
Inspektur Lucca sendiri tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
“Bagaimana bisa aku tiba-tiba mahir memainkan pedang ini ?” pria itu sendiri juga tak percaya pada kemampuan mendadaknya yang tiba-tiba muncul dan terus menatap kedua tangannya.
“Dugaan ku memang benar jika ada rahasia di balik pedang ini.”
Flash back on
Beberapa menit sebelum duel dimulai, inspektur Lucca memperhatikan pedang yang didapatnya dengan jeli.
Selain terukir nama Phormosa di pedang itu di sisi lain terukir tulisan lain dalam huruf hierogliph yang sedikit dimengertinya.
Dan setelah pria itu membacanya tiba-tiba pedang tadi menjadi ringan, seringan udara bahkan tangannya pun bergerak sendiri seperti dipandu oleh seseorang.
Flash back off
Kembali kedua yang masih belum selesai. Terlihat Samuel mulai bergerak kembali dengan kecepatan bayangan menghampiri Inspektur Lucca.
“Bagaimana jika Lucca kali ini tak bisa membaca pergerakan Samuel dan dia akan terluka ?” gumam Livia melihat Inspektur hanya diam saja saat Samuel mendekat.
“Aku tak bisa tinggal diam saja jika begini.” Livia terlihat semakin cemas, sampai ia pun tak bisa tinggal diam.
__ADS_1
“Samuel hentikan pertarungan tak imbang ini.” Livia masuk ke area duel dan mencoba menghentikan Samuel.
Namun Livia melihat sesuatu yang mengejutkan.
Ternyata Inspektur Lucca bukannya diam karena tak bisa melawan Samuel, tapi karena dia bisa membaca gerakan lawan bahkan melakukan counterback.
Clang
Inspektur Lucca merasa menahan serangan pedang dari Samuel yang akan menyayat dadanya.
“Jangan senang dulu baru sekali menjatuhkan aku bukan berarti kau sudah menang dariku.” ucap Samuel dengan percaya diri namun Inspektur sama sekali tak terpengaruh dengan ucapannya itu.
“Sekarang !” Inspektur Lucca langsung saja menebaskan pedang Phormosa menyilang di tubuh Samuel ketika menghindari serangan pria itu.
“Argh....!” bukan Samuel yang berteriak melainkan Livia. Ia terkejut sekali kemudian segera menghampiri mereka.
“Bukankah vampir takut pada peluru perak ?” ucap Inspektur Lucca melihat semua yang jatuh tersungkur sembari mengeluarkan senapan laras panjangnya juga beberapa langsung peluru dari perak yang dapatnya dari Livia.
“Lucca, stop !” Livia malah melindungi Samuel saat Inspektur Lucca akan menembak nya.
“Livia apa yang kau...” Inspektur tak punyakah saja wanitanya malah melindungi pelaku penyerang dirinya hingga dia pun menurunkan senapan laras panjangnya.
__ADS_1
“Lucca dia adalah sepupuku yang berarti masih keluargaku. Aku tahu kau sangat membencinya Tapi tolong demi aku berbaiklah hati padanya dan lepaskan dia.” ucapnya dengan memohon.
Karena Livia yang meminta maka Inspektur mengurungkan niatnya untuk menghabisi Samuel.
“Kau sudah kalah dari ku. Ingat perjanjian di awal kita sebelum duel. Yang kalah tak akan mengejar Livia seumur hidupnya.” Inspektur Lucca menghampiri Samuel yang belum bangkit.
“Ya, kau menang dan Livia milik mu.”
Inspektur Lucca tak suka saja melihat keberadaan pria itu di sana karena rasanya hanya ingin melampiaskan dendamnya saja selama ini.
“Pergi kau dari sini sebelum aku berubah pikiran.” ucapnya dengan tatapan tajam.
“Samuel cepatlah pergi dari sini.”ucap Livia karena ia tahu seperti apa Lucca, pria yang tak pernah mengampuni satupun musuhnya.
Samuel pun dengan tertatih berdiri kemudian segera pergi dari sana.
“Kau hebat sekali hari ini. Sungguh aku lama sekali tak menyangka kau bisa membaca gerakan Samuel, juga bisa memainkan pedang.” puji Livia dengan senyum yang merekah seperti bunga morning glowry dan matanya yang melebar.
“Livia sebenarnya aku--” saat akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tiba-tiba kembali terdengar ledakan dari arah belakang mereka.
“Nanti saja kau jelaskan pada ku. Sekarang lari !” ucap Livia saat kembali mendengar suara ledakan yang berasal dari kubah kristal tadi, entah apa sebabnya.
__ADS_1