
Shalwa sudah sampai di depan rumah kakek, dia turun di luar pagar rumah karna Fahmi akan kembali ke kantor pekerjaannya belum selesai.
"dek, abang berangkat lagi ya. mungkin pulangnya habis magrib, kalau adek mau ke masjid dan gak berani sendiri minta di antar tante aja ya. abang pergi dulu Assalamu'alaikum." pamit Fahmi.
"iya bang wa'alaikumussalam" setelah Shalwa mencium tangannya, Fahmi kembali melajukan mobilnya ke kantor.
Shalwa membuka pintu pagar dan masuk ke halaman depan rumah, setiap Shalwa melihat kursi di teras rumah sehabis pulang sekolah dadanya selalu berdenyut sakit serasa ada yang mencubiti. tak terasa air matanya keluar tapi Shalwa buru-buru menghapusnya, menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan lalu buru-buru melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah setelah membuka sepatunya.
"Assalamualaikum" salam Shalwa sebelum membuka pintu setelah itu dia masuk, tak ada yang menjawab ke adaan rumah sangat sepi entah ada di mana tante Arumi, mungkin sedang berada di kamarnya di lantai atas atau sedang keluar.
Shalwa terus melangkahkan kakinya ke arah kamarnya, hingga tiba di dalam kamar Shalwa menyimpan tasnya lalu mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangannya terlebih dahulu, setelah itu Shalwa keluar lagi dari kamar mandi dan mengambil baju ganti dari lemarinya, lalu kembali lagi ke kamar mandi untuk bersih-bersih diri.
*
*
setelah sampai di rumah Alma langsung mencari-cari ayahnya sampai ibunya heran gak biasanya putri bungsunya baru datang sekolah udah mondar mandir ke sana kemari biasanya suka langsung ke kamarnya dan mandi. bahkan sama orang di sana cuma menyaliminya doang.
"kamu cari apa sih dek dari tadi bolak balik kesana kemari?" tanya ibunya karna sudah tak tahan dengan tindakan putri bungsunya yang terus bolak balik tanpa bicara apa-apa pula.
"cari ayah bu, ibu lihat ayah di mana?" jawab Alma sambil berhenti di depan ibunya duduk, dan ikut duduk sambil mengatur nafasnya yang agak ngos-ngosan.
ibu, kakak, dan dua kakak iparnya yang ada di sana menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alma, kecuali dua bocah kecil yang sedang asik bermain tanpa peduli dengan kelakuan Alma.
"kenapa tak bertanya dari tadi, malah bolak balik kesana kemari, jadi capekan. emang mau apa sama ayah dek?" ibu kasihan melihat putrinya yang ngos-ngossan.
__ADS_1
Alma cengengesan sendiri mendengar ucapan ibunya. "Alma kira ayah ada jadi tak perlu bertanya gitu. emang ayah di mana? Alma ada sedikit urusan sama ayah soalnya." ucap Alma.
"urusan apa sama ayah dek?" sahut kakaknya penasaran.
"ayahnya di mana dulu?" kata Alma cepat.
"ayah gak ada disini, lagi ke rumah pak budi." kata ibunya. "emang adek mau apa sama ayah?" tanya ibu, dia juga penasaran.
yang lain juga menatap Alma dengan penasaran. Alma menatap mereka satu persatu dengan bingung "kenapa natap Alma begitu?" tanyanya heran.
semuanya kompak menggelengkan kepala dan saling pandang dengan ibu.
"ayahnya kapan pulang bu?" tanya Alma lagi tak sabar.
"ya udah deh kalo gitu Alma mau mandi dulu." Alma beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya tanpa menyapa dua keponakannya, di ikuti tatapan penasaran semua orang yang ada di sana.
"tumben dia gak nyapa dua kurcil biasanya suka heboh." ucap kak Mira hera.
"mungkin pokusnya lagi ke ayah, jadi gak sempat nyapa mereka." kata ibunya dan dua orang lagi mengangguk membenarkan, tak lama mereka pamit ke kamar masing-masing untuk bersih-bersih karna sebentar lagi waktunya sholat asyar.
*
*
selesai sholat Asyar Shalwa pergi ke kamar kakek karna mengingat ucapan suaminya tadi malam bahwa kakek telah menyiapkan kado untunknya di kamar.
__ADS_1
Shalwa masuk ke kamar kakek, perasaan sesak itu kembali menyapanya. Shalwa menenangkan perasaannya dia selalu membisikan kalimat-kalimat untuk menenangkan dirinya dan menguatkannya, sudah beberapa hari Shalwa tak masuk kamar kakek karna dia suka tak bisa membendung air matanya. Shalwa selalu melihat bayangan-banyangan kakek saat masih ada, selalu berkelatan di pelupuk matanya bila masuk kamar kakek karna rindunya kian besar pada sang kakek tapi tak bisa tersampaikan, hanya lewat untaian do'a dia bisa mengungkapkannya. makanya dia tak memasukinya selama beberapa hari ini, Shalwa ingin menenangkan hatinya dan berusaha menerima apa yang telah menjadi takdirnya dan ingin berdamai dengan segalanya.
Shalwa melangkahkan kakinya menuju lemari kakek dan membukanya, terlihat masih ada beberapa pakaian kakek yang terlipat rapi di dalamnya. Shalwa merabanya satu persatu dan akhirnya air matanya luruh sudah tak kuat ia bendung lagi, Shalwa kembali menutup pintu lemari kakek dan luruh terduduk ke lantai.
Shalwa menangis di sana dengan tersedu "ya Allah kuatkanlah hambamu ini, dan lapangkanlah dadaku untuk menerima segala yang telah engkau gariskan untukku." batin Shalwa menjerit.
setelah tangisnya reda dan menenangkan perasaannya Shalwa kembali membuka lemari dan mencari apa yang ingin dia cari. Shalwa melihat ada dua kotak kado di bagian atas dalam lemari itu, Shalwa mengambil ke duanya dan melihat kado itu sudah di beri nama, satu untuknya dan satu lagi untuk kakaknya Ardi.
Shalwa menyimpan kembali kotak kado yang ada nama kakaknya dan mengambil kotak kado yang ada namanya. Shalwa menutup kembali lemari kakek dan berbalik melangkangkahkan kakinya keluar dari kamar kakek. Shalwa menuju ke kamarnya dan menyimpan kado itu di meja belajarnya, Shalwa berpikir akan membukanya nanti bersama sang suami setelah dia pulang kerja.
Shalwa keluar dari kamarnya dan menuju dapur, Shalwa merasa haus setelah lama menangis. di dapur Shalwa melihat tante Arumi sedang menata sesuatu di kulkas.
"Assalamualaikum, tante sedang apa? tante baru pulang ya?" tanya Shalwa yang melihat banyak belanjaan berjejer di lemari es.
"wa'alaikumsalam, iya sayang tante baru pulang habis belanja. dan tante sedang menata bahan-bahan masakan untuk beberapa hari ke depan, biar kamu gak kerepotan harus belanja dulu kalou mau masak. soalnya besok tante mau ke rumah neneknya kakakmu, nemenin nenek di sana dan nanti langsung ke desanya calon istri ILham." jelas tante Arumi panjang lebar lalu beralih menatap putrinya.
"Shalwa habis nangis sayang? kenapa?" tanya tante Arumi khawatir sambil menghampiri Shalwa dan menangkup pipi Shalwa dengan sayang.
Shalwa menggelengkan kepalanya pelan. "gak papa tante, Shalwa cuma ke ingat kakek aja." kawab Shalwa sambil memberikan senyum manis untuk tantenya agar tak khawatir.
"Shalwa habis dari kamar kakek ya?" tanya tante Arumi lagi. Shalwa menganggukan kepalanya pelan.
"Shalwa habis cari kado yang kakek siapkan untuk Shalwa. kata bang Fahmi, kakek sudah menyiapkan kado dan kakek menaruhnya di lemari." jawab Shalwa pelan.
"sudah ketemu?" tanya tante Arumi lagi. Shalwa menganggukan kepalanya pelan."apa Shalwa sudah membukanya?" tante Arumi bertanya lagi. Shalwa menggelengkan kepalanya dengan mata yang sudah berembun. tante Arumi lantas memeluk Shalwa dengan sedih, "yang sabar ya sayang, tante yakin Shalwa adalah anak yang kuat. kami menyayangimu" ucap tante Arumi sambil mengusap punggung Shalwa yang kembali bergetar karna tangis, tante Arumi terus menenangkan Shalwa.
__ADS_1