
Tepat di saat Livia mengajak Inspektur Lucca pergi dari sana dan menuju ke makam kubah tadi Samuel telah berhasil membebaskan diri dari kekuatan Livia.
“Gawat !” pekik Livia menoleh ke belakang dan mendapati pria itu sudah melambat turun dan mulai mengejar mereka.
Livia kemudian segera mengajak Inspektur Lucca untuk segera bergegas menuju ke kubah kristal.
“Cepat Lucca.” ucap Livia.
Dengan wajah cemas Livia pun terpaksa menggenggam tangan Inspektur Lucca kemudian bergerak secepat bayangan.
Tak lama kemudian mereka tiba di depan kubah kristal dalam waktu hitungan detik saja.
“Ternyata sesuai dengan dugaan makam ini memang keramat. Hanya ada satu makam di dalamnya. Dan sesuai dalam mimpiku pedang itu ada di makam itu.” ucap Inspektur Lucca menatap sebuah makam dari luar kubah yang bisa terlihat dengan jelas.
“Lucca kau masuk saja ke dalam dan ambil pedang itu.”
“Bagaimana caranya ?” Inspektur Lucca mencoba memukul kubah kristal itu namun sedikitpun lapisannya tidak pecah bahkan retak pun tidak.
Livia mencoba mengeluarkan kekuatannya untuk memecah kubah kristal.
Namun belum sempat ia mengeluarkan kekuatannya, Samuel sudah berdiri di depan mereka.
“Mau apa kalian kemari ?” ucap Samuel dengan mata merahnya menatap tajam pada Livia dan Inspektur.
“Bukan urusan mu !” jawab Livia terlihat marah.
Ia tak ingin sepupunya itu menyerang Inspektur karena dia tahu hanya pria itu yang ingin dihancurkannya selama ini.
Benar sekali dugaan Livia, Samuel tak menyerangnya meskipun dia tadi sempat menumbuhkannya.
“Berhenti !” teriak Livia lalu mengejar Samuel sekaligus menyerangnya dengan kekuatan bayangan saat menuju ke arah Inspektur.
__ADS_1
Sementara itu Inspektur Lucca masih berpikir bagaimana caranya membuka kubah kristal itu.
dor
Pria itu menembakkan senapan laras panjangnya beberapa kali ke kubah kristal.
Namun sayangnya selongsong pelurunya malah terpental kembali. Untung saja tidak mengenai dirinya.
“Aku harus membuka kubah itu agar Lucca bisa masuk kesana sembari aku menahan Samuel di sini.” batin Livia lalu mengeluarkan belati kecilnya.
Livia melempar belati kecilnya, "boom."
Asap mengepul setelah bom tadi meledak dan Livia memanfaatkan kesempatan yang ada.
Clang
Livia menarik pedangnya kemudian menebaskan ke kubah kristal tadi.
“Lucca, cepat masuk pedangku hanya bisa membelah sementara tapi dalam beberapa menit itu akan kembali tertutup.” teriaknya sembari berjaga khawatir Samuel sudah menyusulnya.
“Ya.”
Inspektur Lucca kemudian segera masuk dengan cepat ke dalam kubah yang terbuka pas selebar ukuran tubuhnya.
Tepat di saat dia masuk, kubah kristal itu kembali tertutup.
Dan seketika itu juga Samuel tiba di depan Livia.
“Kenapa kau terus saja melindungi pria lemah itu ?” tanya Samuel sembari mengeluarkan kekuatan seperti purifier yang membersihkan debu bekas ledakan dengan cepat.
“Berapa kali aku harus bilang padamu ?!” jawab Livia berani melainkan pedangnya ke depan.
__ADS_1
“Livia kali ini aku tak akan melepaskan pria itu.”
“Ya, itu berarti kamu harus melangkahi mayatku dulu.” Livia segera menyerang Samuel sebelum pria itu menyerangnya.
Sementara di dalam kubah, inspektur Lucca yang mengkhawatirkan kondisi kekasihnya dan berulang kali menatap ke tempat terjadinya pertempuran dan ini beralih menatap makam di depannya.
“Aku akan membawamu.” ucapnya lalu mencabut pedang di makam dengan batu nisan terukir nama Phormosa di sana.
“Susah sekali.” pria itu menariknya namun sedikitpun pedang dan tidak bergerak dari tempatnya. “Berat sekali. Bagaimana caranya mencabutnya ?”
Inspektur Lucca tak putus asa dan kembali mencabut pedang tersebut.
“Lucca sudah belum ? Jika sudah aku akan menebaskan kembali pedangku aku bagus ta tanggal terbuka dan kau bisa keluar lagi dari sana.” tanya Livia menatap ke arah Koba kristal sembari menahan serangan Samuel.
“Pedang ini susah ditarik.” teriaknya binatang agar wanitanya itu bisa mendengar suaranya.
Inspektur Lucca terlihat bercucuran keringat setelah berulang kali menarik pedang tersebut namun masih gagal juga.
“Aku akan memberikan sedikit kekuatan untuk membantumu.” batin Livia merespon keluhan Inspektur.
Ia menatap kembali ke arah kubah kristal, “Lucca tarik sekarang pedang itu.”
Inspektur Lucca mengikuti perkataan Livia dan menarik pedang itu kembali namun kali ini ia merasa pedang itu sedikit ringan bahkan dia bisa menariknya.
“Aku tahu pasti kau membantuku.” ucapnya lirih menetap ke arah Livia.
Namun beberapa detik setelahnya ledakan terdengar dalam kubah kristal yang menyebabkan kristal itu pecah.
Bahkan sampai Inspektur terlempar keluar dari makam.
Terang saja melihat pria yang dibencinya sudah berada di luar kubah maka Samuel segera bergerak cepat ke arah Inspektur Lucca dan langsung menyerangnya.
__ADS_1