Shadow Girl

Shadow Girl
Eps. 19 Amnesia


__ADS_3

“haah...” Inspektur Lucca kemudian terbangun dari tidurnya. Ia mengusap mukanya sembari menatap jam yang ada di dinding menarik nafas panjang.


“Ternyata hanya mimpi.” gumamnya merasa lega sembari menghapus keringat dinginnya. “Masih pukul 23.00.”


Inspektur Lucca mencoba kembali untuk tidur karena menganggap mimpi tadi hanyalah sebagai bunga tidur saja.


Namun pria itu tetap tak bisa memejamkan matanya.


“Kenapa mimpi itu seolah nyata saja ?” gumamnya mengganti posisi tidur miring ke kiri. “Lalu Kenapa Livia juga muncul dalam mimpiku ?” ia semakin merasa aneh saja karena sebelumnya ia sama sekali tidak mengenal salah satu wanita itu tapi kini bahkan sampai muncul di mimpinya.


Inspektur Lucca ya masih penasaran padahal tersebut mencoba turun dari tempat tidur ingin menanyakan hal tersebut pada Livia.


“Mungkin dia sudah tidur.” Inspektur Lucca sudah sampai di depan pintu kamar Livia dan akan mengetuk pintu itu namun ia mengurungkan niatnya dengan alasan tak ingin mengganggu istirahat wanita itu.


Inspektur Lucca kemudian kembali ke kamar dan duduk di tempat tidur memikirkan kembali mimpinya itu.


“Apa aku mengenal Livia sebelumnya ?” gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.


Pria itu memejamkan mata mencoba mengingat apa ada hal yang sudah dilupakannya ? Termasuk tentang Livia atau masa lalunya.

__ADS_1


“Kepalaku sakit terus memikirkannya dan aku sama sekali tak ingat apapun.” Inspektur Lucca sampai memegang kepalanya yang terasa berat hingga ia merebahkan dirinya kembali ke tempat tidur.


“zzzz...” Dua jam kemudian barulah pria itu bisa tidur kembali.


Livia yang sudah tidur dan sempat mendengar langkah kaki berhenti di pintu kamarnya terbangun meskipun ia tidak keluar dari sana dan hanya menatap saja ke arah pintu.


“Lucca... apa kau sudah pergi sekarang ?” Livia tahu ada Inspektur berdiri di depan kamarnya namun entah kenapa dia enggan untuk menemui pria tersebut dan memilih untuk menunggunya pergi.


Setelah memastikan tak ada suara di sana maka ia pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke kamar Inspektur.


“Lucca kenapa kau mencari ku ?” Livia berada di dalam kamar Inspektur Lucca dan berdiri tepat di samping pria yang masih tertidur pulas itu. “Apa kau ingat sesuatu ataukah melihat sesuatu setelah aku menghisap darahmu ?” Livia menatap intens pria di hadapannya itu, berharap sesuatu padanya.


Wanita itu pun berdiri menatap intens Inspektur lama sembari menyentuh tangan Inspektur dengan lembut agar tak membangunkan tidurnya.


“Sebaiknya aku kembali sekarang sebelum dia bangun dan menyadari keberadaanku di sini.” Ia pun memutuskan untuk segera pergi dari sana setelah puas memandangi wajah Inspektur Lucca, kembali ke kamarnya.


Pagi harinya Inspektur bangun. Entah Kenapa dia merasa seperti mencium aroma Livia di kamarnya, aroma mawar merah khas wanita itu yang dihafal olehnya.


“Livia ?” panggilnya sembari mengedarkan pandangan ke sekitar berharap wanita itu benar ada di kamarnya. “Mungkin hanya perasaan ku saja.”

__ADS_1


Karena masih ragu, maka ia pun beranjak dari kamarnya menuju ke kamar Livia yang ternyata juga kosong.


“Kemana dia ?” gumamnya sembari berjalan mencari ke tempat lain. “Livia, kau dimana ?” ia khawatir kejadian beberapa hari yang lalu kembali terulang wanita itu hilang dari rumah.


“Pagi Inspektur, ada apa mencari ku ?” Livia tiba-tiba muncul dari sebuah ruangan setelah mendengar panggilan dari pria itu.


“Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu, duduklah dulu.” Inspektur dengan gesture tangannya mengajak wanita itu untuk duduk bersamanya di sofa.


“Ya, inspektur ?” Livia kemudian duduk setelah pria itu duduk dan mereka duduk bersebelahan seperti biasanya.


“Apa yang ingin kau bahas denganku Inspektur ?”


“Mungkin saja kau tahu sesuatu. Semalam aku bermimpi bertemu dengan seorang pria yang memukulku hingga babak belur, namun kau datang dan menyelamatkan diriku.” Inspektur Lucca menatap dalam mata Livia berharap wanita itu punya penjelasan yang membuat rasa penasarannya hilang. “Katakan pada ku apa aku mengenalmu sebelumnya ?”


Livia tersenyum kecil, “Akhirnya kau menanyakannya juga padaku.” batinnya membalas tatapan dari Inspektur sembari mengangguk yang membuat pria itu terkejut sekali.


“K-kau mengenaliku ? Tapi kenapa aku tidak mengenalmu ?” tanyanya dengan menuntut karena banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran pria tersebut dan ingin sekali ia segera mengetahuinya. “Katakan padaku.” ucapnya lagi karena Livia masih belum juga merespon pertanyaannya.


“Amnesia. Tepatnya ada seseorang yang menghapus ingatanmu dan membuatmu menjadi amnesia.”

__ADS_1


“Apa ?!” pria itu semakin terkejut mendengar jawaban yang diberikan oleh Livia dan sejujurnya dia semakin tak mengerti saja pada dirinya sendiri dengan penjelasan tersebut.


__ADS_2