
“Livia !” Inspektur Lucca berhasil menangkap Livia dan membaringkan wanita itu ke lantai dengan pelan dan hati-hati. “Bagaimana kau sampai terkena tembakan seperti ini ?” melihat dada kanan wanita itu yang berdarah.
Detik itu juga semua kecurigaannya pada Livia yang akan melakukan hal buruk padanya hilang sudah.
“Apa seseorang yang ingin membunuhku akan rela mengorbankan nyawanya untukku ?” pekik pria itu dalam hati setelah terbuka pikirannya.
“Livia aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang.” ucapnya panik melihat darah masih mengalir dari tubuh Livia.
“Tidak, kau dalam misi tak mungkin bisa karena sakit. Lanjutkan misi mu Inspektur, aku akan baik saja.” Livia tahu sulit bagi mereka bisa keluar dari sana dalam situasi seperti ini.
Tentu saja Inspektur Lucca meninggalkan wanita itu begitu saja di saat dia terluka terlebih melindungi dirinya.
“Katakan pada ku bagaima aku bisa membantu mu.” pria itu tidak tahu bagaimana cara merawat seorang vampir yang terluka daripada salah dan menambah masalah.
“Sepertinya aku terkena peluru perak tapi untungnya bukan di bagian vital. Keluarkan saja peluru itu dari tubuh ku.” Fiona tersenyum kecil meskipun merasa sakit menatap Inspektur Lucca. “Pakai ini untuk mengeluarkan pelurunya.” mengeluarkan pisau kecil dari balik bajunya dan menyerahkan pada Inspektur.
Tanpa banyak bertanya lagi pria itu pun segera mengeluarkan peluru dari dada Livia sambil sesekali menghindari tembakan juga menembak target.
Namun setelah baru itu berhasil dikeluarkan Livia masih belum pulih.
“Livia kau terlihat semakin pucat.” Inspektur Lucca terlihat cemas apalagi tubuh Livia saat ini sedingin es di kutub utara. “Apa yang bisa menyembuhkanmu dengan cepat ?”
Kelemahan vampir memang pada senjata perak. Jika ada peluru perak yang berhasil menembus jantungnya maka nyawanya tak akan terselamatkan lagi. Dan hanya satu yang bisa mempercepat kesembuhan lukanya.
“Darah, jika aku mendapatkan darah maka lukaku akan cepat pulih.” Livia sebenarnya tak ingin mengucapkan hal itu karena ia tak mau memanfaatkan kesempatan yang ada, terlebih pada Inspektur Lucca yang berusaha dia jaga dan lindungi sekuat mungkin.
“Ya, hisaplah darah ku sebanyak yang kau mau.” Inspektur Lucca benar-benar tak tega melihat wanita itu terluka juga tampak lemah dan mungkin sebagai balas budi Ia pun bersedia memberikan darahnya ataupun nyawanya.
__ADS_1
Livia mengulurkan kedua tangannya lalu menarik tubuh pria itu mendekat padanya.
“Hiss.” Inspektur Lucca menahan rasa sakit saat Livia yang mulai menghisap darahnya.
“Hanya sedikit saja darah yang ku perlukan tak akan merenggut nyawamu.” Livia melepaskan pelukannya. “Terima kasih Inspektur sudah mau memberikan darahmu padaku juga percaya padaku.”
Beberapa detik setelahnya secara ajaib luka bekas sayatan pisau di dada Livia yang tadi malam pelan-pelan tertutup hingga menjadi rapat tak berbekas sama sekali.
“Livia kau sudah pulih ?” Inspektur Lucca benar-benar tak percaya pada kondisi Livia yang pulih dengan cepat bahkan wanita itu ini sudah berdiri tegak di sampingnya.
“Inspektur kita selesaikan misi ini secepatnya.”
Inspektur Lucca kemudian turun dari pos penjagaan menerobos blokade tim 2 dan tim 3 yang masih berusaha menangkap para penyusup di depan Gedung Putih.
“Inspektur Lucca apa yang kau lakukan seorang diri di sana ?” teriak seorang agen polisi melihat aksi nekat pria tersebut.
“Inspektur Lucca pergi dari sana. Apa kau cari mati ?” teriak salah satu anggota dari tim 2 saat pria itu berada di garis depan.
Inspektur Lucca hanya tersenyum kecil saja menatap anggota kepolisian lainnya dan beralih menatap Livia.
“Kita mulai sekarang.”
Livia mengangguk dan ia mengeluarkan beberapa belati kecil lalu melemparkannya ke tengah target yang membuatnya seketika meledak dan tentu saja puluhan penyusup yang tak siap itu seketika terkena ledakan.
“dor !” Inspektur Lucca segera melepaskan tembakan beruntun saat itu juga setelah menerima kode menyerang dari Livia yang membuat target kembali berjatuhan.
Dalam waktu singkat 30 orang penyusup berhasil dibekuk dan terdengar tepuk tangan dari barat agen kepolisian yang ada di sana melihat aksi berani Inspektur Lucca.
__ADS_1
🌹
🌹
Setelah proses menjalankan misi pengamanan di Gedung Putih Inspektur Lucca mendapatkan cuti kerja selama 3 hari dan pria itu seperti biasa, menghabiskan waktunya di tempat tidur.
“Inspektur makan siang mu sudah siap.” Livia sengaja tak membangunkan pria itu di pagi karena ia tahu Inspektur Lucca lelah dengan semua tugasnya.
“Ya.” pria itu bangun dan segera duduk menatap Livia yang ada di depan pintu kamarnya. “Kau bilang makan siang ?” ucapnya menegaskan yang diangguki oleh Livia.
Inspektur pun segera melompat turun dari tempat tidur, duduk di sofa sembari mengambil makanan yang dihidangkan oleh Livia untuknya.
Sementara Livia hanya diam tak berucap sama kata-kata pun duduk di samping Inspektur yang sedang menikmati makanan buatannya.
“Livia lalu kenapa kau yang merupakan seorang vampir mengikutiku juga selalu membantu dan melindungi diriku ?” batinnya menatap punggung Livia yang sudah pergi dari sana mengembalikan piringnya yang sudah kosong.
Sehari ini Inspektur Lucca hanya ingin berada di rumah dan bermalas-malasan saja di sana hingga malam hari pria itu beranjak tidur lebih awal demi memanfaatkan cutinya semaksimal mungkin.
Tiga jam setelahnya pria itu mengalami mimpi buruk. Ia bertemu dengan seorang pria berambut bergelombang mengejarnya di suatu hutan bersama beberapa orang pengawal nya.
“Berhenti !” teriak pria berbaju serba hitam yang terlihat misterius namun Inspektur terus berlari sembari menembak para Mengapa pria tersebut yang menyerangnya.
Namun sayang karena kalah jumlah, Inspektur Lucca pun tumbang.
“bak-buk.” Mengapa pria tadi menghajarnya hingga babak belur ditambah pria itu sendiri yang menusukkan belati ke punggungnya saat ia berusaha melindungi dirinya.
“Hentikan !” di saat-saat kritis pun datanglah Livia yang menyelamatkannya dari semua yang menyerang pria itu.
__ADS_1