Shadow Girl

Shadow Girl
Eps. 15 Livia Menghilang


__ADS_3

Suatu malam Inspektur Lucca tengah bersantai. Seharian ini dia tak beristirahat karena banyak tugas di kantor dan baru bisa duduk dengan jenak di rumah.


Meskipun Livia tinggal di rumahnya bukan berarti wanita itu terus berada di sana. Livia sering keluar sendiri bukan untuk bermain ataupun bersenang-senang melainkan membasmi sosok yang terus berdatangan mengepung rumah Inspektur.


“Livia kau sudah kembali.” Inspektur Lucca segera berdiri dan menghadap pintu begitu mendengar suara pintu terbuka.


Livia masuk dengan berkeringat, “Ya, inspektur Lucca. Aku tidak tahu kenapa belakangan ini semakin banyak sosok yang datang menyerang kita.”


Inspektur Lucca yang merasa banyak berhutang budi pada wanita tersebut mengambilkan air minum untuknya.


“Terimakasih, Inspektur.” ucap Livia setelah meminum air yang diberikan oleh Inspektur dan menaruhnya kembali ke meja.


“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu karena selama ini kau sudah banyak membantuku.”


Mereka berdua kemudian duduk di sofa setelah keadaan di sana benar-benar aman.


“Aku akan memasang bom lebih banyak lagi besok di sekitar rumah agar kau bisa beristirahat.” ucap Inspektur tiba-tiba karena merasa jika wanita itu perlu istirahat juga seperti dirinya dan bukanlah bodyguard-nya.


“Ya, aku akan membantumu memasangnya besok.”


Jarang sekali mereka berdua bisa duduk bersama terlebih mengobrol ringan atau sejenisnya.


“Livia ada yang ingin ku katakan padamu.” Inspektur Lucca mencoba memulai pembicaraan mereka dan menyampaikan yang ada di hatinya. “Aku merasa belakangan ini target yang kita buru bertambah kuat. Apa kau tahu kenapa ?”


Livia diam beberapa detik sebelum menjawabnya. “Apa aku harus memberitahunya jika target itu bekerjasama dengan Samuel Neve.” menatap intens Inspektur Lucca. “Tapi jika aku memberitahunya itu artinya juga identitasku akan terungkap dan belum saatnya bagiku menceritakannya.” Ia mengalihkan pandangan karena pria itu juga menatap intens dirinya.


“Ya, aku juga masih mencari tahu hal itu Inspektur.”

__ADS_1


“Aku curiga saja ada seseorang yang dengan sengaja menambah kekuatan mereka.” celetuk Inspektur Lucca menebak-nebak sendiri.


Livia yang mengalihkan pandangan seketika menatap kembali pria yang duduk di sebelahnya. “Apa ia tahu keberadaan Samuel Neve?” batinnya curiga pada Inspektur.“Tapi sepertinya tidak mungkin dia mengetahuinya.” menepis sendiri kecurigaannya.


“Mungkin saja inspektur.” jawab Livia singkat karena tak ingin muncul banyak pertanyaan dari pria tersebut.


Inspektur Lucca kemudian mencoba mengganti topik pembicaraan karena sepertinya Livia tak ingin membahas hal tersebut.


“Livia selama ini aku belum mengetahui asal usul mu. Mungkin saja kau mau menceritakannya sedikit padaku ?” ucap pria itu sembari mengambil remote TV dan mengecilkan volumenya.


Livia sudah menduga hari ini akan datang juga dimana Inspektur Lucca akan menanyakan identitasnya karena ia yakin tak seorangpun bisa menemukan identitasnya termasuk pria yang duduk di sampingnya.


“Inspektur Lucca aku merupakan keturunan keluarga Neve dari Cheko dan bermigrasi kemari beberapa pekan lalu.”jawab Livia menceritakan identitasnya tanpa menatap mata Inspektur karena takut pria itu akan mengetahui jika apa yang dia ceritakan adalah bohong.


“Oh...” Inspektur hanya mengangguk saja dan tak berani bertanya lagi. “Aku tahu kau bohong pada ku meski aku tidak tahu apa alasannya kau harus berbohong padaku.” batinnya tak mau memaksa karena pasti wanita itu punya alasan sendiri berkata demikian.


“Ya, selamat malam dan selamat beristirahat.”


Inspektur Lucca kemudian memutuskan untuk masuk ke gambarnya juga setelah Livia pergi dari sana.


Beberapa hari berlalu dan hari ini tepat tanggal 15 bulan purnama. Inspektur Lucca baru masuk ke rumah setelah memasang bom baru di sekitar rumahnya untuk berjaga-jaga.


“klak.” Inspektur Lucca kemudian masuk ke rumah dan mengunci kembali pintunya.


Setelah berganti baju ya pun duduk di sofa untuk meluruskan punggungnya sejenak.


“Kenapa aku merasa hari ini sepi sekali.” pria itu tak mendengar suara yang sangat berisik di luar juga tak melihat sosok Livia di rumah.

__ADS_1


Hingga satu jam lamanya ia duduk di sana, ia tetap tak melihat keberadaan Livia.


“Apa dia sedang tidur ? Atau kenapa ?” pria itu tiba-tiba merasa khawatir dan segera beranjak dari duduknya menuju ke kamar Livia.


“Livia...” Inspektur Lucca membuka pintu kamar. “Kemana dia ?” menatap kamar dalam keadaan kosong.


Entah kenapa perasaannya tak enak saja dan pria itu pun mencari wanita itu ke seisi rumah.


“Aneh sekali aku tak menemukan keberadaannya di manapun di rumah ini. Kemana dia ?” gumamnya setelah mencari ke dapur yang ternyata juga kosong. “Apa mungkin dia ada di luar rumah ?”


Inspektur Lucca kemudian mencari Livia di luar rumah.


“Livia... !” panggil Inspektur sembari berteriak menyusuri jalanan di sekitar rumahnya.


Tak ada jawaban ataupun respon juga pertanda yang menunjukkan keberadaan wanita itu. Namun Inspektur Lucca mempunyai senang yang kuat jika Levia masih ada di sekitar rumahnya.


“haah.” pria itu berhenti berlari untuk mengatur nafasnya yang tersengat sembari menatap ke langit. “Apa hari ini tanggal 15 ?” menatap bulan yang tampak penuh dan terlihat indah di balik sebuah pohon besar.


Ia pun bermaksud untuk menikmati pemandangan itu sebentar baru melanjutkan pencarian lagi untuk mencari Livia.


Sesampainya di dekat pohon besar, pria itu malah berhenti karena melihat sesosok yang dikenalnya meskipun itu dari belakang ia melihatnya.


“Livia, apakah itu diri mu ?” Inspektur Lucca kembali berjalan untuk mendekat dan berhenti tepat di bawah pohon. “Aku mencari mau kemana-mana dan ternyata kau ada di sini. Sedang apa kau malam-malam begini di sini ?”


Karena tak ada respon maka Inspektur kembali berjalan memutar dan berdiri cepat di hadapan wanita yang memang adalah Livia namun dia terlihat berbeda sekali malam ini.


“Livia, ada apa dengan mu ?” ucap Inspektur mengulangi pertanyaannya untuk yang kesekian kali sambil menatap paras cantik wanita itu yang terlihat sedikit menyeramkan malam ini dengan mata yang merah menatap lurus ke arah bulan purnama.

__ADS_1


__ADS_2