Shadow Girl

Shadow Girl
Eps. 22 Kepingan Ingatan


__ADS_3

Inspektur Lucca kembali bekerja karena cutinya sudah selesai. Pria itu duduk di kantor karena tak ada misi untuknya kali ini dan dia bisa bersantai.


“Sepi sekali hari ini.” keluh pria itu


melihat mejanya yang rapi bersih tak ada satupun dokumen di sana. “Aiptu Daniel apa ada misi untuk kita kali ini ?” pria itu sampai menelepon bawahannya sekaligus orang kepercayaannya untuk menanyakan misi.


“Maaf Inspektur Lucca, kali ini belum ada misi yang masuk untuk kita.”


“Ya, baiklah.” pria itu kemudian menahan gagang telepon kembali ke tempatnya dan menyandarkan bahunya ke kursi berpikir apa yang bisa dilakukannya kali ini. Jujur saja terbiasa dengan menjalankan misi, ia terlihat bingung jika tak ada misi untuknya.


Dua jam berlalu pria itu masih duduk di kursinya dan terlihat mulai menguap sambil membaca berkas-berkas kasus yang sudah selesai di tangannya.


Satu jam berlikutnya pria itu mulai terlihat bosan. “hoahem.” Inspektur beberapa kali menguap kembali dan bikin kali ini ia merasa sangat mengantuk hingga ia pun tak sadar tertidur di kursi.


Beberapa menit setelahnya, pria itu tidur pulas. Ia kembali bermimpi yang tak pernah ia mimpikan sebelumnya.

__ADS_1


Inspektur Lucca berada di sebuah rumah desain kuno dan mewah entah di mana itu. Di sana kedatangannya menjadi sorotan setiap mata yang melihatnya.


“Siapa manusia itu dan kenapa ia kemari ? Apa dia ingin menjadi santapan kita ?” ucap seorang pria dengan gigi bertaring dan mata merah menatap ke arah Inspektur Lucca.


“Lucca, aku sudah menunggumu.” tiba-tiba Livia keluar dari rumah mewah itu berlari menghampiri Inspektur.


Mereka berdua kemudian masuk ke rumah dengan bergandengan tangan.


“Livia apa orang tua mu akan merestui hubungan kita ?” Inspektur Lucca berhenti di tengah jalan karena merasa ragu selain itu ini juga pertama kalinya ia bertemu dengan orang tua kekasihnya itu.


Mereka berhenti di sebuah ruangan di mana di sana terdapat ayah Livia yang menunggunya.


“Ayah aku datang membawa seseorang.” Livia masuk bersama Inspektur Lucca menemui ayahnya.


Pria di depan mereka itu sedih dan menatap intens sosok pria yang dibawa oleh putrinya. Ia mengamati dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.

__ADS_1


“Kau manusia ?” kalimat pertama yang keluar dari ayah Livia, Theodore Neve dengan menetapnya tajam.


“Ya, aku Lucca Salvatore kekasih Livia Neve.” Inspektur segera memperkenalkan dirinya dengan serius.


“Ayah pria ini ceritakan padamu beberapa waktu yang lalu. Jika ayah terus males aku untuk menikah maka aku akan mencarinya hari yang baik untuk kami melangsungkan acara pernikahan.” Livia terlihat senang mengira ayahnya setuju dengan yang di bawahnya dan sekaligus akan menjadi suaminya kelak.


“Tidak ! Kau tak bisa menikah dengan manusia. Kau harus menikah dengan sesama vampir !” jawab Theodore menolak tugas dan menentang hubungan mereka berdua.


Inspektur Lucca melepaskan genggaman tangan mereka mendengarkan pernyataan dari ayah Livia sembari menatap Livia yang juga menatapnya.


“Tidak ayah, aku tidak mau menikah dengan vampir. Aku hanya mau menikah bersama Lucca saja.” Livia menolak tegas sembari menggenggam kembali tangan Inspektur dengan erat.


“Jika kau bersikeras dan tak menuruti perkataan ayahmu ini maka aku tak akan segan lagi melakukan sesuatu pada kekasih manusiamu ini.” Theodore menatap tajam ke arah inspektur.


“haah....” Inspektur Lucca bangun dari tidurnya dengan berkeringat dingin. “Mimpi apa aku barusan ?” gumamnya sembari mengusap wajahnya memikirkan kembali mimpinya tadi.

__ADS_1


Namun belum sempat ia memikirkannya ulang, muncullah sosok pria asing yang dulu pernah dilihatnya bicara dengan Livia saat ini ada di depannya, tersenyum padanya.


__ADS_2