Shadow Girl

Shadow Girl
Eps. 26 Mendapatkan Sepenuhnya Ingatan


__ADS_3

“Lucca.... !” teriak Livia cemas melihat Inspektur jatuh tercebur ke sungai di depannya. Bukan takut karena pria itu akan tenggelam ke dasar sungai, melainkan karena sungai itu bukanlah sungai biasa.


Sungai Thames merupkan sungai buatan yang sengaja dibuat oleh warga vampir di sana sebagai pembatas dunia manusia dan vampir. Bukan hanya itu saja, bahkan Sungai Thames akan membinasakan manusia yang tercebur ke sana.


“Gawat !” Livia terlihat begitu panik dan ia langsung menceburkan diri ke dalam sungai untuk mencari kekasihnya yang sudah hanyut ke dalam sungai.


“Dimana dia ?” Livia mencari sampai ke dasar sungai namun tak menemukan Inspektur juga. “Lucca kau dimana ?” ia pun menyusuri sungai sepanjang satu mil itu karena tak ingin Kehilangan satu-satunya pria terus diperjuangkannya sampai saat ini.


Di ujung lelahnya Livia bersistirahat sebentar untuk menyetabilkan nafasnya baru akan mencari kembali.


“Argh.” Livia terkejut saat merasa ada sesuatu di belakangnya dan menyentuh bagian punggungnya. Karena merasa aneh maka ia pun berbalik. “Lucca... ! Akhirnya aku menemukanmu.”


Livia melihat Inspektur yang tak sadarkan diri melayang di belakangnya. “Semoga saja aku belum terlambat.”


Ia segera membawa tubuh Inspektur dan berenang naik ke permukaan, merebahkannya ke tepi.


“Lucca... bangunlah.” Livia mencoba menepuk-nepuk ringan pipi inspektur untuk menyadarkannya namun pria itu tidak membuka matanya yang membuat Livia semakin panik.

__ADS_1


Tubuh Inspektur Lucca masih hangat namun wajahnya pucat.


“Lucca kau harus segera sadar.” Livia mencoba cara lainnya untuk menyadarkan pria tersebut.


Sementara Inspektur dalam tidurnya mengalami ilusi. Ya, ternyata sungai Thames akan memberikan ilusi pada manusia yang terkena air sungai tersebut dan itu tidak di ketahui oleh Livia. Jika dia tahu, pasti tak akan membiarkan pria itu melompat apalagi sampai jatuh.


“Hiss.” Inspektur Lucca menahan sakit saat seorang pria menusuk punggungnya setelah berpisah dengan Livia di hari kencan mereka. Tak hanya tersayat, namun punggungnya ikut melepuh.


“Theodore Neve, aku tak ada urusan denganmu dan sama sekali tak pernah menyentuhnya tapi kau yang mulai duluan.” pria itu menarik belati kecil dari bahunya lalu melemparnya sembarangan dan seketika kulitnya berhenti melepuh telah berlatih itu tertarik dari bahunya.


“Kau manusia lemah tak pantas bersanding dengan putriku. Jika kau sampai menikah dengannya maka akan jadi seperti apa keluarga ku di mata semua bangsa vampir.” pria itu kemudian mengeluarkan kekuatan yang membuat tubuh Inspektur Lucca terhempas hanya dengan tangan kosong yang sama sekali tak menyentuhnya.


“Argh....Livia tolong aku.” gumam lirih Inspektur saat pria tadi sudah pergi dan sebelum tak sadarkan diri.


“haah...” Inspektur Lucca membuka mata saat merasakan bibirnya dingin.


Ya, Livia memberikan nafas buatan pada Inspektur setelah menekan dadanya setelah ada sedikit air keluar dari bibirnya.

__ADS_1


“Lucca... kau sudah sadar. Kau membuat panik saja.” Wanita itu mengakhiri memberikan nafas buatan. “Tetaplah seperti ini.” Inspektur Lucca kembali menarik Livia ke atas tubuhnya dan mendaratkan ciuman ke bibir wanitanya.


“mmm...” Livia membalas ciuman Inspektur dan merasakan hangatnya bibir pria itu berpindah ke tubuhnya.


Beberapa menit setelahnya mereka melepaskan tautan bibir mereka dan duduk bersebelahan.


“Jadi, luka di punggung kiri ku itu karena ayah mu ?” pria itu menyentuh bekas luka di punggung kirinya yang dia sendiri tidak tahu sebelumnya luka apa itu dan mengiranya merupakan luka yang ia dapat sewaktu masih kecil.


“Lucca, kau mengingat sesuatu ?” pekik Livia ikut mengusap luka di punggung lelakinya itu dengan lembut.


“Ya, ayah mu yang memaksaku meminum sebuah ramuan yang membuat semua ingatan tentang dirimu terhapus. Aku bahkan mengingat hal lainnya, semuanya.”


Ya, selain hal tadi Inspektur Lucca juga mengingat serpihan ingatan masa lalunya bersama Livia seperti puzzle yang tercerai-berai dan kini semuanya sudah lengkap.


“Lucca.” Livia pun segera memeluk pria di sampingnya. Ia sama sekali tak menyangka dengan musibah itu malah membawa berkah dengan kembalinya ingatan Inspektur. “Aku senang kau menjadi seperti dirimu lagi, kembali menjadi Lucca.


“Sayang.... ya, aku kembali. Aku Lucca mu.” Inspektur Lucca membalas pelukan Livia sembari mengusap rambut panjangnya.

__ADS_1


Dari arah belakang mereka ternyata ada banyak pasang mata yang sudah mengawasi sedari tadi dengan senyum menyeringai.


__ADS_2