
Livia menatap sosok pria di depannya.
“Samuel ?” ucap Livia menatap pria tersebut dengan tatapan tajam. “Bagaimana kau bisa tahu kami ada di sini ?”
Livia tak menyangka saja sepupunya itu mengetahui keberadaan dirinya.
“Kau tak perlu tahu bagaimana aku bisa mengetahui kau ada di tempat ini.” Samuel tersenyum menyeringai.
Livia kemudian menatap Inspektur Lucca yang ada di belakang Samuel dan memberikan kode kepadanya.
“Bagaimana jika aku melompat dari ketinggian seperti ini setelah jatuh ke bawah nanti ?” batinnya menatap ke bawah setelah menangkap kode dari Livia untuk melompat ke bawah.
Slash
Samuel mengeluarkan pedang dan mengayunkannya ke arah Inspektur Lucca yang menurutnya lemah.
“Ah !” pria itu berusaha menghindari serangan pedang dari Samuel namun naas, ia malah tergelincir dan terjatuh dari batuan cadas setinggi 20 meter.
Livia yang melihat lelakinya terjatuh segera melompat ke bawah untuk menyusulnya.
“Terima ini.” Ia mengeluarkan kekuatan jaring laba-laba yang membungkus tubuh Samuel.
“Lucca !”
Wanita itu beralih menatap Inspektur Lucca yang ada di bawahnya.
__ADS_1
“Livia !”
Inspektur menatap ke atas dan pasrah jika dia jatuh mengancam salah satu bebatuan yang ada di sana. Namun sebelum itu terjadi lebih sudah menangkapnya.
“Hampir saja.” ucap Livia menarik nafas cepat kemudian memeluk erat Inspektur, bergerak seperti bayangan dan dalam hitungan detik mereka sudah menjejakkan kaki di tanah.
Sepanjang mata memandang terhampar tanah tandus tanpa ada satupun tanaman hijau ataupun pohon yang tumbuh di sana.
Lima meter di depan mereka sudah terlihat pemakaman.
“Lucca sebaiknya kita bergegas sebelum kekuatanku bisa dihancurkan oleh Samuel.” ucap Livia setelah menatap ke atas dan melihat sepupunya itu masih berusaha membebaskan diri dari serangannya.
“Ya.”
Inspektur Lucca kembali berjalan bersama Livia menuju ke pemakaman.
“Kita terus saja mencarinya nanti akan ketemu. Atau kita bagi tugas agar lebih cepat. Aku mencari di sisi utara dan kau mencari di sisi selatan ?” usul Inspektur Lucca yang langsung dianggap oleh Livia.
Mereka pun bergerak cepat menuju ke arah yang sudah ditentukan.
“Ini bukan.” Livia bergerak dengan cepat membaca satu persatu nama yang tertera pada batu nisan di sana. “Disini juga tidak ada.”
Livia menyelesaikan pencariannya dalam waktu yang cepat dengan hasil yang nihil.
“Apa mungkin makam itu ada di tempat yang dicari oleh Lucca ?”
__ADS_1
Livia pun segera bergerak dengan cepat menyusul kekasihnya kembali memantau keadaan sekitar.
“Livia kau kemari ?” pekik pria itu melihat kedatangan Livia.
“Aku sudah selesai memeriksa di sana tapi tak ada. Aku akan membantu mu.” ucapnya dengan serius.
Sebelum Inspektur menjawabnya, Livia sudah bergerak kembali seperti bayangan, memeriksa satu per satu makam yang ada di sana.
“Kekuatan ku tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Livia.” gumam Inspektur Lucca saat ikut memeriksa makam.
Sepuluh menit kemudian mereka berhenti mencari.
“Aku tidak menemukannya.” ucap Inspektur dan Livia saat mereka bertemu di tengah makam.
“Lalu di mana lagi Kita harus mencari ? Apa kau punya petunjuk dalam mimpimu kapan lalu ?” tanya Livia berharap pria itu memberikan pencerahan, namun ternyata Inspektur malah menggelengkan kepalanya.
Mereka pun terus mencari ke arahnya di sekitar makam sebelum Samuel kembali dan menyerang mereka berdua.
“Apa kau lihat kristal itu ?” Inspektur Lucca menunjuk sebuah kubah kristal yang berjarak 10 meter di depan mereka.
“Itu...” Livia mengerutkan keningnya merasa aneh ada sebuah kubah kristal di tempat seperti ini.
Ia pun mempertajam penglihatannya untuk melihat dari jarak jauh.
“Lucca dalam kubah kristal itu terdapat sebuah makam.” ucapnya menjelaskan meskipun tak begitu jelas berapa makam yang ada di sana atau makamnya siapa.
__ADS_1
Inspektur Lucca ikut menatap ke arah yang ditunjuk oleh Livia namun dengan kekuatannya sebagai manusia ia tak bisa melihat apapun di sana selain ubah kristal itu saja.