
"sayang, tante ke kamar duluan ya soalnya belum menyiapkan keperluan untuk pergi besok, juga mau menyiapkan punya kakakmu kayaknya dia akan pulang agak malaman." setelah selesai makan dan membereskan bekas makan bersama-sama tante Arumi pamit pada Shalwa dan Fahmi.
"iya tante, maaf Shalwa gak bisa bantu soalnya ada tugas dari sekolah belum di kerjakan." Shalwa tak enak pada tantenya karna seharian sibuk mengurus untuk keperluannya di rumah jadi belum sempat menyiapkan keperluan untuk tante dan kakaknya pergi besok.
"gak papa sayang, kerjakan tugasmu dulu jangan sampai besok belum siap, tapi jangan terlalu malam juga harus istirahat yang cukup biar besok semangat lagi belajarnya. ya udah tante ke atas dulu ya, selamat malam sayang." ucap tante Arumi sambil tersenyum dan mengusap pipi Shalwa dengan sayang. Shalwa menganggukan kepalanya mendengar ucapan tantenya, setelah itu tante Arumi pergi dari sana.
Shalwa dan Fahmi pun pergi ke kamar, setelah di kamar Shalwa mengambil tasnya, mengambil buku dan alat tulisnya setelah itu duduk di kursi meja belajarnya lalu fokus mengerjakan tugasnya.
sementara Fahmi, dia pergi ke kamar mandi dan melakukan ritual sebelum tidur, seperti gosok gigi, mencuci muka, kaki, tangan dan setelah berwudhu, Fahmi keluar dari kamar mandi.
Fahmi melihat Shalwa sedang fokus belajar, dia melihat ada kotak kado di meja belajar Shalwa, Fahmi penasaran tapi tak mau mengganggu Shalwa jadi Fahmi langsung menuju tempat tidur setelah mengeringkan wajah, tangan, dan kakinya sambil membawa ponselnya. mereka sibuk dengan urusan masing-masing.
*
*
selesai makan malam kakak-kakak Alma kembali ke kamar masing-masing karna putra mereka sudah terlihat lelah dan mengantuk. mungkin karna seharian mereka bermain jadi sekarang mereka kelelahan. sedangkan ibunya masih di dapur sedang membuat kue dan camilan untuk di bawa putrinya besok sebagai oleh-oleh untuk keluaganya. ya, karna kak Mira besok akan pulang ke rumahnya di daerah sebelah karna ikut suaminya yang seorang ustadz di sana dan keluarganya juga tinggal di daerah itu.
"ayah, Alma boleh tanya sesuatu.?" ucap Alma pada ayahnya yang sedang duduk di kursi ruang keluarga sambil membaca kitab di tangannya.
ayah menutup kitabnya dan menoleh ke arah putri bungsunya sambil tersenyum "boleh, kalau ayah bisa jawab ayah akan menjawabnya, kalau tak bisa ayah minta maaf. Alma mau tanya soal apa?" ayah menghadap ke arah putri bungsunya itu dan menunggu pertanyaannya.
__ADS_1
"em.. sebenarnya bukan apa-apa sih, cuman Alma mau tanya, apa ayah tau kalau Shalwa udah punya suami dan udah nikah?" tanya Alma.
ayah menganggukan kepalanya membenarkan. "iya tau, ayah yang jadi saksinya waktu dia nikah." jawab ayah.
"apa itu benar ayah?, kapan?, kenapa Alma gak ada yang kasih tau?." Alma seakan masih tak percaya bahwa sang sahabat sudah menikah.
ayah mengangguk lagi. "hmmh.. waktu sebelum kakeknya wafat. itu keinginan kakeknya, Shalwa pun belum tau sebelumnya dan di beri tau kalau dia akan menikah beberapa jam sebelum pernikahanya berlangsung. mungkin beliau sudah punya pirasat dan ingin Shalwa ada yang mendampingi saat beliau sudah pergi dan ingin menitipkan Shalwa pada orang yang menurutnya tepat. soal Alma tak ada yang memberi tau, ya karna tak ada yang tau sebelumnya. ayahpun taunya saat sudah berada di rumah sakit, karna di telepon oleh nak Ardi, dia meminta tolong untuk ayah datang ke sana." jelas ayah panjang lebar.
Alma hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan ayahnya. "gitu ya ayah, yaudah maaf ya ayah Alma sudah ganggu ayah. Alma ke kamar dulu soalnya masih ada tugas dari sekolah yang belum selesai." ucap Alma dengan tak bersemangat.
"iya nak" ayah yang melihat putrinya jadi tak bersemangat hanya tersenyum kecil.
"selamat malam ayah"
lalu Alma beranjak dari sana dan menuju ke kamarnya. "Hhhh aku jadi tak bisa bebas bermain denganya lagi kalau dia udah punya suami, jadi berkurang dong waktu untuk mendekati kak Ardi." gumam Alma kecil lalu merebahkan dirinya ke tempat tidur, semangatnya untuk belajar sudah pudar.
*
*
Shalwa sudah selesai dengan belajarnya, dia merapihkan peralatan belajarnya dan menyimpannya di tas. Shalwa bergegas ke kamar mandi untuk gosok gigi dan berwudhu sebelum tidur. setelah itu Shalwa keluar dari kamar mandi setelah mengelap wajah dan tanganya. Shalwa menghampiri Fahmi dan duduk di sisi tempat tidurnya setelah mengambil kotak kado dari meja belajarnya.
__ADS_1
Fahmi yang melihat Shalwa sudah duduk di sisi ranjang segera mematikan ponselnya dan meletakannya di meja belajar Shalwa. "sudah selesai?" tanya Fahmi dan di jawab anggukan kepala oleh Shalwa.
"apa itu kado dari kakek...?" tanya Fahmi lagi. Shalwa kembali mengangguk sebagai jawabannya.
"apa adek sudah tau isinya?"
Shalwa menggelengkan kepalanya. "Shalwa belum membukanya, apa abang mau menemani Shalwa membuka ini?" Shalwa berkata dengan pelan dan tatapannya terpaku pada kado itu.
"tentu" Fahmi tersenyum "sebentar abang ambilin gunting dulu ya biar mudah bukanya." Fahmi beranjak dari duduknya dan mengambil gunting yang ada di tempat alat tulis Shalwa di lemari karna Fahmi pernah melihatnya saat Shalwa mengambil pulpen.
"ini ayo buka" Fahmi menyodorkan gunting itu pada Shalwa.
"terimakasih"
Shalwa mulai menggunting kertas kado yang membungkus kotak itu dan membukanya. ternyata di dalamnya ada beberapa buku novel islami, satu surat, dan sebuah kotak cincin yang di dalamnya ada cincin yang terbuat dari koin kuningan itu adalah cincin kesayangan neneknya karna itu kakek yang membuatnya sendiri dulu sewaktu mereka belum punya apa-apa dan mereka belum menikah.
"ini cincin kesayangan nenek, walau ini tak bernilai di mata orang lain tapi ini sangat berharga untuk nenekku. dulu waktu nenek masih ada, nenek bilang sama Shalwa bahwa cincin ini yang mengikatnya dengan kakek. dulu waktu Shalwa masih kecil karna Shalwa juga menyukai cincin ini nenek pernah minta tolong sama Shalwa untuk menjaga cincin ini kalau nenek sudah tiada karna cincin ini sangat berarti untuk nenek. tapi Shalwa menolaknya karna tak mau nenek pergi dan harus nenek yang menjaganya, tapi nenek tetap ninggalin Shalwa. jadi Shalwa tak menuruti ke inginan nenek dan sekarang kakek memberikan ini pada Shalwa." Shalwa menangis sambil menceritakan tentang cincin itu.
Fahmi tak tega melihat istri kecilnya menangis lalu Fahmi menarik Shalwa ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan sayang.
"kenapa rasanya sangat sulit untuk tak menangis saat mengingat mereka, kenapa sangat sulit untuk mengikhlaskan mereka pergi, kenapa.." Shalwa menangis terisak di pelukan suaminya.
__ADS_1
"mengikhlaskan itu bukan berarti kita tak menangis dek, mengikhlaskan juga butuh proses dan waktu, bukan berarti tanpa air mata. bila adek ingin menangis menangislah karna itu akan membuatmu merasa lebih baik. menangis itu baik untuk mengeluarkan beban yang terasa menghimpit di hati kita dan rasakanlah setelah menangis adek akan merasa lebih lega tapi menangislah sealakadarnya jangan menangis terus berlarut-larut." ucap Fahmi sambil menenangkan Shalwa.