
“Lucca, siapa yang melakukan semua ini padamu ?” tanya Livia berjongkok menatap sedih pada Inspektur.
Inspektur terbaring di lantai dengan kondisi bersimbah darah dengan pedang Phormosa di sampingnya menatap sembari tersenyum kecil pada Livia.
“Kau harus tetap hidup.” tambahnya sembari memegang tangan Livia yang masih terasa sedingin es.
Livia bagai tersayat hatinya melihat kondisi Inspektur yang terluka parah seperti itu. Dia pun sampai memejamkan mata dan menggenggam erat tangan pria itu.
“Kita akan hidup bersama Lucca. Entah di dunia ini atau di kehidupan lainnya. Aku tak akan pernah meninggalkan mu, apapun yang terjadi.” Livia memeluk Inspektur sembari merayakan energi untuk memulihkan semua luka di tubuhnya.
Plok
Terdengar suara tepuk tangan di belakangnya yang membaca seketika menengok ke belakang.
“Samuel ? Kau ?!” Livia terkejut dan tak percaya saja pria yang bertepuk tangan padanya adalah sepupunya yang sebelumnya ia selamatkan dari amarah Inspektur yang ingin membunuh pria itu.
“Sungguh mengharukan sekali kalian berdua.” ucapnya lagi kembali bertepuk tangan dan tersenyum lebar.
Ya, Samuel yang kalah di pertarungan dengan Inspektur Lucca sebelumnya tak pergi dari makam keramat tapi hanya bersembunyi sementara kemudian menunggu momen yang tepat untuk membalaskan dendamnya pada pria yang telah mempermalukan dirinya.
Kini Livia menyesal setelah mengetahui siapa pelaku semuanya dan seharusnya ia mendengar ucapan Inspektur Lucca sebelumnya dan hal ini tak akan terjadi.
“Samuel, aku sudah cukup bersabar padamu. Kebaikan ku kau balas dengan menyakitiku seperti !” Livia benar-benar marah dan tak bisa mentolerir lagi perbuatan sepupunya itu.
Ia berdiri dan segera menarik pedangnya, “Aku tak akan segan lagi padamu sekarang.” dengan matanya yang kembali merah, Livia mengayunkan pedangnya.
“Lucca ada apa ?” Livia terbalik sejenak keberagaman saat pria itu menyentuh kakinya.
“Pakailah ini untuk melawannya.” ucap Inspektur Lucca dengan lemah sembari menunjuk pedang Phormosa.
Livia kembali berjongkok dan mengambil pedang itu kemudian berdiri kembali untuk menghadapi Samuel.
__ADS_1
Clang
Langsung saja ia menyerang sama dengan pedang Phormosa yang bisa ditangkis dengan mudah oleh pria itu.
“Livia aku memberimu satu tawaran terakhir. Apa kau mau menikah dan hidup bersama denganku ? Maka aku akan melepaskan dia.” ucap Samuel berusaha membujuk sembari menunjuk Inspektur.
“Jangan turuti permintaannya, Livia. Lebih baik aku mati asal kau tak bersama dengannya.” sahut Inspektur Lucca saat melihat keraguan mulai muncul di mata merah Livia yang mungkin demi dirinya.
Livia meminjamkan mata beberapa detik. “Ya, sampai kapanpun aku tak akan pernah menjadi istrimu, Samuel. Baik di kehidupan ini ataupun di kehidupan lainnya, ingat itu.”
Jawaban dari Livia benar-benar membuat Samuel broken heart. Ia sudah berusaha mati-matian membuat wanita itu tertarik padanya namun semuanya sia-sia belaka.
“Jadi jangan salahkan aku jika aku tak segan lagi padamu.” Samuel yang biasanya beras kasih pada Livia dan tak pernah serius melukai ataupun menyerangnya gini terlihat sangat serius sekali dalam kemarahan menyerang Livia.
Adu pedang dan kekuatan diantara mereka berdua tak terhelakkan lagi.
Meski Livia sudah menggunakan pedang Phormosa yang cukup banyak membantunya dan meningkatkan kekuatan Serangnya namun tetap saja kekuatannya masih di bawah Samuel karena perbedaan usia mereka dan Samuel tentunya lebih senior daripada dirinya.
“Livia... !” teriak Inspektur saat wanita itu terbentang setelah terkena serangan sama hingga berada di dekatnya. “Bagaimana keadaan mu ?” dalam keadaan terluka pun pria itu masih mengkhawatirkan kondisi Livia.
Samuel yang sudah dikuasai amarah mendekati mereka berdua.
“Aku akan menanyakan kalian berdua sekarang !” ucapnya tersenyum kecil menebaskan pedangnya pada Livia dan Inspektur.
“Tidak !” Livia kembali duduk di depan Inspektur Lucca untuk melindunginya dari tebasan pedang Samuel yang akan menusuk jantung Inspektur.
“Argh !” pedang itu menembus dada Livia yang membuatnya ambruk di samping Inspektur sembari memegang pedang Phormosa.
“Livia, tidak Livia jangan tinggalkan aku !” teriak Inspektur histeris memeluk Livia.
“Lucca, aku senang bisa hidup bersamamu meskipun hanya sesaat.” ucapnya sambil tersenyum kemudian tak sadarkan diri.
__ADS_1
Pedang Phormosa yang sebelumnya sudah bersimbah darah oleh darah Inspektur Lucca kini juga bersimbah darah Livia.
“Livia !” teriak Inspektur Lucca sangat menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Ia memeluk erat kekasihnya itu Dan berharap masih ada kesempatan kedua bagi mereka.
Clang
Samuel menjatuhkan pedangnya setelah menyadari dirinya telah membunuh Livia, wanita yang selama ini dicintainya.
“Tidak, apa yang telah kulakukan ?” ia gemetar melihat tangannya sendiri yang bersimbah darah Livia. “Aku telah membunuhnya.”
Untuk sejenak pria itu meratapi kesedihannya namun ia melihat Inspektur Lucca yang masih hidup dan mendatanginya kembali.
“Semua ini gara-gara kau ! Aku akan mengirimmu ke neraka sekaligus.” Samuel yang bersedih karena kematian Livia dan tak bisa menerimanya mengeluarkan sedikit kekuatannya untuk melenyapkan Inspektur.
“Livia, aku akan selalu bersamamu.” ucap Inspektur sebelum menutup matanya dan memeluk kekasihnya itu lebih erat lagi.
Ha-ha-ha
Samuel tertawa lebar membahana melihat kematian Inspektur Lucca sekaligus merasakan kepuasan yang luar biasa.
Blink
Liontin salib di leher Livia tiba-tiba bersinar dan sinar itu memantul menuju ke pedang Phormosa di tangan Livia.
crac
Terdengar suara retakan di sekitar tubuh Inspektur Lucca dan Livia meskipun mereka masih tak sadarkan diri.
“Livia !” teriak Theodore yang mencari putrinya dan menemukannya di sana.
“Samuel ?!” pria itu menatap keponakannya yang bersimbah darah lalu berani menatap Livia yang juga bersimbah darah tak bergerak sama sekali. “Kau sudah membunuh Livia ku !”
__ADS_1
Theodore yang marah pun akhirnya bertindak dan menghabisi Samuel.
“Livia !!!” teriak Theodore membahana ke seisi istana menatap putrinya yang tak merespon panggilannya berulang kali.