
Setelah berjalan 10 menit mereka berdua pun tiba di kastil tua yang ada di sekitar sungai Thames. Mereka menatap kastil tinggi sekitar 17 meter, bercat putih bersih di depannya kemudian masuk.
Inspektur Lucca mengamati sekitar setelah masuk ke dalam kastil. Terlihat bagian dalam kastil itu megah, kontras dengan bagian luar yang tampak sederhana.
“Livia kapan aku terakhir kali ke sini ?” ucap pria itu tak bisa mengingat keberadaannya dulu di Kastil itu.
“Lucca kau tak pernah kesini. Tak ada yang salah dengan ingatan mu dan ini kali pertamanya kau ke sini.” jawab Livia seolah bisa mengerti pikiran pria tersebut yang menyalahkan ingatannya yang mungkin saja masih ada sedikit yang terhapus.
“Oh...” pria itu terlihat lega karena memang tak ada yang salah dengan ingatannya.
Ia pun kemudian duduk di sebuah kursi chrom panjang yang tertata sedemikian rapi di ruangan tersebut bersama Livia.
“Jika kau lelah tidurlah, Lucca.” ucap Livia saat melihat pria itu terlihat menguap beberapa kali.
“Tidak, aku tidak mengantuk, benar.”
Namun lima menit kemudian pria itu tak berkata apapun dan tiba-tiba menyandarkan tubuhnya ke bahu Livia.
“Kau bilang tidak mengantuk,” Livia tersenyum tipe saat menatap ke bahu kirinya dan mendapati pria itu sudah memejamkan matanya.
__ADS_1
Untuk sejenak Livia membiarkan Inspektur Lucca tertidur pulas.
“Lucca, aku akan pergi sebentar dan akan segera kembali.” Livia membaringkan Inspektur ke kursi panjang tersebut kemudian berjalan ke belakang kastil.
Wanita itu masuk lebih dalam hingga di bagian tengah ruangan ia berhenti di depan sebuah gambar yang tertutup pintunya.
“tok-tok.” Livia mengetuk pintu.
“Siapa ?” terdengar suara seorang wanita dari dalam kamar. “Tunggu sebentar.”
Pintu pun terbuka, terlihat seorang wanita keluar dari kamar itu yang tertegun menatap Livia.
“Tentu saja mother Theresa, ini aku. Apa kau sudah melupakan putri kecilmu ini ?” Livia tersenyumlah dan segera memeluk wanita seusia ayahnya namun masih terlihat cantik dan halus kulitnya, yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri dengan penuh kerinduan.
“Sudah lama sekali kau tak kemari. Ayo masuk dan bicara.” wanita itu menarik tangan Devia dan mengajaknya masuk ke dalam.
“Tidak, mother Theresa. Aku kemari mampir karena kebetulan lewat sini dan aku tidak sendiri kemari.” tolaknya dengan halus.
“Dengan siapa kau kemari ?”
__ADS_1
Livia tampak tersipu saat akan menjawab pertanyaan dari wanita tersebut yang membuatnya paham seketika.
“Apa kau kemari dengan seorang pria ?” tanya mother Theresa yang di angguki oleh Livia.
“Antar aku menemuinya. Aku ingin melihatnya.” tambah wanita yang juga merupakan ibu baptisnya Livia.
“Dia ada di depan.”
Livia kemudian mengantar ibu baptisnya itu ke depan dimana Inspektur Lucca berada.
“Manusia ?” pekik Mother Theresa yang berdiri di samping Inspektur Lucca setelah mengamati dan mengetahui pria itu seorang manusia. “Kenapa kau tak mencari yang sejenis dengan mu ?”
“Tidak mother, meskipun dia manusia tapi dia adalah yang terbaik dan selama ini dialah satu-satunya pria yang bisa mengerti dan menerimaku apa adanya.” jelas Livia panjang lebar.
Ibu baptis Livia kemudian kembali menatap pria yang masih tertidur itu.
“Astaga, Livia kau dan dia terkena kutukan.” pekiknya terkejut setelah melihat tanda, sebuah sinar di dahi Inspektur yang berupa segel.
“Kutukan ?” Livia mengerutkan keningnya tak percaya dengan apa yang dimaksud dan diucapkan oleh ibu baptisnya tersebut.
__ADS_1
“Livia ?” tiba-tiba Inspektur Lucca terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara Livia yang bercakap-cakap dengan seseorang.