
Di suatu pagi Inspektur Lucca bangun kesiangan di rumahnya setelah mendapatkan cuti bertugas selama tiga hari.
Pria itu sengaja bangun siang setelah bisa tidur nyenyak dan beberapa waktu sebumya ia sangat terganggu sampai tak bisa tidur.
Di luar rumah ada Aiptu Daniel yang datang untuk berkunjung ke rumah Inspektur dengan suatu maksud dan tujuan.
“Aku tidak yakin apakah Inspektur Lucca mau menerima tugas ini di saat cuti kerja.” Aiptu Daniel turun dari mobil dengan membawa berkas berjalan menuju ke rumah Inspektur.
Pria itu berhenti tiga meter di depan rumah Inspektur karena mempunyai bad feeling. “Kenapa perasaanku tak enak ?” pria itu menetap ke sekitar namun terhadap apapun disana. “Mungkin ini hanya perasaanku saja.”
Aiptu Daniel meneruskan langkahnya dan tepat pada langkah kaki ketiga sebuah detonator mini meledak.
“Sial !” untung saja pria itu waspada juga ganteng dan bisa menghindarinya sebelum terkena ledakan dengan menyingkir sejauh mungkin dari area ledakan.
“Oh, untunglah aku selamat.” Aiptu Daniel bernafas lega sembari bangkit. “Inspektur Lucca sungguh benar-benar gila kenapa ia memasang peledak di sekitar rumahnya ?” pria itu jadi enggan untuk melangkahkan kakinya, takut terkena ledakan kembali.
“Hiss... siapa pagi-pagi begini menyerang ku ? Sungguh bayangan itu mengganggu saja.” Inspektur Lucca bangun setelah mendengar bunyi ledakan di sekitar rumahnya.
Ya, setelah peristiwa dikepungnya rumahnya oleh bayangan misterius pria itu memasang jebakan juga bom di sekitar rumahnya yang akan meledak dan menghancurkan semua penyusup yang akan masuk ke rumahnya. Dan karena itu juga kini ia bisa tidur pulas.
“Sudah hampir siang rupanya.” Inspektur Lucca dia masih ingin tidur tak bisa tidur kembali setelah melihat waktu sudah menunjukkan siang hari. “Coba kulihat berapa orang yang hancur terkena bom ku.”
Inspektur Lucca membuka pintu dan terkejut saat melihat ada siapapun yang tergeletak di depan rumahnya melainkan ada satu orang yang berada di sana.
“Aiptu Daniel ?” ucapnya sambil mengerutkan kening melihat anggotanya itu mengeluarkan ponsel dan terlebih lagi saat ini ponsel di saku bajunya berdering di saat bersamaan.
“toot.” Inspektur Lucca menolak panggilan setelah mengetahui yang meneleponnya adalah Aiptu Daniel.
“Stop jangan bergerak ! Aku akan menonaktifkan detonator ku dulu.” Inspektur menekan panel yang ada di dekat pintu masuk dan menonaktifkan semua perangkap peserta bom yang rakit di sana. “Sekarang masuklah.”
__ADS_1
Aiptu Daniel berjalan masuk dengan tenang ke rumah Inspektur Lucca.
“Ada apa Aiptu Daniel ?” tanya Inspektur Lucca melihat berkas yang dibawa oleh anggotanya itu.
“Ada tugas dari kantor pusat untuk menangkap Jhon Lee, tersangka kasus penyerangan presiden di gedung putih beberapa waktu lalu.”
“Haah.” Inspektur Lucca naik bebas panjang laki-laki di waktu cutinya ia mendapatkan tugas. “Coba lihat berkasnya.”
“Ini Inspektur.” Aiptu Daniel menyerahkan berkas berisi data informasi mengenai target operasi kali ini pada Inspektur yang langsung mempelajarinya dengan cepat.
“Kantor pusat bilang jika Inspektur tak bersedia karena sedang bebas tugas tak masalah, dan tugas penangkapan ini akan dialihkan pada yang lainnya.” ucap Aiptu Daniel menjelaskan karena memang dia ragu mengingat selama ini Inspektur jarang mengambil cuti kerja.
“Ya, aku mau.” Inspektur Lucca menyerahkan kembali berkas tersebut dan menerima tugas itu karena sudah cukup menghabiskan cuti dua harinya hingga ia merasa bosan berada di rumah. “Tunggu aku di sini.”
Pria itu kemudian menuju ke ruangan lain untuk bersiap.
“klik.” di luar pintu, Inspektur Lucca mengeluarkan remote kecil dari saku seragamnya dan mengaktifkan kembali detonator mininya di sekitar rumah barulah ia naik ke mobilnya.
“Kemana kita harus pergi ?” tanya Inspektur Lucca menatap mobil Aiptu Daniel yang terparkir di sebelah mobilnya.
“Ke White Loss, Inspektur.”
Aiptu Daniel kemudian menunjukkan jalannya setelah Inspektur Lucca memintanya jalan lebih dulu dan ia mengikut di belakang mobil anggotanya tersebut.
Hingga sore menjelang malam barulah Inspektur Lucca selesai menjalankan tugasnya serta menginjakkan kakinya ke rumah.
“Besok aku sudah harus bekerja dan hari ini adalah cuti terakhirku.” pria itu turun dari mobil dan tiba-tiba saja merasa ingin mendapatkan cuti tambahan setelah selesai menjalankan tugasnya.
“klik.” ia menonaktifkan detonatornya saat memasuki rumah dan mengaktifkannya kembali begitu masuk ke rumah.
__ADS_1
“Semoga saja aku bisa tidur nyenyak malam ini.” gumamnya berbaring di tempat tidur kemudian memejamkan matanya yang terasa berat.
Di atas atap ada seorang wanita yang memantau keadaan sekitar rumah Inspektur.
“Lucca... aku sudah musnahkan semua yang mengejarmu malam ini seperti malam-malam sebelumnya.” gumamnya tersenyum tipis memainkan belati kecilnya sembari menatap ke bawah.
Ya, wanita itu tak lain tak bukan adalah Livia Neve. Tanpa sepengetahuan dari Inspektur Lucca, setiap hari dia datang ke rumahnya untuk memusnahkan semua sosok pria misterius yang jumlahnya semakin hari semakin banyak.
“boom.” Dua jam berikutnya Inspektur Lucca terpaksa membuka matanya saat mendengar bom di sekitar rumahnya meledak. “Gangguan datang lagi.”
Pria itu kemudian mengambil senapan laras panjangnya yang tergantung di dinding dan menuju ke pintu.
“krak.” begitu pintu terbuka ia melihat banyak mayat pria misterius yang terbakar dengan jumlah dua kali lipat dari jumlah biasanya.
“Hap.” seseorang melompat turun dari atap dengan kelopak mawar merah berjatuhan dan salah satu kelopak jatuh di tengah Inspektur. “Livia... kau kah itu ?”
Wanita tadi berbalik dengan mengibas rambut panjangnya. “Inspektur Lucca, awas masih ada beberapa bom yang aktif tepat di kaki kiri mu.” Livia mengingatkan sebelum dia itu melangkahkan kakinya dan terkena ledakan bomnya sendiri.
“Oh.” Inspektur Lucca kemudian segera mengeluarkan remotenya dan menonaktifkan semua bomnya. “Jadi kau yang membantuku kembali menghancurkan mereka ?” ucapnya tak percaya.
“Kembalilah tidur Inspektur Lucca.” balas Livia akan beranjak pergi dari sana.
“Nona Livia tunggu !” Inspektur mengejar Livia. “Tinggallah di sini bersama ku.”
Livia berhenti mendengar tawaran dari Inspektur. “Aku tidak bisa.”
“Kau jangan salah paham dulu pada ku.” Inspektur Lucca melanjutkan ucapannya yang belum selesai. “Karena kau sering membantuku kenapa kau tidak membantu ku bertugas saja ?”
Livia diam dan berpikir. Ia tak bisa sembarangan memutuskan begitu saja. “Lucca apa sudah saatnya aku bersamamu ?”
__ADS_1