Shadow Girl

Shadow Girl
Eps. 12 Keluarga Neve Lainnya


__ADS_3

Livia menatap Intens pria yang berdiri di hadapannya. Ia masih mempertimbangkan tawaran dari pria tersebut.


“Bagaimana apa kau bersedia ?” ulang Inspektur Lucca untuk ketiga kalinya setelah pertanyaan yang kedua juga belum dijawabnya.


Livia merasa ada sosok di belakang Inspektur Lucca. “ 10... 12...20.” batinnya menghitung dalam hati dan ada dua sosok di sana yang akan menyerang pria itu.


“Aku akan memberikan special salary untuk mu.” Inspektur Lucca menyebutkan sebuah nominal yang tidak kecil. Namun bukannya Livia menjawab, wanita itu malah pergi meninggalkannya begitu saja dengan bergerak cepat.


“Livia tunggu !” Inspektur Lucca mengejarnya.


“Diam disana sebentar.” balasnya dan membuat Inspektur seketika berhenti melangkah meskipun tak tahu ada apa dan kenapa ia harus berhenti di tempat.


“boom.” Fiona melemparkan satu belati di tangannya dan seketika terjadi ledakan dahsyat dimana dari dalam asap terlempar banyak tubuh yang terbakar karena ledakan barusan.


“Astaga ternyata masih ada juga yang mengejar ku.” Inspektur baru melangkahkan kembali kakinya setelah melihat tubuh yang hancur tadi terbakar dan menjadi abu yang tertiup oleh udara malam saat itu.


“Livia aku masih menunggu jawabanmu.” ucap Inspektur mengurangi perkataannya keempat kalinya.


“Ya, aku mau dan kau tak perlu menggaji ku Inspektur Lucca.” Livia berbalik dan berhenti di depan Inspektur sambil meniup belati kecil di tangannya kemudian menyarungkan ke pinggangnya dan berlalu dari sana.


“Livia tunggu !” pria itu sampai berlari mengejar Livia yang sudah berjalan jauh di depannya. “Apa yang kau ucapkan itu benar ?”


Inspektur Lucca sampai menarik tangan Livia untuk menghentikannya.


“Apa aku perlu mengurangi perkataanku lagi Inspektur ?”


Inspektur Lucca tak bertanya lagi dan meresponnya dengan tersenyum lebar saat wanita itu berhenti. “Jika begitu kau akan tinggal dengan ku sekarang.”


Inspektur Lucca baru tersadar dengan ucapannya tersebut yang artinya dia harus menyiapkan kamar khusus untuk Livia.


“Kenapa aku tidak terpikirkan itu tadi.” umpatnya sambil tersenyum karena di rumahnya hanya ada satu kamar saja.

__ADS_1


“Inspektur sampai kapan akan berdiri di sana ?” Livia yang sudah berjalan duluan berhenti dan berbalik memanggil Inspektur luka yang belum beranjak dari tempatnya sama sekali.


“Ya, tunggu aku.”


Inspektur Lucca kemudian kembali berlari menyusul Livia yang sudah sampai di depan pintu rumahnya.


“Tidak, lebih baik aku tunggu saja dia yang membuka pintunya.” Livia yang sebenarnya mengetahui kode sandi rumah Inspektur mengurungkan niatnya untuk menekan kode kuncinya dengan berbagai pertimbangan.


Selang beberapa menit kemudian Inspektur tiba disana. Ia menekan kode sandi pintunya.


“Ayo masuk.”Inspektur mempersilakan wanita itu masuk terlebih dulu karena ia mempunyai prinsip lady first dan lebih mengutamakan kepentingan wanita daripada lainnya. Selain itu Livia juga sudah banyak membantunya ditambah wanita itu tak mau menerima sepeser pun uang darinya. Jadi pantas bukan, jika dia sangat menghargai wanita tersebut ?


“Oh... Livia kau tunggu di sini sebentar aku akan menyiapkan kamar untukmu.” ucap Inspektur Lucca setelah mereka tiba di rumah dan Livia duduk di sofa.


Inspektur Lucca menuju ke kamar kosong tepatnya sebuah ruangan yang tidak ia tempati dan sudah ia jadikan gudang.


“Sebaiknya aku bersihkan ruangan ini sebelum hari bertambah malam.” pria itu membersihkan ruangan tersebut dengan menyingkirkan beberapa barang yang menumpuk di sana dan memindahnya ke tempat lain.


Tepat di saat Livia akan berdiri Inspektur Lucca datang menemuinya.


“Aku akan tunjukkan kamar mu di sana.”


Livia berjalan mengikuti Inspektur menuju ke gudang sekarang sudah disulap dengan cepat oleh pria tersebut menjadi sebuah kamar.


“Maaf sebenarnya hanya ada satu kamar di sini dan ini adalah gudang yang aku bersihkan sedemikian rupa, tapi maaf aku tak bisa mendesain kamar wanita dan kau bisa mendesainnya sendiri nanti.”


“Terimakasih Inspektur Lucca. bagiku ini sudah lebih dari cukup.”


Livia kemudian masuk ke kamar tersebut setelah Inspektur Lucca pergi dari sana.


Dua jam berikutnya mereka berdua sudah tertidur di tempatnya masing-masing.

__ADS_1


Keesokan paginya Inspektur Lucca bangun dan masih membiasakan diri dengan kehadiran Livia di rumahnya. Pria itu terlihat berantakan saat bangun dengan kamar tidur yang acak-acakan. Sementara Livia sudah terlihat rapi bahkan ia pun membuatkan masakan untuk pria tersebut sebagai balas budi karena sudah memberinya tempat tinggal.


“Inspektur sarapan sudah siap.” Livia membawa sarapan tersebut ke kamar Inspektur.


“Ya, taruh di sana dulu aku akan bersiap dulu.” Inspektur Lucca terkesan menghindari Livia karena pria itu sebenarnya dengan kondisinya sekarang di depan Livia.


Dua jam kemudian Inspektur Lucca bersiap berangkat ke kantor bersama Livia yang tentu saja mengikutinya dari kejauhan seperti bayangan hingga mereka tiba di kantor Kepolisian.


“Inspektur ini tugas kita selanjutnya.” Aiptu Daniel masuk keruangan Inspektur untuk menghadap sembari menyerahkan berkas target kepolisian berikutnya.


Inspektur Lucca menerima berkas tersebut dan membacanya. Ia melirik ke samping kanan dimana Livia berada dalam wujud bayangan dan hanya dirinya saja yang tahu.


“Eksekusi sekarang saja Inspektur Lucca.” ucap Livia lirih yang bisa didengar jelas oleh Inspektur yang mengangguk pelan.


“Aiptu Daniel persiapkan tim dan lainnya. 90 menit dari sekarang kita akan mulai bergerak.” Inspektur Lucca menyodorkan kembali atas tadi pada anggotanya yang terkejut mendengar keputusannya yang sangat mendadak dan cepat.


“Ba-baik Inspektur Lucca.”


Pria tersebut kemudian segera keluar dari ruangan Inspektur dan kalang kabut sendiri mengurusi sama persiapkan tim yang akan bergerak saat itu juga. “Kenapa Inspektur Lucca hari ini mempercepat misinya padahal biasanya ada tempo 3 sampai 5 hari untuk menjalankan misi.” namun tak ada waktu baginya untuk mempertanyakan hal tersebut.


Tepat 90 menit kemudian Inspektur Lucca bersama timnya bergerak ke lokasi yang ditentukan untuk menangkap target buronan polisi.


Operasi penangkapan kali ini berjalan dengan cepat juga mulus berkat adanya bantuan dari Livia yang bergerak cepat seperti bayangan dan hanya Inspektur saja yang mengetahuinya.


“Good job Livia.” ucap Inspektur Lucca memuji kinerja wanita itu saat membantunya menjalankan misi ke tujuh bersama wanita itu.


Suatu malam setelah pulang menjalankan misi bersama Livia, Inspektur Lucca terbangun dari tidurnya di tengah malam. Ia mendengar Livia berbicara dengan seseorang di luar rumah.


“Siapa pria itu ?” Inspektur Lucca tak keluar dan hanya melihatnya dari balik tirai jendela.


“Pergi kau Samuel Neve dari sini. Jangan sampai aku melihatmu lagi atau kau akan hancur di tanganku !” bentak Livia marah mengusir pria tersebut pergi dari sana.

__ADS_1


“Neve... pria itu juga bernama belakang Neve ?” Inspektur Lucca mengerutkan keningnya kenapa ada keluarga Livia yang ke rumahnya.


__ADS_2