Shadow Girl

Shadow Girl
Eps 25 Kampung Halaman Livia


__ADS_3

Inspektur Lucca berada di sebuah pesawat dengan Livia menjalankan misi ke sebuah area terpencil yang terletak di daerah perbatasan untuk menangkap sindikat mafia human trafficking yang diduga kabur ke sana selama masa penangkapan. Hanya Aiptu Daniel saja yang menemani mereka berdua kali ini.


Helikopter yang membawa mereka turun di sebuah bukit dengan deretan pohon lebat yang tumbuh mengitari bukit juga membuatnya tampak teduh bahkan cenderung terlihat lebih gelap karena banyaknya pohon tinggi di sana.


“hap.” Aiptu Daniel turun lebih dulu kemudian baru Inspektur Lucca dan Livia menyusulnya turun.


“Hati-hati Livia.” Setelah beberapa kepingan ingatannya sudah kembali, perasaan Inspektur pelan-pelan juga kembali menghangat pada wanita itu. Ia menangkap Livia yang melompat turun dari Heni meskipun sebenarnya wanita itu bisa turun sendiri tanpa bantuannya.


“Lucca...” Livia memeluk pria tersebut saat ia menangkapnya dengan tersenyum kecil merasakan kehangatan yang sudah lama ditunggunya juga dinantikannya. “Tunrunkan aku.” ucapnya karena Inspektur tak juga menurunkan dirinya setelah 5 menit lebih.


“Ya, aku lupa jika kita sedang bertugas.” Inspektur Lucca terpaksa menurunkan Livia di saat ia ingin memeluk wanita itu lebih lama. Bahkan ia pun hampir mencium bibir Livia jika saja Aiptu Daniel tak memanggilnya.


“Ya, Aiptu Daniel kau boleh jalan duluan.” teriak Inspektur Lucca saat bawahannya itu sudah berada 5 meter di depannya. Dan ia pun mulai berjalan bersama Livia.


Sepuluh menit kemudian terdengar suara tembakan jauh di depan.


“Biar aku periksa dulu.” Livia bergerak dengan cepat untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di depan sana karena Aiptu Daniel sudah tak yang di depan mereka.


“Tunggu aku Livia !” kali ini Inspektur Lucca terlihat serius dan ia mengejar Livia yang bergerak cepat seperti bayangan jauh di depannya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang meskipun ia memanggilnya.

__ADS_1


“boom.” kali ini terdengar ledakan bom setelah serentetan tembakan terjadi.


“Itu pasti bom milik Livia dan itu artinya target sudah di temukan.” Inspektur Lucca mempercepat larinya agar segera sampai di sumber suara ledakan dan tembakan yang terjadi.


“haah.” pria itu menarik nafas panjang Setelah tiba di lokasi dengan tebalnya kepulauan asap di sana sembari mengangkat senapan laras panjangnya dan juga menatap ke sekitar.


“Lucca turunkan senapan mu.” Livia muncul dari balik kepulan asap menghampiri pria itu.


“Apa yang terjadi ?” tanya Inspektur Lucca.


Belum sempat Livia menjawabnya, Aiptu Daniel datang. “Inspektur Lucca aku sudah menangkap target kali ini.” ucapnya sambil menyeret seorang pria yang kini sudah tak berdaya meskipun masih bernafas.


Misi kali ini berhasil dijalankan hanya dalam waktu singkat bahkan tanpa Inspektur Lucca turun tangan sekalipun. Mereka bertiga kembali berada di helikopter bersama dengan target yang mereka bawa.


“paff.” di tengah jalan tiba-tiba Inspektur Lucca mengembangkan parasut setelah Livia lima menit yang lalu berbisik lirih di telinganya mengatakan jika daerah yang mereka lewati saat ini merupakan tempat tinggalnya.


“Inspektur, anda mau kemana ?” tanya Aiptu Daniel saat pria itu berada di pintu helikopter dan akan terjun.


“Aiptu Daniel aku percaya padamu dan aku serahkan sisanya padamu. Aku mau liburan sebentar di sini bersama Livia.” ia pun segera mengembangkan parasut dan melompat tanpa menunggu jawaban bawahannya.

__ADS_1


“Lucca, tunggu aku.” Livia pun ikut melompat lalu meraih tangan Inspektur ikut dalam parasutnya lalu memeluk pria itu meskipun sebenarnya ia bisa langsung turun tanpa perlu menumpang parasut.


“Livia...” Inspektur Lucca yang sedari tadi memeluk wanita itu dan gagal menciumnya kali ini segera mendaratkan ciuman ke bibir merah Livia sebelum ada yang mengganggunya lagi.


“Hmm... Lucca kita sudah sampai.” Livia melepaskan tautan bibir mereka setelah melihat ke bawah dan mereka tiba di Louisville, tempat tinggal Livia.


Setelah mendarat mereka berdua pun berjalan bersama. Sejauh mata memandang hanya ada pepohonan kering yang mungkin saja meranggas di tengah musim gugur dan tumpukan daun kering.


“Livia, aku tak melihat apapun di sini.” ucapnya pada Livia dengan menuntut.


“Tunggu sebentar.” Livia berhenti yang membuat Inspektur ikut berhenti. Wanita itu kemudian menutup kedua mata Inspektur sembari meniup mata kekasihnya itu setelah merapal sebuah mantera. “Buka matamu sekarang.”


“Itu...” Inspektur Lucca membuka matanya dan di depannya terlihat banyak bangunan bergaya romawi kuno.


Mereka kembali meneruskan langkahnya hingga di tengah jalan mereka berdua berhenti karena ada sungai di depan mereka.


“Ayo ikuti aku.” Livia melompat duluan melewati sungai dengan lebar 5 meter lalu menunggu Inspektur di seberang sungai.


“Livia !” Inspektur melompat namun belum sampai di seberang sungai ia jatuh tercebur ke sungai itu.

__ADS_1


__ADS_2