Shadow Girl

Shadow Girl
Eps. 27 Menuju Ke Kastil Tua


__ADS_3

“Lucca sepertinya kita tak bisa bersantai lebih lama lagi di sini.” bisik Livia lirih di telinga Inspektur saat melihat banyak pasang mata dari arah kejauhan yang menatap mereka berdua.


“Apakah mereka datang ?” jawab Inspektur Lucca masih tetap memeluk Livia dan enggan untuk melepasnya dengan segera karena ia masih ingin lama memeluk wanitanya itu.


“Ya, mereka datang.”


Livia melepas pelukannya di saat banyak pasang mata yang menatap itu kemudian datang menghampiri mereka yang memaksa Inspektur Lucca pun melepas pelukannya.


Mereka kemudian berdiri berdampingan dan dalam beberapa detik saja sudah banyak sosok pria yang mengepung mereka.


“Kau siap Lucca ?” tanya Livia yang berada di belakang punggung Inspektur dan bersiap bertarung untuk menghadapi mereka semua.


“Ya, cherry.” balas Inspektur Lucca akhirnya teringat pada panggilan yang biasanya ia ucapkan pada Livia dulu.


“Ingantan mu benar-benar sudah kembali.” Livia tersenyum tipis mendengar pria itu mengucap panggilan sayang yang diberikan oleh pria itu karena bibirnya juga matanya yang semerah buah cherry hingga pria itu memanggilnya dengan sebutan itu.


“Kalian berdua... kami sudah lama mencari kalian tapi rupanya kalian datang sendiri kemari dan menyerahkan diri kalian.” ucap seorang pria bermata merah menatap tajam mereka berdua diantara tiga puluh orang yang mengepung saat ini.


“Livia kau dilarang dan haram menginjakkan kakimu di sini setelah lebih memilih bersama manusia itu.” ucap pria lain permata merah yang terlihat lebih sangar dari pria sebelumnya.


“Asal kalian tahu saja aku kemari bukan untuk kembali ke sini tapi aku hanya mampir saja sebentar.” Livia kali ini tak mengeluarkan belati nya. Ia mengeluarkan pedang yang juga selalu ia bawa kemanapun dia pergi dan menemaninya.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan ia kali ini mengeluarkan pedang tapi lawannya saat ini bukanlah vampir biasa, melainkan tetua vampir yang tentu saja lebih kuat dari vampir muda yang selama ini dia lawan.


“Dan kau manusia.”salah satu tetua vampir menatap tajam ke arah Inspektur Lucca dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam. “Kami sama sekali tak mengizinkan ada manusia yang menginjakkan kakinya di wilayah kami.”


“Aku akan pergi dari sini setelah menyingkirkan kalian semua tentunya.” balas Inspektur Lucca tak mau mereka menginjak harga dirinya dan merendahkan dirinya kembali seperti dulu sampai babak belur tak berdaya.


Pertarungan pun di mulai. Semua vampir yang mengepung mereka segera maju.


“Lucca pakai peluru ini.” Livia mengeluarkan peluru timah dan menyerahkannya pada Inspektur yang langsung diterima oleh pria itu dan segera di pakainya.


Ia tak mau lelakinya itu sampai terluka lagi karena dirinya. “Tembak mereka jangan segan meskipun salah satu atau beberapa diantara mereka adalah keluargaku. Bagiku aku sudah tak punya keluarga lagi dan menganggap mereka semua sudah mati.” Livia mengingatkan satunya pria itu menahan tembakannya pada sesosok pria yang menyerang mereka.


Namun bukan berarti pria itu akan sembarangan menembak karena jumlah peluru timah yang didapatnya hanya terbatas dan tepat berjumlah 30 butir mengingat susahnya mendapat peluru tersebut.


“Jadi tak boleh ada satupun tembakanku yang meleset kali ini.” Inspektur Lucca kembali mengangkat senjata laras panjangnya dan membidik dengan penuh konsentrasi.


“dor.” suara tembakan dari senapan milik pria itu yang mau jam tepat ke sasaran dan membuat lawannya ambruk seketika setelah peluru bersarang di dada.


“Slash.” Livia tak mau berbaik hati dan berlama-lama menghabiskan tenaga dalam bertarung. Ia menebaskan pedang panjangnya dengan kecepatan tinggi yang membuat lima belas orang di depannya tertebas dengan bagian tubuh terbelah menjadi dua.


“Lucca berputar. Kau tembak di sini dan aku akan menebas di sana.” Livia minta berganti posisi agar pria itu tak sekolahan menghadapi lawan kali ini.

__ADS_1


Mereka berdua pun bertukar posisi. Kini Inspektur Lucca segera menempelkan peluru timah pada lima belas vampir yang ada di depannya satu per satu dan tepat sasaran sebelum mereka semua pulih dari luka tebasan.


Lima belas vampir yang terkena tembakan Inspektur luka kemudian terbakar dan menjadi abu seketika hilang tertiup udara.


“Lucca serahkan senapan mu, padaku.” Livia pun segera mengambil senapan Naras panjang milik kekasihnya itu bahkan sebelum pria itu mengeluarkan senapannya pada Livia.


“dor.” Livia menembakkan peluru timah pada 15 vampir di depannya yang sudah tertebas dan hampir pulih dari lukanya namun terbakar beberapa detik setelah mereka semua terkena tembakan peluru timahnya.


“Semua sudah selesai sekarang.” Livia mengembalikan senapan laras panjang milik Inspektur, namun pria itu bukannya mengambil senapannya namun ia malah meraih wanita itu dalam pelukannya.


“mmm.” Ia pun segera mendaratkan ciumannya di bibir cherry Livia untuk beberapa saat.


“Sebenarnya apa tujuanmu membawaku kemari, cherry ?” tanya Inspektur Lucca setelah tautan bibir mereka terlepas.


“Aku mau membawa mu ke kastil tua dan menemui seseorang disana untuk membantu memulihkan ingatanmu yang hilang.” jawab Livia sembari mengajak Inspektur berjalan pergi dari sana.


“Lalu ingatan ku sudah pulih sekarang tapi kenapa kau masih mengajakku menuju ke kastil tua ?” Inspektur Lucca merasa aneh saja karena saat ini mereka berjalan menuju ke kastil tua yang terlihat tak jauh dari mereka berada saat ini.


“Kita akan beristirahat sebentar di sana.”


“Kau yakin hanya itu ?” tegas Inspektur Lucca karena Livia bukan tipikal se-simple itu dan pergi ke suatu tempat tanpa tujuan yang pasti.

__ADS_1


__ADS_2