
Inspektur Lucca kemudian menatap sosok wanita asing yang berada di depannya juga di samping Livia. “Siapa dia, apa dia juga vampir?” batin Inspektur Lucca menatap mata wanita itu hazel seperti warna mata Livia.
“Livia apakah nyonya ini--”
“Dia mother Theresa, Ibu baptis ku.” potong Livia dengan cepat menjelaskan identitas wanita tersebut.
“Aku Lucca, senang berjumpa dengan anda mother Theresa.” Pria itu menyapa wanita tersebut dengan sopan.
“Duduklah kalian berdua ada yang ingin ku jelaskan pada kalian.”
Inspektur Lucca dan Livia kemudian segera duduk bersama sembari menunggu apa sebenarnya ingin dibicarakan oleh wanita itu yang membuat mereka berdua penasaran.
“Karena Livia sudah ku anggap seperti anakku sendiri maka aku pun akan menganggapmu demikian, anak muda.” wanita itu menatap Inspektur Lucca.
“Ada apa mother ?” balas Inspektur semakin yakin jika wanita itu mau menyampaikan sesuatu yang penting atau suatu masalah padanya.
Wanita itu mengangkat satu tangannya menerawang mereka berdua dan terlihat masa lalu mereka yang penuh dengan darah.
__ADS_1
“Hubungan kalian dipenuhi oleh darah.”
Livia dan Inspektur saling berpandangan tak mengerti apa yang dibicarakan oleh ibu baptisnya Livia tersebut.
“Darah apa maksud anda mother ?” tanya Inspektur Lucca penasaran.
“Selama kalian terus menjalin hubungan maka akan selalu ada darah yang tertumpah di belakang kalian.”
“Lalu apa yang harus kami lakukan ?” kali ini ganti Livia yang bertanya setelah memahami maksud dari ibu baptisnya dengan banyaknya darah dari vampir yang ia binasakan selama ini untuk melindungi pria terkasihnya.
“Ada rantai kutukan yang mengikat kalian dengan erat hingga membuat banyak darah mengalir karena kutukan itu.” mother Theresa kembali membahas hal tersebut. “Kau mengulang kisah ibu mu, Livia.”
“Ibu, ada apa dengan ibu ?” jawabnya terkejut sekaligus muncul tanda tanya besar dalam benaknya. “Apa yang pernah terjadi pada ibu ?”
Mother Theresa tak sadar mengucapkan hal tersebut yang seharusnya tidak ia sampaikan di depan Livia karena itu merupakan rahasia antara dirinya dan wanita itu yang merupakan teman dekatnya.
“Tidak Livia, kau hanya salah dengar saja aku sedang rindu saja pada ibumu dan mengucapkan itu begitu saja.” mother Theresa segera meralat ucapannya agar tak muncul kembali pertanyaan tentang teman baiknya itu.
__ADS_1
Untungnya Livia percaya saja pada perkataannya.
“Jangan sampai sampai pria ini menjadi korban dari kutukan leluhur vampir.” batin Mother Theresa teringat kembali pada moment kematian teman dekatnya.
“Apakah ada cara untuk mematahkan kutukan tersebut, mother ?” tanya Inspektur Lucca Tak sabar karena jujur selama ini ia sudah lelah terus memburu vampir juga bertarung dengan mereka tiada henti.
“Ya, ada satu cara bisa mematahkan kutukan tersebut.” jawabnya dengan mata yang melebar juga senyum yang lebar menatap Livia Inspektur bergantian.
“Tolong beritahu kami, mother Theresa.” Inspektur Lucca tampak penasaran sekali.
“Kalian harus menemukan pedang pemutus kontrak perjanjian darah, Phormosa untuk mematahkan rantai tersebut.” jawabnya menarik kembali tangannya karena sudah tak ada lagi yang bisa dilihatnya.
“Oh jadi mudah sekali memutuskan rantai kutukan itu cukup dengan menemukan pedang itu bukan, mother ?” timpal Inspektur Lucca yang merasa mudah sekali jika harus menemukan sebuah pedang saja.
“Dimana kami bisa mencari phormosa, mother Theresa ?” Livia tak ngalah penasaran dan jika saja ia mengetahui tempatnya sudah pasti yang akan segera membawanya.
“Sayang sekali aku tidak mengetahui pedang itu berada saat ini karena tidak nampak dalam terawangan ku.”
__ADS_1
Baik Inspektur maupun Livia yang awalnya terlihat ceria seketika menjadi kecewa mendengar jawaban dari Ibu baptis Livia.