.

__ADS_1


“Apa dia...” pria itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengingat kembali pernah membaca sebuah buku literatur yang menerangkan keberadaan makhluk seperti Livia. Seorang vampir yang menjadikan manusia sebagai santapan dengan menghisap darahnya.


Namun meskipun begitu literatur mengenai keberadaan sosok vampir juga masih dipertanyakan keabsahannya karena sampai detik ini tak ada satupun yang pernah berjumpa dengan makhluk tersebut.


“Tidak, ini pasti tidak benar.” gumam Inspektur Lucca tak mau dan tak ingin mempercayai hal tersebut.


Ia mencoba mengingat kembali salah satu literatur yang pernah dibacanya yang menyebutkan jika seorang vampir akan seperti terhipnotis saat melihat bulan purnama. Maka ia pun mencoba untuk mematahkan hal tersebut.


Pria itu mengambil kembali jaketnya dan menutupi bulan yang tampak penuh dengan jaketnya.


“Livia ?”


Anehnya saat pandangannya terhalang dengan jaket mata wanita itu kembali berubah ke warna aslinya.


“Livia kau manusia biasa seperti diriku bukan ?” tegas Inspektur Lucca namun wanita itu tak meresponnya sama sekali. “Oke aku tak tahu kau manusia atau bukan manusia tapi setidaknya kita kembali ke rumah dulu.”


“Livia...” ucap pria itu setelah masuk ke rumah dan mendudukkan Livia di salah satu sofa.


Karena Inspektur melihat Livia belum sepenuhnya sadar, maka ia pun menutup semua tirai jendela dengan rapat bahkan mematikan lampu yang ada di rumah dan menggantinya dengan nyala lampu yang redup.


“Inspektur Lucca...” pekik wanita itu terkejut beberapa menit setelahnya saat menatap ruangan yang tampak temaram dalam kesadaran penuh.


Livia menatap tatapan menuntut dari pria yang duduk di sampingnya meminta penjelasan pada dirinya.


Gleg

__ADS_1


Livia menelan salivanya dengan berat. “Pasti dia sudah melihat sosok asliku karena bulan purnama.” batinnya mencoba menghindari tatapan dari pria yang tak sanggup dibalasnya.


“Inspektur kenapa kau mematikan lampu di rumah ini ?” ucapnya pelan dan akan berdiri untuk menyalakan lampu di ruangan itu.


“Duduklah, kita bicara sebentar.” Inspektur Lucca menarik tangan Livia dan tak mengizinkan wanita itu beranjak dari tempatnya.


Livia pun menurut saja sambil menarik nafas panjang bersiap untuk banyaknya pertanyaan yang akan dilontarkan padanya.


“Livia aku hanya ingin mendengar jawaban jelas darimu.” Inspektur Lucca melepaskan tangan yang setelah wanita itu duduk sembari menatap dirinya. “Kenapa mata mu berubah merah di bawah sinar bulan purnama ?”


Livia menatap intens pria yang ada di sampingnya. “Apakah memang sudah waktunya aku mengungkapkan identitasku padanya ?”


“Livia...” panggil pria itu lagi karena masih saja wanita itu terdiam.


Beberapa detik setelahnya Livia pun menceritakan pada Inspektur Lucca identitasnya yang memang merupakan seorang vampir dan di mana tempat tinggalnya.


“Oh...” Inspektur Lucca menghembuskan nafas berat setalah mengetahui identitas asli Livia dan identitas yang pernah diceritakan padanya sebelumnya adalah palsu dan ia pun mengetahui apa penyebab wanita itu menceritakan identitasnya sejak awal pada dirinya.


Livia menatap pria yang duduk di sampingnya yang tampak tegang, gugup serta terkejut yang bercampur aduk menjadi satu.


“Inspektur.” kini giliran Livia yang memanggil-manggil pria tersebut untuk yang ketiga kalinya karena dari tadi pria itu diam tak bicara sama sekali setelah mendengarkan pengakuannya.


Ya, inspektur Lucca masih shock dan masih tak mengira saja dengan identitas Livia. “Pantas saja dia sangat misterius, susah ditemukan dan kuat sekali.”


“Inspektur.”panggil Livia untuk yang keempat kalinya dan barulah pria itu merespon.

__ADS_1


“Livia aku lelah dan ingin beristirahat.” pria itu pun kemudian meninggalkan Livia masuk ke kamar setelah minta izin padanya.


“Apa dia menghindariku setelah mengetahui identitasku ?” gumamnya lirih menatap pintu kamar Inspektur yang sudah tertutup dengan tatapan sedih.


__ADS_2