
Inspektur Lucca masih beradaptasi dengan pendengarannya sekarang ini. Kemanapun dia pergi maka selalu terdengar suara yang sangat berisik.
“Apa yang harus aku lakukan dengan pendengaranku ini ?” gumamnya di suatu siang hari saat ia bebas tugas dan berada di tempat umum, tepatnya di sebuah taman. Ya, pria itu sedang berlibur untuk melepas penatnya.
“Kemana dulu tempat yang aku tuju ?” pria itu bingung harus ke mana. “Sudahlah aku masuk area waterfall saja dulu.”
Inspektur Lucca sampai pada area water fall yang di padati pengunjung di akhir pekan.
“zrssh.” suara air terjun yang masih jauh dari tempat yang berada serasa memekakkan telinganya hingga pria itu menutup kedua telinganya.
“Apa yang dilakukan pria itu ? Kenapa ia menutup telinganya ?” ucap lirih seorang pengunjung yang merasa aneh melihat Inspektur Lucca dimana orang lainnya terbiasa dengan keramaian lisan.
“Sial mereka menganggapku aneh.” batin nya segera menyingkirkan tangan dari telinga dan bersikap wajar karena dia bisa mendengar suara pengunjung tadi dengan jelas meskipun berada jauh darinya.
“swish.” Inspektur Lucca mendengar suara bayangan cepat yang biasa mengejarnya.
“Oh... meski pun aku sedang tidak bertugas pun masih ada saja yang mengikutiku.” umpatnya lirih karena kesal. Niat hati ingin refreshing untuk melepaskan segala penat yang menghimpit ternyata bahkan dia pun tak bisa bersantai di saat liburan.
“ck.” decaknya kesal kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke depan serta melanjutkan langkahnya pura-pura menutup mata dan tak mengetahui kehadiran bayangan yang mengejarnya.
“1...2...3...4...” Inspektur Lucca mencoba menghitung berapa jumlah bayangan yang mengejar dirinya.
Pria itu hanya menoleh ke sekitar sambil tetap waspada untuk menikmati cuti akhir pekan yang diambilnya.
Baru sebentar ia menikmati views waterfall di depannya itu, ia melihat sosok yang tak asing di depannya.
“Bukankah itu buron kasus phedofil, Ben ?” Inspektur Lucca tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang buron yang menjadi target operasi bebas berkeliaran di tempat umum seperti ini. “Apa dia cari mati ?”
Pria itu beberapa waktu yang lama melihat beberapa wajah buronan yang menjadi target operasi kepolisian dan menghafal wajah mereka.
__ADS_1
“Tunggu ini waktu liburanku.” pria itu berniat cuek saja dan tak ingin menangkap pria tersebut di luar kerjanya. “Sial, sial-sial !” ia berusaha untuk tutup mata namun darahnya sebagai petugas penegak hukum tak bisa tinggal diam dan membuatnya terpaksa menangkapnya.
“dor !” pria itu pun segera melepaskan tembakan ke udara yang membuat semua pengunjung di sana berlari ketakutan.
“Ada polisi di antara warga sipil ini.” pekik Ben terkejut kenapa ada tembakan menuju ke arahnya namun untungnya ia bisa menghindar dan ia pun segera berlari secepat mungkin untuk menghindari kejaran polisi.
“Berhenti !” Inspektur Lucca terus mengejar targetnya.
“Siapa kau ?”
“Agen kepolisian, Inspektur Lucca.” jawabnya sambil menunjukkan lencananya pada target.
“Inspektur Lucca ?” Ben tidak mengenali sosok Inspektur dalam pakaian warga sipil di tambah dengan kacamata hitam yang membuat wajahnya tidak terlihat jelas. Ia pun segera kabur begitu mendengar nama itu disebut.
“Jangan pergi kau !” Inspektur Lucca segera menembakkan beberapa peluru yang menembus kaki targetnya dan membuatnya kesulitan berjalan.
Melihat target yang sudah jatuh, pria itu pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Baik, inspektur Lucca aku akan segera kesana.”
Tak lama setelahnya Briptu Marco datang dengan dua anggota polisi lainnya kemudian segera membawa target tadi.
“Akhirnya aku bisa liburan dengan tenang.” desaunya setelah kembali berjalan dan menikmati views yang ada di sana.
“Swish.” baru beberapa detik pria itu duduk di tepi batu menatap air yang mengalir dari atas, kembali terdengar suara dari bayangan yang mengikutinya.
“swoosh !” kini bayangan itu tak hanya mengikutinya saja tapi mulai menyerangnya.
“Hiss.” Inspektur Lucca berhasil menghindari peluru yang mengarah padanya.
__ADS_1
“Argh !” para pengunjung lainnya berteriak histeristik kembali mendengar tembakan pistol dan berlari ketakutan.
“Aku harus pergi dari sini sebelum membuat pengunjung lainnya takut.” Inspektur Lucca pun memanaskan untuk kembali ke mobilnya setelah melepaskan beberapa tembakan ke arah bayangan yang mengikutinya.
Ia pun menghentikan mobilnya di tengah area persawahan yang barusan panen untuk berduel di sana.
“Majulah kalian !” kini bertambah menjadi enam sosok bayangan yang mengejarnya.
“dor !” tembakan pertama berhasil membuat keenam bayangan tersebut menunjukkan wujudnya.
Keenam sosok tadi tidak berbeda jauh dari target penjahat yang selama ini ia buru namun sedikit berbeda dengan mereka. Dua di antara mereka memiliki mata merah.
“Siapa kalian ? Dan kenapa mengejar ku ?” tanya Inspektur Lucca sampai kembali melayangkan tembakan ke masing-masing sosok tersebut.
“Kau tak perlu tahu siapa kami. yang perlu kamu tahu kami akan memburu mu.” jawab salah satu pria menatapnya tajam.
“Matilah kalian semua !” Inspektur Lucca kembali menembak mereka semua secara beruntun dan setelah tembakan ke-7 kalinya barulah mereka semua tak bergerak lagi.
Inspektur Lucca segera mendatangi 6 korbannya sudah tewas untuk mengidentifikasinya. “Astaga !” pekiknya karena 6 sosok tadi kemudian hancur seperti terbakar dan menjadi abu dalam hitungan detik saja.
“Sebenarnya mereka ini apa ?” pria itu mempertanyakan siapa sebenarnya sosok dari.
Malam hari di rumah Inspektur Lucca.
“Mungkin sama aku masih bekerja sebagai agen kepolisian hidupku tak akan bisa tenang.” gumamnya naik ke ranjang dan memejamkan mata setelah menutup telinganya dengan penutup telinga yang ia rancang khusus sehingga suara bising di luar terdengar normal seperti biasanya.
Di saat Inspektur Lucca sudah tertidur lelah di rumahnya banyak sosok bayangan hitam yang mengepung dan bersiap untuk menyerangnya.
“Hentikan kalian semua !” seorang wanita turun dari atap rumah Inspektur dan menghalangi sosok bayangan itu masuk ke rumah Inspektur.
__ADS_1
“Aku seperti mendengar suara bising di luar ?” gumam Inspektur membuka matanya yang terasa berat seperti mendengar suara keributan. “Mungkin itu preman jalanan yang sedang berkelahi.”
Pria itu kembali tidur dan tak mempedulikan hal itu. Sedangkan seberapa banyak sudah menerobos masuk ke rumah.