
Inspektur Lucca melihat buku di hadapannya dan terkejut lagi saat melihat gambar sebuah makam dengan sebuah pedang yang tertancap di batu nisannya.
“Ini... apa mungkin ada tempat seperti ini ?” ia melihat makam yang persis dengan makam yang ia lihat dalam mimpinya bahkan background batu cadas yang mengelilingi makam tersebut.
“Knoxville ?” Inspektur Lucca menyebut nama daerah yang tertulis di buku tersebut sambil mengerutkan beningnya seumur-umur baru kali ini ia mengetahui nama tersebut meskipun ia sudah menjelajah semua tempat di sana dalam tiap penyelidikan atau pun penangkapan target.
“Daerah apa itu ?” bahkan Livia juga tak pernah mendengar nama daerah tersebut. “Coba lihat.”
Livia mengambil buku dari hadapan Inspektur dan membacanya untuk mencari lokasi tempatnya daerah tersebut.
Tertulis di buku jika Knoxville merupakan daerah yang terletak diantara negeri manusia dan juga negeri vampir yang sangat terpencil dan susah dijangkau.
Sedangkan makam Phormosa sendiri merupakan makam seorang vampir yang merupakan hasil campuran antara manusia dan vampir yang di keramat kan karena hanya dialah satu-satunya keturunan campuran vampir-manusia yang pernah ada di muka bumi.
“Jadi ada vampir yang merupakan campuran seperti ini ?” ucap Livia heran setelah membaca informasi dari buku tebal bersampul merah kusam tersebut.
“Jadi... apakah kau mau mencarinya ?” tanya Inspektur Lucca menutup buku tersebut kemudian menumpuknya dengan buku lain di meja.
Livia berdiri setelah pria itu berdiri lalu menahan langkahnya.
“Lucca ambillah cuti beberapa hari.” ucapnya menatap intens kekasihnya itu sembari mengusap pipinya dengan lembut juga tatapan memohon yang membuat pria itu luluh lantak seketika tak bisa menolaknya.
__ADS_1
“Livia aku mau mengambil cuti hari ini sampai beberapa hari ke depan tapi ada imbalannya.” balasnya menatap intens wanita itu.
“Ya, apa kompensasinya aku akan berikan padamu sekarang juga.”
Inspektur Lucca tak bicara lagi dia pun segera menarik tubuh Livia merapat sembari menyentuh bibir merah ranum itu kemudian segera menciumnya.
“Lucca apa hanya ini saja yang kau minta ?” ucap Livia sudah tahu tapi bibir mereka terlepas.
“Tentu saja tidak, aku minta yang lebih dari ini.”
“Aah... Lucca kau...” Inspektur Lucca segera menggendong dan membawa Livia masuk ke kamar.
“Jadi apa kau akan mengajukan cuti hari ini ?”
“Tentu saja sayang.” balas pria itu sembari mengecup kening Livia.
Livia pun mengambilkan ponsel Inspektur yang ada di meja di dekat tempat tidur. “Ini ponsel mu.”
Inspektur Lucca menerima ponsel yang diambilkan oleh Livia kemudian segera menghubungi kantor dan menyampaikan ia mengambil cuti selama 5 hari ke depan setelah melihat Livia menunjukkan lima jari di depannya.
*
__ADS_1
*
Satu jam setelahnya mereka berdua selesai bersiap dan sekarang melakukan perjalanan menuju ke Knoxville. Tempat yang jauh dari tempat mereka berada saat ini, tentunya.
“Apa kau sudah bawa petanya ?” tanya Livia setelah mereka berjalan beberapa meter dari rumah Inspektur.
“Tak perlu membawa peta segala. Peta itu sudah ada di otak ku.”
“Kau yakin sudah mengingatnya dengan baik ?” bukannya Livia ragu pada kemampuan Inspektur memetakan lokasi, tapi hanya waspada saja jika mereka akan tersesat di tengah jalan.
“Jangan khawatir aku membawa kompas.” Inspektur Lucca melihat sedikit kecemasan di wajah kekasihnya itu kemudian mengeluarkan kompas yang di bawanya selain membawa senapan laras panjangnya.
whir
Dari jauh terdengar suara helikopter yang datang tepat di atas mereka.
“Lucca kau memakai helikopter kantor ?” Livia menatap helikopter yang ada di atas mereka yang kemudian terbang merendah. “Apa itu tidak dihitung sebagai pelanggaran ?” Livia tersenyum kecil dengan tatapan hangat menetap Inspektur.
“Sesekali tak masalah, karena saat ini tak ada yang menggunakan heli itu.”
Inspektur Lucca dan Livia kemudian melompat naik ke helikopter itu yang terbang lebih merendah lagi.
__ADS_1