
Inspektur Lucca segera bangkit berdiri saat melihat kedatangan Samuel yang bergerak cepat ke arahnya.
“Aku ingat, pria ini yang selalu menganggu ku di manapun aku berada. Pasti itu atas perintah Theodore Neve, pria tua itu.” Inspektur Lucca menetapkan jam pria yang kini berdiri di depannya dengan tersenyum menyeringai di tengah debu yang masih pertempuran bekas ledakan barusan.
“Manusia hina dan rendahan sepertimu tak pantas mendapatkan wanita dari bangsa kami.” cibir Samuel sengaja untuk memprovokasi lawannya agar tersulut emosi.
Namun bukan Inspektur Lucca namanya jika mudah tersulut seperti itu. Dengan pengalamannya yang banyak menangkap penjahat kelas atas membuatnya terampil menghadapi berbagai jenis karakter musuhnya.
“Aku tahu, kau hanya sebenarnya ingin mendapatkan Livia dariku bukan ?” balas Inspektur Lucc.
Pria Itu tampak tenang menatap lawannya bahkan dia pun sekarang mengayun pedangnya.
“Sudah tak sabar kau rupanya.” Samuel tersenyum menyeringai kembali karena pria itu menghantarkan nyawanya sendiri pada dirinya. “Serang saja aku duluan.”
Samuel terlihat sangat meremehkan Inspektur Lucca, kalau memandangnya sebagai sosok lemah dan gampang kalah. Maka dari itu Dia memberikan kesempatan pada pria itu untuk melawannya sebelum ia mengambil nyawanya.
“Samuel lawanmu jelas tak imbang. Akulah lawanmu.” Livia muncul di tengah mereka berdua.
Ia tak ingin sampai Lucca terluka seperti dulu.
__ADS_1
“Livia minggirlah.” Inspektur malah menyuruhnya pergi. “Aku akan hadapi dia.” menatap ke arah Livia menuntut kepercayaan darinya.
“Tapi Lucca.” Livia seolah tak terima dan khawatir pada lelakinya itu.
“Livia ini urusan diantara lelaki. Kau jangan ikut campur.” Samuel menatap tajam ke arah Livia.
“Minggirlah dulu Livia. Aku yakin bisa mengalahkannya kali ini.” ucap Inspektur Lucca dengan tenang tapi terlihat serius.
Karena desakan kedua pria itu pun, maka Livia terpaksa menepi dan membiarkan mereka berdua berduel.
“Tapi aku akan tetap turun tangan nanti jika Lucca dalam bahaya.” gumamnya kemudian menetap ke depan saat dua pria itu mulai berduel.
“Siapa takut !”
Langsung saja Inspektur Lucca mengayunkan pedang Phormosa yang di bawanya.
“Memegang pedang saja kau tidak bisa. Bagaimana mungkin nanti kau akan mengalahkanku ?” decak Samuel kembali menyindir Inspektur yang tak kuat memegang pedang.
“Kita tidak akan tahu dan tidak bisa diputuskan sebelum mencobanya.” Inspektur tetap tenang, menjaga pikirannya tetap stabil.
__ADS_1
Clang
Beberapa saat kemudian terdengar suara beradu pedang. meskipun Inspektur kurang mahir bermain pedang namun demi Livia ia akan Mengayunkan pedang itu terus sampai akhir dan salah satu dari mereka menang.
“Kemenangan itu harus jadi milikku.” Inspektur menyemangati dirinya sendiri dan kemudian segera mengayunkan pedangnya melawan Samuel.
“Ha, apakah hanya segitu kemampuan mu ? Benar-benar tidak terasa sama sekali.” Samuel menertawakan serangan Inspektur yang lemah sekali bahkan jika dibandingkan dengan satu anak buahnya saja masih lebih bagusan anak buahnya daripada dia.
“Aku tidak tahu kenapa pedang ini meskipun kecil tapi berat sekali tak seperti pedang biasanya.” pria itu memang mengakui susah mengontrol pedang tersebut. “Pasti pedang ini memiliki rahasia.”
Tepat di saat Samuel menyerang dengan kekuatan bayangan yang menebas pedang dengan cepat, tangan Inspektur Lucca tiba-tiba bergerak sendiri tanpa dikontrolnya melawan pedang Samuel.
Whoosh.
Bahkan pedang Phormosa bisa menghempaskan Samuel terpental sejauh lima meter.
“Apa yang sebenarnya terjadi ? Beberapa waktu yang lalu pria itu tak bisa memainkan pedang tapi sekarang dia membuatku seperti ini.” gumamnya kemudian segera berdiri dan menancapkan pedang di tanah sejenak untuk menopang tubuhnya.
“Lucca bagaimana bisa kau mendapatkan kekuatan dalam sekejap ?” Livia tak kalah terkejutnya bagaimana bisa Inspektur Lucca yang tak bisa bermain pedang tiba-tiba menjadi terampil dalam waktu yang singkat setelah sebelumnya hampir terdesak oleh serangan Samuel.
__ADS_1