
Inspektur Lucca dan Livia duduk di heli setelah Inspektur memutuskan untuk mengambil alih kemudi dan meminta pilot yang bertugas saat itu menyerahkan kemudi itu padanya.
Mereka terbang sampai ke ujung Kota Milan dalam waktu dua jam saja.
“Livia ini kompas ku. Coba kau lihat ke arah mana kita selanjutnya ?” Inspektur Lucca menyerahkan kompasnya pada Livia yang duduk di sampingnya karena ia fokus mengemudi dan tak bisa melihat kompasnya.
“Ya, biar ku lihat.”
Livia menerima kompas tersebut lalu mengeluarkan peta yang dia bawa agar lebih akurat dan tidak bekerja dua kali.
“Saat ini kita berada di titik ini. Jadi untuk menuju ke Knoxville maka kita perlu mengambil arah jarum pulu 02.00.” ucapnya setelah memperhatikan dengan seksama dan membedakan posisi akurat mereka saat ini.
“Baik, kita akan ke sana sekarang.” timpal Inspektur Lucca menoleh ke samping kiri menatap Livia yang terlihat tak sabar ingin segera sampai di tempat tujuan.
Sepuluh menit kemudian, Inspektur melihat kawasan berbatu cadas yang berada 3 meter di depan mereka.
“Lucca kita sampai.” ucap Livia histeristis sembari melongok ke bawah.
“Tunggu jangan melompat turun dulu.” ucap Inspektur Lucca saat melihat kekasihnya itu akan beranjak dari tempat duduknya. “Aku akan mencari tempat yang tepat untuk mendarat dulu.”
__ADS_1
Livia kembali duduk meskipun ingin sekali rasanya ia segera melompat turun dari heli.
“Lucca kau arahkan hari ini ke arah sana dan mendarat di sana saja.” Livia mengamati sekitar dan menuju ke sebuah titik di mana di sana hanya ada padang rerumputan tanpa adanya pohon tinggi.
Inspektur Lucca hanya mengangguk saja menatap Livia sembari tersenyum tipis. Ia kemudian mengemudikan heli menuju ke arah yang ditunjuk oleh Livia.
whir
Heli kemudian mendarat dan langsung saja Livia bersama Inspektur Lucca turun dari sana.
“Bebatuan cadas itu ada di sana.” Inspektur Lucca menuju ke suatu arah setelah berjalan dan mengamati sekitar.
“Livia, apa yang kau lakukan ?” Inspektur Lucca sampai memeluk wanita itu agar ia tak jatuh.
“Aku tak mau membuang waktu kita lama disini, Lucca.”
Dalam hitungan detik saja mereka berdua kemudian berhenti di depan sebuah lokasi yang dikelilingi oleh bebatuan cadas tinggi seperti pagar.
“Aneh sekali terdapat tempat yang terlihat tandus dan tak subur seperti ini di tengah hijaunya rerumputan dan juga pepohonan yang tumbuh di sini.” celetuk Inspektur Lucca menatap ke sekitar kemudian menatap ke bebatuan tinggi di depannya yang setinggi 20 meter.
__ADS_1
“Berhenti, Lucca !” ucap wanita itu saat melihat pria itu mulai memanjat bebatuan tinggi di depan mereka.
“Ya, ada apa ?” Inspektur Lucca kembali melompat turun dan menetap ke arah Livia dengan tatapan menuntut.
“Jangan buang energi mu di sini sia-sia.” Livia tersenyum tipis kemudian lebih mendekat pada Inspektur.
Ia mengenggam erat tangan pria tersebut seperti sebelumnya. “Kau siap ?” tanyanya yang di angguki oleh Inspektur setelah mengerti apa yang dimaksud oleh Livia.
hap
Seperti sebelumnya Livia bergerak secepat bayangan melompat ke atas hingga mereka berhenti tepat di batu cadas teratas.
“Kurasa kita sudah sampai.” gumam Inspektur Lucca menatap ke depan dimana di sana terlihat banyak makam.
Tepat di saat mereka akan melompat turun ke bawah seseorang datang menghadang mereka.
Sesosok yang cepat bergerak seperti Livia.
“Mau kemana kalian ?” ucap seorang pria tersenyum menyeringai dengan mata merahnya menatap Livia dan Inspektur Lucca bergantian.
__ADS_1