Shadow Girl

Shadow Girl
Eps. 40 Bunker Rahasia


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Livia tiba di istana besar, megah yang menjulang tinggi di antara bangunan lainnya yang ada di sana dan sekaligus tempat tinggalnya selama ini.


“Salam Putri Livia.” beberapa pengawal yang ada di sana menyapanya saat dia masuk.


Namun Livia yang sedang marah sama sekali tak merespon sapaan dari para pengawal yang ada di sana dan dia terus berjalan masuk ke dalam.


“Ayah... ! Aku ingin bicara dengan mu !” ucapnya lantang sembari mencari keberadaan ayahnya. “Dimana dia ?” ia terus mencari hingga akhirnya kemudian berhenti di sebuah ruangan di mana ayahnya biasa berada.


“Livia, kau akhirnya pulang juga nak.” ucap Theodore Neve segera berdiri dari kursi menatap kepulangan putrinya dengan tersenyum lebar.


“Ayah tak perlu menyambut ku seperti itu. Katakan padaku kemana ayah membawa Lucca ?!” balas Livia menatap tajam pada ayahnya dengan mata merahnya karena saat ini ia masih sangat marah.


“Hiss. Apa kau tidak rindu pada ayahmu ini ?” pria itu menuruni anak tangga Singgasana kemudian menghampiri Livia sembari menyentuh bahunya. “Setidaknya berikan saranmu pada ayahmu ini.”


Phaak


Livia tak menjawab dan langsung menampik tangan ayahnya sendiri dengan keras.


“Kau masih dingin seperti biasanya.” Theodore masih terlihat tenang dan santai mengumbar senyum nya.


“Ayah di mana Lucca ?” ulang Livia bertanya karena ayahnya masih belum merespon pertanyaan itu.


“ck. Kenapa hanya dia saja yang kau pikirkan selama bertahun-tahun ini ?” ia beralih menyentuh pipi putrinya yang lembut.


“Ayah, katakan pada ku ke mana kau menyembunyikan Lucca ?!”

__ADS_1


Livia tak suka bertele-tele maka ia pun langsung saja menarik pedangnya dan mengayunkan ke arah ayahnya.


Namun dengan mudah Theodore bisa menghindari serangan dari putrinya.


“Aku tidak membawanya kemari. Kau jangan terus menuduh ayah mu ini.” ucap pria itu pada akhirnya semalam mengangkat kedua bahunya.


“Bohong ! Aku tahu Ayah menyembunyikannya di suatu tempat di istana ini.” sanggah Livia berdasarkan penuturan dari Mother Theresa yang tak mungkin salah dengan penglihatannya.


“Lupakan dia Livia. Lupakan manusia bodoh dan lemah itu.” Theodore kembali mengumbar senyumnya yang membuat Livia semakin naik pitam.


“Percuma saja aku bertanya padanya. Sudah pasti ayah tak akan memberitahukannya padaku dan waktu ku terbuang percuma di sini.” batin Livia menahan serangannya dan berpikir kembali.


“Jika sampai aku menemukan Lucca di sini dan dia terluka parah aku akan membuat perhitungan denganmu ayah. Ingat itu !” setelah mengancam ayahnya wanita itu pun segera pergi dari sana dan menyisir setiap ruangan yang ada dalam istana.


“Dimana Lucca ?” Livia sudah menyisir semua ruangan yang ada di istana tapi tetap tak menemukan sosok kekasihnya itu.


“Maaf, putri kami tidak tahu di mana manusia yang putri maksud.” ucap seorang pengamat dengan gemetar dan ketakutan.


Livia tak mau membuang waktunya begitu saja dan dia lebih memprioritaskan untuk menemukan Lucca sekarang.


“Apa mungkin dia di sana ?” pekiknya teringat pada sel tahanan vampir.


Langsung saja ia bergerak secepat bayangan mana juga sel tahanan.


“Lucca !” panggilnya, setibanya dalam sebuah sel. Ia menatap setiap sel tahanan yang ada di sana. “Dia tak ada di sini.” gumamnya tak menemukan sosok lelakinya di sana.

__ADS_1


Livia tak membuang waktunya dan mencari ke tempat lain yang belum dijamahnya.


Ada banyak tempat untuk menghukum vampir di sana dan Livia memeriksa ruangan itu satu per satu.


“Aku bahkan sudah mencarinya sampai kemarin tapi aku tak menemukannya.” gumamnya dengan sedih tak tahu lagi harus mencari ke mana.


Livia kembali mencari meskipun ia tak yakin akan menemukannya. Di tengah jalan samar-smar ia mendengar suara lemah di sekitarnya.


“Lepaskan aku dari sini.”


“Lucca ! Apa itu kau Lucca ?” dengan pendengarannya yang tajam, Livia mendengar suara yang sangat lirih namun Masih jelas terdengar dan satu lagi suara itu mirip sekali dengan suara Inspektur Lucca.


“Suara itu dari sana.” Livia mengikuti asal sumber suara tersebut dan berhenti di sebuah tanah kosong. “Tak ada apapun disini.”


Ia tak putus asa dan menempelkan telinganya ke tanah karena curiga ada seseorang di bawah sana.


“Ya, benar ada sekarang di bawah sana mungkin saja itu Lucca.” gumamnya yakin.


boom


Livia membuat ledakan di sana dan yang membuat tanah di sekitarnya hancur dan muncul sebuah kubah. Terlihat anak tangga menurun dari luar.


“Ada bunker rahasia di sini ?!” pekiknya terkejut karena selama ini ia tak pernah mengetahui tempat itu.


Langsung saja Livia menuruni anak tangga tersebut dan dengan cepat tiba di ujung anak tangga.

__ADS_1


“Lucca !” teriaknya berhasil menemukan keberadaan pria itu namun seperti yang diucapkan oleh ibu baptis nya, inspektur Lucca mengalami luka parah.


__ADS_2