Shalwa Az-zahra

Shalwa Az-zahra
06. kesedihan Ardi


__ADS_3

Ardi semakin tak kuasa menahan isak tangisnya membayangkan kakeknya akan pergi meninggalkannya,, Ardi memeluk kakek dari samping.


" kakek istirahat ya ini sudah malam biar kakek cepat sembuh.." ucap Ardi dengan isak tangis yang pecah di pelukan kakeknya.


"iya nak kakek akan istirahat.." ucap kakek sambil terus mengusap punggung cucu lelakinya yang bergetar karna isak tangisnya.


setelah Ardi agak tenang dan tangisnya reda Ardi bangun dan mengudap air matanya, dan tersenyum pada kakek.


"kakek istirahat ya..! Ardi ke WC dulu sebentar." ucap Ardi sambil beranjak dari duduknya dan pergi ke WC.


kakek melihat punggung rapuh cucu lelakinya yang menghilang di balik pintu kamar mandi dengan sendu, kakek menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan berharap hatinya tenang. lalu memejamkan matanya dan tak lama kakek terlelap dengan mimpinya.


di kamar mandi Ardi membasuh wajah nya dengan air dan beberapa kali menghela nafas berat hatinya belum tenang lalu Ardi mengambil wudhu ia akan sholat di ruangan kakek berharap hatinya tenang.


Ardi keluar dari kamar mandi dan melihat kakek nya sudah terlelap, lalu menggelar sejadah di samping ranjang kakek dan mengerjakan sholat disana, setelah selesai Ardi berdoa meminta agar hatinya tenang dan berlapang dada atas apapun yang akan terjadi, juga memohon untuk kesembuhan kakeknya dan kebahagiaan untuk dua wanita yang di kasihinya.


tak lama pintu terbuka dan menampilkan sosok dua wanita yang dia kasihi beserta suami Shalwa dan mertuanya. mereka masuk dan duduk lesehan di karpet yang di gelar disana dan mengobrol ringan memecah kecanggungan yang ada. Ardi berdiri dan melipat sejadahnya dan memasukan kedalam ransel bawaannya untuk keperluan keluarganya dirumah sakit.

__ADS_1


"aku sudah pesan makanan sebentar lagi datang tunggu saja ya.." ucap Ardi menghampiri mereka dan ikut duduk lesehan. mereka yang mendengar menganggukan kepala dan meng iyakan. Ardi melihat mamanya dan Shalwa bergantian, matanya mengembun lagi, Ardi menunduk dan berpura_pura memijit pangkal hidungnya padahal menghapus air mata yang ingin keluar. itu tak luput dari pandangan Fahmi tapi tidak dengan yang lain. Shalwa yang terus menunduk tante Arumi yang mengelus punggung tangan keponakannya dan sesekali menyahuti pertanyaan ibu dan ayah Fahmi.


"aku keluar dulu ya ma, nunggu orderan di depan." kata Ardi sambil berdiri. "iya jangan lama-lama diluar ini sudah larut malam." jawab tante Arumi. lalu Ardi keluar dan mereka yang disana melanjutkan mengobrol.


"yah, bu, aku juga keluar ya bantu kak Ardi nanti dia kerepotan bawa makanannya." ucap Fahmi.


"yah pergilah jangan lupa minumnya..!" sahut ayah.


"Shalwa em.. aku keluar susul ka Ardi dulu ya.." pamit Fahmi pada Shalwa dengan gugup. ayah yang melihat itu tersenyum geli, pria yang biasanya tegas dan dingin tak mau dekat dengan perempuan lain selain ibunya, kini begitu gugup berbicara pada istri kecilnya.


tapi istri kecilnya tak merespon ucapannya.


"i,,i,,iya kak eh,,, emh maaf.." cicit Shalwa sambil mendongak karna kaget tiba-tiba bahunya di pegang oleh Fahmi dan di tepuk pelan tangan nya oleh tente Arumi.


"jangan melamun sayang." ucap tante arumi.


"kenapa tante.. ?" tanya Shalwa pelan.

__ADS_1


"em aku pamit keluar susul ka Ardi, takutnya nanti ka Ardi kerepotan bawa makanannya." bukan tante Arumi yang jawab tapi Fahmi sambil berdiri.


"iya." jawab Shalwa singkat. Shalwa menoleh mencari kakaknya ternyata memang sudah tak ada disana.


Fahmipun keluar menyusul Ardi.


diluar Fahmi melihat Ardi sedang duduk melamun di dekat parkiran motor, fahmi mendekatinya dan duduk di dekatnya, Ardi yang menyadari ada yang duduk di dekatnya menggeser duduknya.


"apakah kakak sedih karna Shalwa sudah menikah..?" tanyanya.


"enggak,, justru aku senang dia dinikahi oleh lelaki yang mencintainya walaupun dia tak tahu aku yakin kamu bisa membahagiakannya, dan dia akan bahagia." jawab Ardi.


"lalu kenapa kamu begitu tak bahagia..?" tanya Fahmi lagi.


Ardi menghela nafas berat dan mengusap wajah nya "aku gak tau,,, aku khawatir dengan keadaan kakek." Ardi menutup wajahnya dengan kedua tangan.


fahmi menepuk pundak Ardi pelan "tenanglah kak, kakek pasti akan baik-baik saja, berdoalah." ucap Fahmi menghibur.

__ADS_1


bukannya terhibur tapi Ardi malah menunduk semakin dalam. "bagaimana kalau kakek pergi, aku gak sanggup bayangin mamah dan Shalwa, nanti mereka pasti akan sangat sedih..."ungkap Ardi dengan menahan isak tangisnya.


"menangislah kak jika kakak ingin menangis keluarkan semuanya agar perasaanmu lebih tenang,,, dan bila itu terjadi berdoalah agar mereka di kuatkan dan ikhlas menerimanya, dan kakak harus lebih kuat, lebih tegar agar mereka memiliki pundak untuk bersandar.


__ADS_2