
Inspektur Lucca kembali tidur dengan gelisah setelah mengalami mimpi yang menurutnya seperti nyata saja.
Bagaimana bisa tidur jika setiap kali tidur ia kembali bermimpi dan terlebih mimpinya kembali bersetting di satu tempat yang tak pernah ia lihat sebelumnya bersama dengan Livia dan tentu saja itu membuatnya Berkeringat dingin sehingga dia hanya tidur selama 2 jam saja sampai pagi.
“Lucca... Inspektur Lucca.” Livia segera meralat ucapannya memanggil Inspektur yang memanggilnya tanpa titel berdiri di depan pintu kamar pria tersebut sambil mengetuknya perlahan.
“Oh... jam berapa ini ?” Inspektur Lucca segera bangun dan menatap jam yang tergantung di dinding, menunjukkan pukul 09.00 pagi. “Aku bangun kesiangan. Untungnya hari ini aku masih cuti.”
Pria itu segera turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya.
“Sarapan mu sudah siap Inspektur.” ucap Livia melihat pria itu keluar dari kamar dengan tampang kusut. “Inspektur, ada apa ?”
Inspektur menatap intens wajah Livia yang berseri-seri. “Sepertinya dia tidur pulas semalam.”
“Ada apa Inspektur ?” ulang Livia karena pria itu belum juga merespon pertanyaannya sekaligus membuatnya penasaran.
Inspektur Lucca tak menjawabnya dan malah menarik tangannya mengajaknya duduk bersebelahan di sofa, barulah ia bicara.
“Livia semalam aku banyak bermimpi tentang ku.” pria itu kembali menatap Intens Livia. “Bukan aku saja, tapi aku juga memimpikan diri mu juga memimpikan hubungan kita. Apakah itu benar kau adalah kekasihku ?” lanjutnya setelah meralat ucapannya.
Livia kali ini terlihat serius mendengarkan ucapan Inspektur dan menunggu kelanjutan ceritanya namun pria itu juga menunggu jawabannya dan tak bicara lagi.
__ADS_1
“Coba pikir apa ada seorang wanita yang mau melindungi seorang pria selama 24 jam penuh tanpa istirahat juga tanpa imbalan, inspektur ?” jawab Livia dengan balik bertanya yang membuat Inspektur terlihat sangat-sangat syok sekali.
Gleg
“Jadi kau... benar kekasihku ?” ucap Inspektur Lucca menarik nafas panjang sembari menelan salivanya. “Maksud ku kita adalah sepasang kekasih ?” ulang nya menegaskan kembali.
Livia menganggukkan kepalanya dalam hati ia merasa bersyukur sekali pria itu sedikit bisa mengingat masa lalunya, terlebih hubungan mereka berdua.
“Oh My God.” Inspektur Lucca memegang kepalanya yang terasa berat bagaimana bisa dia bahkan tidak mengetahui kekasihnya sendiri. “What a bad guy I am.” pria itu sampai merutuk dirinya sendiri karena sampai melupakan Livia dari hidupnya.
Livia melihat pria itu menudukkan kepala dan terus menyalahkan dirinya sendiri padahal itu semua bukanlah salahnya.
“Tidak, tolong jangan seperti itu.” Livia menyentuh bahu Inspektur. “Bagi ku kau selalu yang terbaik dan sempurna untuk diriku.” Livia mencoba menghibur Inspektur. Ia menyentuh pipi pria itu sembari mengusap lembut.
Entah kenapa pria itu merasa nyaman sekali memeluk wanita di sampingnya seperti sudah lama sekali ingin melakukannya.
Keesokan harinya, Inspektur masih beradaptasi dan membiasakan diri dengan status baru Livia yang merupakan kekasihnya.
Jujur saja, meskipun mungkin dulunya mereka memang sepasang kekasih namun baginya tak mudah menumbuhkan rasa itu kembali begitu cepat.
“Inspektur sarapan mu sudah siap.” ucap Fiona melakukan rutinitas paginya.
__ADS_1
“Ya.” mereka berdua kemudian makan bersama dan suasana terlihat lebih canggung dari biasanya dan ada satupun dari mereka yang bicara.
“Livia aku ingin ingatanku segera pulih.” ucap pria itu memecah keheningan di tengah sesi makan paginya yang kesiangan.
“Setelah aku menghisap darahmu pelan-pelan nanti semua ingatan itu akan kembali.” jelas Livia singkat dan kembali bersikap seperti biasanya karena tak ingin membuat pria itu tak nyaman berada di sisinya. “Sepertinya aku harus lebih bersabar lagi sampai waktu itu tiba, Lucca. Cukuplah bagiku Kak sudah mengetahui hubungan kita sekarang.”
Mereka berdua menghabiskan sesi sarapan pagi dengan banyak diam hingga malam hari tiba, saat suasana di antara mereka sudah menghangat. Bahkan sampai Inspektur Lucca meminta Livia memanggilnya dengan namanya saja tanpa titel yang membuat wanita itu tersenyum.
Namun sayang senyumnya harus terusik saat ini.
“booom.” rentetan suara bom meledak di sekitar rumah Inspektur yang terpaksa menggantikan percakapan mereka berdua.
“Kenapa di saat seperti ini ?” keluh Inspektur yang sedang
memeluk Livia dan terpaksa harus melepaskannya lagi hanya dalam hitungan detik.
“Masih banyak waktu untuk kita.” Livia menatap intens pria yang sekarang sudah mengetahui identitasnya sebagai kekasihnya sembari tersenyum kecil. “Yang di luar lebih penting.”
Inspektur Lucca menganggap kemudian segera mengambil senapan laras panjangnya yang tergantung di dinding. Ia berjalan bersama Livia keluar dari rumahnya.
“Banyak sekali hari ini yang datang.” ucap Inspektur Lucca menetap korban yang berjatuhan di sana dan masih ada banyak sosok yang bersiap untuk menyerangnya.
__ADS_1
“Kau siap Inspektur ?” tanya Livia kali ini juga mengeluarkan pistol dari balik bajunya melihat banyaknya sosok yang datang menyerang.
“Lucca. Panggil aku Lucca sekarang. Sudah berapa kali aku mengatakannya padamu.” Inspektur Lucca mengingatkan lagi yang diangguki oleh Livia yang tersenyum tipis di tengah ia melawan para sosok yang saat ini menyerang mereka berdua.