Shalwa Az-zahra

Shalwa Az-zahra
14.


__ADS_3

Shalwa terbangun dari tidurnya ia melihat sekeliling ternyata dia ada di kamarnya, seingatnya tadi dia sedang nangis di pelukan nenek. "siapa yang mindahin aku..?" monolog Shalwa dalam hati. Shalwa menggelengkan kepalanya yang terasa pusing mungkin karna lama nangis tadi.


sayup-sayup terdengar suara orang mengaji dari arah luar kamar, Shalwa turun dari ranjangnya dan membuka pintu kamar pelan Shalwa melihat ternyata keluarganya yang sedang mengaji.


Shalwa menutup pintu kamarnya pelan melihat jam ternyata udah pukul 10:30p lalu melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu dulu karna ingat kalau ia belum sholat.


selesai wudhu Shalwa mengerjakan Sholat isya terus di lanjut dengan membaca Al-qur'an.


jam 11 mereka menyudahi mengajinya mereka memakan camilan yang ibu suguhkan lalu setelahnya mereka pergi ke kamar masing-masing untuk istirahat.


Fahmi melangkahkan kakinya ke arah kamar Shalwa, Fahmi membuka pintunya perlahan dan mata Fahmi di suguhkan pemandangan yang indah menurutnya. Shalwa sedang merapihkan sejadah dan mukenanya tanpan memakai kerudung, rambutnya yang panjang dan lurus tergerai indah.


Shalwa yang tak menyadari ada yang masuk ke kamarnya dan memandanginya dari arah belakang masih anteng saja, setelah menyimpan mukena dan sejadahnya di atas meja Shalwa menggulung rambutnya dan mengikatnya asal.


Shalwa melangkahkan kakinya ke arah lemari yang ada di samping untuk mencari kerudungnya karna yang tadi kerudungnya sudah kotor.


Shalwa mengambil kerudung yang simpel di pakai lalu memakai nya langsung setelah dapat.


Shalwa berbalik hendak keluar karna perutnya serasa keroncongan. betapa terkejutnya Shalwa saat melihat Fahmi berdiri di depan pintu kamarnya yang sudah terbuka.


Shalwa cepat-cepat menundukan kepalanya, "sejak kapan dia ada disana..?" monolog Shalwa dalam hati.


"ma,,maaf" Fahmi gelagapan karna ketahuan sedang memandangi Shalwa dia jadi salah tingkah sendiri dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


Shalwa terlihat menganggukan kepalanya sedikit.


"apa adek mau makan..?" tanya Fahmi cepat karna sadar kalau Shalwa belum makan.


"em.. iya aku mau ke dapur cari makan." jawab Shalwa pelan.


"iya ayo akan aku hangatkan dulu makanannya, tadi ibu menyisihkannya untuk adek pasti sudah dingin sekarang." ucap Fahmi sambil berbalik dan melangkahkan kakinya ke arah kedapur.


Shalwa yang mendengar ucapan Fahmi lantas buru-buru menyusul langkah pria itu ke dapur. " em.. gak usah biar aku aja yang hangatin makanannya." ucap Shalwa setelah bisa menyusul Fahmi ke dapur dan ternyata Fahmi sudah mengambil makanannya. "em... a..abang istirahat aja ini sudah malam, pasti abang lelah." ucapnya lagi pelan sebenarnya Shalwa ragu memanggilnya begitu tapi mau panggil apa lagi masa memanggil dengan namanya kan gak sopan. Shalwa menadahkan tangannya meminta nampan yang berisi makanan yang akan di hangatkan di tangan Fahmi.

__ADS_1


Fahmi tersenyum menanggapi ucapan Shalwa "gak papa biar abang saja abang tak lelah cuma angetin doang. adek duduk saja tunggu makananya siap.!" Fahmi menggenggam tangan Shalwa yang menengadah dan menariknya menuju meja makan dan menyuruhnya duduk di kursi.


Shalwa yang tak menduga Fahmi akan melakukan itu hanya menurutinya dengan diam dan jantung nya yang berdetak kencang. Shalwa duduk mematung dengan perasaan tak karuan Shalwa tak mengerti. cuma pegang tangan saja sudah seperti itu. padahal Fahmi sudah pernah memeluknya waktu di rumah sakit saat kakek meninggal, mungkin waktu itu Shalwa sedang tak sadar dengan ke adaan dan Shalwa tak mengingatnya


Fahmi tersenyum melihat Shalwa seperti itu lalu menghangatkan makanan nya setelah selesai Fahmi menyajikannya di depan Shalwa.


Shalwa yang melamun bertanya-tanya kenapa dengan jantungnya terus berdebar, maklum Shalwa belum pernah jatuh cinta, dekat dan berpegangan dengan pria saja hanya dengan kakek dan kakaknya Ardi.


sampai Shalwa tak sadar kalau makanannya sudah siap dan Fahmi duduk di depannya.


"dek,, makanlah.!" ucap Fahmi tapi Shalwa tak merespon ucapannya.


Fahmi berdiri dan menghampiri Shalwa yang masih diam tak meresponnya walau Fahmi sudah melambai-lambai kan tangannya dan memanggil Shalwa beberapa kali.


"dek.." Fahmi menepuk pelan bahu Shalwa. akhirnya Shalwa tersadar dan terkejut dengan tepukan di bahunya.


"makan lah dek..!" ucap Fahmi. "abang kedepan dulu ya sepertinya tadi masih ada camilan sisa di ruang tengah. adek cepatlah makan ini sudah tengah malam adek harus istirahat..!" ucap nya lagi sambil tersenyum ke arah Shalwa lalu pergi keluar dari ruang makan karna melihat Shalwa menunduk dan mukanya memerah mungkin karna malu atau apa. Fahmi tau Shalwa pasti belum nyaman dekat dengannya.


Shalwa makan dengan masih kurang berselera tapi Shalwa ingin menghargai usaha suaminya jadi Shalwa memakannya dengan agak di paksakan sampai habis.


Fahmi sebenarnya tak pergi ker ruang tengah dia mengintip Shalwa dari arah pintu. Fahmi mengulum senyum gemas dengan tingkah Shalwa.


selesai makan Shalwa membawa piring dan gelas bekasnya untuk di cuci.


setelah selesai Shalwa keluar dari dapur.


Fahmi yang melihat Shalwa selesai buru-buru pergi ke arah sofa di ruang tengah, saat melihat Shalwa mendekat ke arah nya Fahmi pura-pura makan camilan yang ada disana.


"sudah selesai.?" tanyanya saat Shalwa sudah duduk di sofa di depannya.


"em.. sudah." jawab Shalwa singkat.


setelahnya mereka saling diam dan suasana jadi canggung.

__ADS_1


"em.. makasih dan maaf sudah merepotkan abang.." ucap Shalwa pelan memecah keheningan.


"sama-sama, abang tak merasa di repotkan, abang senang bisa melakukan sesuatu untuk adek." jawab Fahmi mantap.


"ini sudah malam mari kita tidur." tawar Shalwa. ia berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah kamar.


Fahmi mengangguk dan mengikuti Shalwa dari belakang.


setelah sampai di kamar Shalwa menggelar kasur lantai di bawah dan mengambil selimut dari lemari dan satu bantal serta guling.


Fahmi hanya mengamatinya dalam diam, Fahmi berpikir mungkin Shalwa belum nyaman jika tidur seranjang dengannya dan menyuruhnya tidur di bawah Fahmi tak masalah dengan itu, lalu Fahmi melangkah ke arah lemari untuk mengambil baju tidur, setelah mengambilnya Fahmi pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


Fahmi keluar dari kamar mandi, Fahmi melihat Shalwa sudah berbaring di kasur yang di gelar di bawah, Fahmi pikir itu untuk dirinya ternyata Fahmi salah.


lalu Fahmi menghampirinya. "kenapa adek tidur di bawah..?" tanyanya. "nanti adek tak nyaman, tidurlah di ranjang..!" ucapnya lagi.


"gak papa abang aja yang di atas." jawabnya pelan sambil duduk kembali. "maafin Shalwa karna Shalwa belum bisa tidur seranjang dengan abang. tapi Shalwa akan berusaha membiasakan diri tinggal satu kamar dulu dengan abang." ucap Shalwa semakin pelan sambil menunduk.


Shalwa tau kalau sudah menikah ia harus hidup berdampingan dengan suaminya dan segala yang ia lakukan harus atas ijin suami.


Shalwa juga tahu kalau menolak ajakan suami adalah dosa tapi mau bagaimana lagi Shalwa benar-benar belum nyaman dan terbiasa dengan suaminya apalagi mereka juga baru kenal. jadi Shalwa ingin membiasakan diri dulu. itupun kalau suaminya mengijinkan.


Fahmi tersenyum mendengar penuturan Shalwa.


"iya gak papa abang mengerti. tapi sekarang Shalwa tidur lah di ranjang biar abang yang tidur disni ya." ucap Fahmi lembut.


"tapi.."


"tak ada tapi cepatlah ini sudah larut malam, kalau tidak biarkan abang tidur disini dengan adek." Fahmi memotong ucapan Shalwa.


Shalwa tak bisa menolak karna sudah dituntun menuju ranjang oleh suaminya Shalwa hanya bisa patuh.


lalu Fahmi pun tidur di bawah dan tak lama terdengar dengkuran halus darinya.

__ADS_1


__ADS_2