
Inspektur Lucca masih terkejut dengan penjelasan Livia. menurutnya selama ini dia tak pernah punya musuh di luar pekerjaannya. Bagaimana bisa sampai ada yang mengejar dirinya juga menghapus ingatannya.
“Siapa dia, apa kau tahu ?” tanya pria itu kembali menuntut karena semakin banyak pertanyaan yang ingin dilontarkannya pada Livia.
“Pelan-pelan Inspektur.” jawab Livia singkat seperti biasanya dan cenderung terkesan dingin, ciri khas wanita itu. “Aku akan menjawab satu per satu pertanyaan mu.”
Livia terlihat sudah siap menjawab pertanyaan yang akan diajukan oleh Inspektur padanya, bahkan dia sudah lama menunggunya.
“Siapa aku, apakah aku vampir sama seperti dirimu ?” tanya pria itu dan Livia meresponnya dengan menggelengkan kepala.
“Oh aku manusia ?” ucapnya dengan tertawa, tepatnya menertawai dirinya sendiri yang salah tebak. “Tapi bagaimana aku bisa mengenalmu ?”
Kali ini ganti Livia yang terdiam dan mencoba mencari penjelasan yang sangat simpel agar mudah dimengerti oleh pria tersebut.
“Hubungan kita sangat dekat, inspektur.” Livia ingin mengungkapkan yang sebenarnya tapi ia takut pria itu tak bisa menerima kenyataan secepat itu.
Inspektur tempat mengerutkan keningnya dia tak tahu hubungan dekat seperti apa yang dimaksud Livia, namun saat ini dia me-skip pertanyaan itu dan beralih ke pertanyaan berikutnya.
“Lalu siapa pria dan pengawal yang mengejarku juga menghajar ku ?”
“Itu... keluarga vampir.” jawaban Livia kembali membuat pria itu mengerutkan keningnya bagaimana bisa ia berurusan dengan keluarga vampir jika ia tak punya hubungan dengan seorang vampir. “Lalu kenapa mereka mengejar ku ?”
Livia kembali terdiam memikirkan jawaban yang tepat serta mudah dipahami oleh pria tersebut.
__ADS_1
“Mereka tidak suka padamu.”
“Oh...” Inspektur Lucca menghentikan pertanyaannya sembari memegang kepalanya yang kini terasa berat. Berat bukan karena pusing tapi karena syok karena sampai membuat Keluarga vampir membencinya yang berarti ia membuat masalah dengan mereka.
“Inspektur sebaiknya kau istirahat dulu besok kita lanjut lagi.”Livia tahu pria itu belum siap menerima semua informasi darinya dan ia pun tak ingin memaksanya, daripada hasilnya tidak baik.
Inspektur berdiri dan baru saja ia berjalan dua langkah ia kembali berhenti lalu berbalik.
“Adakah cara cepat untuk mengembalikan ingatan ku agar aku tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku ?” ucapnya terdengar putus asa sekaligus memohon.
Livia menunjukkan senyum tipisnya di depan pria itu, “Ada Inspektur tapi butuh proses dan waktu yang tidak cukup dalam satu hari saja.”
Inspektur Lucca sebagai penasaran saja dengan cara atau metode yang dimaksud oleh Livia seperti apa. “Tunjukkan pada ku Livia.” desaknya memaksa.
“Darah.” Livia maju kemudian menyentuh leher Inspektur yang membuat pria itu menelan salivanya dengan berat. “Dengan menghisap darahmu maka ingatanmu akan kembali.” ia menarik kembali tangannya dari leher pria itu karena bisa merasakan ketakutan yang dirasakan oleh Inspektur dan ia tak mau menakuti pria tersebut.
“Ji-jika begitu hisap saja darahku seperti beberapa waktu yang lalu.” ucapnya memaksakan diri karena sejujurnya ia masih teringat saat pertama kali dia menghisap darahnya yang membuatnya takut dan itu terjadi lagi kali ini.
“Kau yakin Inspektur akan memberikan darahmu padaku ?”
“Yakin dan hisaplah darah ku sekarang.” Karena Livia hanya diam saja terpaku menatapnya maka pria itu menariknya dalam dekapannya. “Hisaplah.” ia menyerahkan lehernya pada Livia dan bersiap menahan sakit sebelum di hisap.
“Aku tidak haus ataupun sedang terluka, inspektur.” bisik Fiona lirih masih memeluk Inspektur dan ingin memeluknya lama karena sudah lama ia tak merasakan pelukan dari pria tersebut semenjak kejadian terakhir yang memisahkan mereka.
__ADS_1
Livia merasa hangat berada dalam pelukan Inspektur Lucca yang sebenarnya adalah kekasihnya, yang selama ini selalu ia lindungi dan jaga dari jarak jauh dari serangan para vampir yang mengejarnya.
“Hisap saja demi aku yang ingin mengingat kembali masa laluku meskipun kau tidak haus ataupun terluka.” Inspektur Lucca terus memaksa sehingga membuat Livia pun terpaksa melakukannya. “bersiaplah Inspektur.
Livia menghisap darah di leher Inspektur dan pria itu semakin mempererat pelukannya karena menahan rasa sakit saat taring itu menembus pembuluh darah di lehernya.
Saat Livia menghisap darah Inspektur ia melepaskan suatu zat, bertukar dengan darah tadi yang bisa memulihkan memori yang hilang atau terhapus.
Satu jam setelahnya pria itu sudah berbaring di tempat tidur dan tentu saja dalam keadaan tidur. Beberapa jam setelahnya ia kembali bermimpi bertemu dengan Livia.
“Lucca tunggu aku jangan berjalan terlalu cepat.” ucap Livia berada di depan sebuah rumah mewah yang hampir mirip dengan kastil Inspektur Lucca.
“Livia tinggalkan aku dan sebaiknya kau cari pria jadi jenis vampir seperti diri mu yang kuat dan tidak lemah seperti aku yang tidak bisa melindungi dirimu.” pria itu terlihat kecewa bercampur marah, tak mengharukan Livia.
“Lucca, bagi ku tak ada yang bisa menempati hatiku selain dirimu.”
Wanita itu bergerak cepat dan kini sudah ada di depan Inspektur Lucca menghentikan langkahnya. Saat pria itu berhenti ia pun segera mencium bibirnya sambil memeluknya dengan erat.
“Aku mencintai mu, Lucca.”
“Aah.” Inspektur Lucca pun bangun dari tidurnya dengan berkeringat dingin mengingat mimpi yang seolah seperti nyata baginya.
“Livia apa kita adalah kekasih ?”
__ADS_1
Inspektur Lucca menjadi bias apakah yang dilihatnya dalam mimpi hanyalah sebuah mimpi atau gambaran ingatan masa lalunya yang nyata.