Shadow Girl

Shadow Girl
Eps. 7 Suara Berisik


__ADS_3

Inspektur Lucca menatap dan mengamati anak panah yang dipegangnya. “Aneh sekali masih ada yang menggunakan senjata seperti ini untuk menyerang.” gumamnya kemudian kembali menatap ke sekitar.


“Livia, kau kah itu ?” pria itu keras kepala dan bukannya menghindar melainkan mengejar sosok bayangan tadi. “Tak ada yang jejak mawar merah di manapun.”


Ya, ia meyakini jika itu adalah Livia kemudian mencari jejak mawar merah yang biasa ditinggalkan oleh wanita itu yang ternyata tak ada.


“Jadi... itu bukan diri mu.” Inspektur Lucca terlihat kecewa dan seketika menjadi waspada karena ia tak tahu siapa bayangan itu yang kini mengejarnya.


Inspektur Lucca kembali berlari untuk mengejar sosok bayangan tadi yang menghilang dengan tiba-tiba.


“huft... aku benar-benar telah kehilangan jejak.” pria itu pun kemudian berhenti mengejar setelah sepuluh menit lagi sempat berlari dan memutuskan untuk kembali ke mobilnya menunggu kedatangan timnya.


Setelah kepergian Inspektur Lucca, dua sosok bayangan muncul.


“Kenapa kau mengejar Lucca ?” tanya seorang wanita pada sosok bayangan yang kini berubah menjadi sosok pria bermata hitam pekat juga menyeramkan.


Pria tersebut tak menjawab dan langsung menyerang sosok wanita tadi yang tak lain adalah Livia. Ya, mereka kemudian Portugal sehingga ada salah satu dari mereka yang menang.


Di mobil, Inspektur Lucca merasa lama menunggu timnya kembali. “Apa aku perlu kembali ke sana untuk memeriksanya ?” ia turun dari mobilnya lalu menuju ke mansion James.


“Inspektur misi selesai.” ucap Aiptu Daniel memberikan laporan padanya di tengah jalan setelah keluar dari mansion keluarga James.


“Ya, tapi kau dan lainnya terlambat 15 menit.” jawab Inspektur Lucca sambil melirik pada jam yang melingkar di tangannya.


“Siap, salah Inspektur !” kali ini tak hanya Aiptu Daniel saja yang menjawabnya tapi semua tim yang ada di sana ikut menjawabnya secara bersamaan.


“Bereskan yang lainnya.” ucap Inspektur Lucca menatap ada beberapa pria lain yang belum tertangkap, bersembunyi di balik balkon mansion keluraga James.


“Siap Inspektur !” jawab mereka serempak dan beberapa langsung bergerak sesuai dengan instruksi Inspektur Lucca.

__ADS_1


“Jangan lupa hukuman kalian karena terlambat dan kelolosan dua orang, apel jaga selama satu minggu penuh.” tambahnya kemudian segera berlalu meninggalkan timnya dan masuk kembali ke mobilnya, menginjak gas setelahnya.


Inspektur Lucca terkenal dengan kedisiplinannya yang tinggi. Meskipun para anggotanya sukses menjalankan misi yang akan tetap mengenakan sanksi jika anggota nya tidak tepat waktu dalam menjalankan setiap misi yang ia berikan.


Pria itu kembali ke kantor dan memarkir mobil setibanya di sana.


“kriiing....” dari luar terdengar nyaring suara telepon berdering.


“Oh... siapa yang menelepon ku ?” Inspektur Lucca kemudian bergegas masuk ke ruangannya. “Ya, halo.” ucapnya setelah mengangkat telepon sambil duduk dan merilekskan bahunya yang kaku setelah menjalankan misi.


“Inspektur Lucca, maaf baru sempat mengabarimu karena kesibukan ku.” jawab seorang pria di telepon.


“Ya, Sherif Dave.” balasnya berharap pria itu meneleponnya untuk memberikan kabar bagus padanya.


“Maaf inspektur aku sudah melacak data gadis bernama Livia Neve itu dan tak menemukannya di mana pun di San Marino ini.”


Inspektur Lucca terlihat mengenal nafas berat mendengar berita yang sungguh tak diinginkannya. “Baik, terima kasih atas bantuannya Sherif Dave.” namun ia tetap mengucapkan terima kasih pada sherif yang telah membantunya sekedar untuk menghargainya.


“Deputi Brillant maaf aku mau keluar sebentar.” Inspektur Lucca meminta izin pada deputi yang ada di sana setelah tiga jam menemani untuk keluar menyesap kopi saja.


“Ya, Inspektur Lucca.” Deputi Brillant memberinya izin. “Inspektur jangan lupa bawakan kopi untuk ku juga nanti.”


“Tentu saja deputi.” Inspektur Lucca kemudian berjalan dengan santai keluar dari barak pelatihan menuju ke mobilnya.


Pria itu maju di jalanan dan mencari tempat makan terdekat dan berhenti setelah 10 menit mengendarai mobil.


“Tolong satu kopi panas.” pria itu segera memesan setelah masuk dan mencari tempat duduk untuknya.


“Ini tuan kopi anda.” pelayan membawakan secangkir kopi panas ke meja Inspektur Lucca yang langsung di minumnya sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Di saat pria itu tengah menikmati secangkir kopi panasnya, ia tiba-tiba mendingan sesuatu yang aneh.


“Suara apa itu ?” ia mendengar suara derap langkah kaki banyak orang yang keras menuju ke arahnya. “Aneh, tak ada siapapun di depan sana.” gumamnya lagi sambil berdiri serta menarik pistol dari sarungnya, bersiap untuk menembak jika saja itu adalah komplotan dari para penjahat yang telah ditangkapnya dan ingin balas dendam padanya.


“Mungkin aku hanya lelah dan sepertinya butuh refreshing hingga aku mendengar suara seseorang yang memburu.” gumamnya lagi sembari menyesap kopinya yang sudah menjadi hangat dan sebelum kopi itu menjadi dingin.


“drap-drap.” Inspektur Lucca kembali mendengarkan suara derap langkah kaki banyak orang tepatnya seperti suara prajurit yang sedang berbaris.


“Aneh sekali, aku mendengar suara itu lagi.” Inspektur Lucca kembali menoleh ke sekitar mencari sumber asal suara tersebut. “Kenapa aku merasa suara itu dekat sekali denganku ?”


Pria itu kemudian mencoba menetap ke bawah karena suara itu berasal dari tanah yang dipijaknya. Ada barisan semut hitam yang berjalan keluar dari sarangnya tepat di sekitar sepatu Inspektur Lucca.


“Apa mungkin itu bukanlah suara prajurit yang berbaris namun suara barisan semut ini ?” gumamnya lirih masih menatap barisan semut di dekat kakinya.


Lama pria itu menatap barisan semut tadi sekitar 5 menit lamanya hingga membuat kopinya dingin.


“Nona tolong buatkan aku secangkir kopi panas lagi.” ucapnya pada pelayan yang ada di sana setelah mendapati kopi yang ada di mejanya sudah dingin.


“Ya, tuan.” jawab pelayan segera membuatkan kopi baru lalu segera membawanya ke meja Inspektur.


“Terimkasih.” pria itu segera menyesap kopinya sebelum kembali dingin dan membuat rasanya sudah tak enak lagi. “Mungkin aku hanya berhalusinasi saja karena kelelahan.” ucapnya pada dirinya sendiri.


Malam hari saat berada di rumah, pria itu sedang berbaring di tempat tidurnya. Entah Kenapa malam ini Dia terlihat gelisah dan susah untuk tidur.


“Hiss... suara berisik apa ini ?” ia menatap ke arah jam dinding di mana suara detaknya terdengar seperti dentuman bom yang meledak setiap detiknya.


“Ada apa denganku ?” ia bahkan sampai mengambil bantal untuk menutupi wajahnya dengan suara berisik itu masih terdengar.


Inspektur Lucca juga mengambil penutup telinga karena masih mendengar suara berisik yang membuatnya tak bisa tidur.

__ADS_1


“Ada apa dengan pendengaran ku ?” keluhnya merasa hampir gila karena bisa mendengarkan suara daun jatuh dari pohonnya di luar jendela.


Tanpa sepengetahuan Inspektur Lucca dari luar rumahnya ada sepasang mata yang menetap ke rumahnya.


__ADS_2