Shalwa Az-zahra

Shalwa Az-zahra
17._


__ADS_3

kakek menatap Shalwa dengan sendu.


"ada apa kek..?" tanya Shalwa lembut. "apa yang ingin kakek bicarakan..?" tanya Shalwa lagi karna kakek belum juga bicara, kakek memejamkan matanya erat sambil menghela nafasnya berat.


"nak kakek minta maaf.. mau kan Shalwa maafin kakek..?" ucap kakek kemudian.


"kenapa kakek minta maaf, Shalwa pasti akan selalu memaafkan kakek, mana mungkin Shalwa tak memaafkan orang yang begitu berjasa besar di hidup Shalwa. seharus nya Shalwa yang minta maaf karna Shalwa sudah sering merepotkan kakek." ucap Shalwa menunduk.


"maafkan Shalwa kek, karna Shalwa belum bisa melakukan sesuatu yang bisa membanggakan kakek." lanjut Shalwa lagi.


kakek tersenyum mendengar penuturan cucunya itu. kakek begitu menyayanginya Shalwa selalu patuh terhadapnya, makanya kakek berani memutuskan suatu hal besar dalam hidup Shalwa walau mungkin Shalwa akan kecewa dengan keputusannya. tapi kakek akan menerima itu, apapun sikap Shalwa nantinya.


"jadi, apakah Shalwa mau menuruti satu permintaan kakek..?" tanya kakek pada Shalwa sambil menatap matanya dan mengelus punggung tangan Shalwa dengan sayang.


"insyaAllah kalau Shalwa mampu pasti akan Shalwa penuhi." jawab Shalwa mantap.


kakek terdiam lagi kakek masih ragu untuk mengungkakan ke inginanya pada Shalwa.


Shalwa yang melihat kakek terdiam menunggu dengan sabar Shalwa tersenyum meyakinkan sang kakek.


kakek menarik nafas berat dan menghembuskanya perlahan. kakek menatap Shalwa lekat. "kakek ingin Shalwa menikah dengan Fahmi, pria yang duduk dekat kakakmu tadi.!" ungkap kakek berat.


Deg

__ADS_1


Shalwa membeku senyum manis yang tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar dan genggaman pada tangan kakekpun terlepas. "MENIKAH." ulangnya memastikan ucapan kakeknya takutnya ia salah dengar.


kakek menganggukan kepalanya pelan "iya nak.." ucap kakek membenarkan, kakek tak berani menatap Shalwa kakek takut melihat perubahan Shalwa, walau kakek sudah bersiap menerima apapun perubahan Shalwa sebelum mengatakan ke inginannya. tapi kakek masih belum sanggup melihatnya.


Shalwa menarik nafas dalam dan menghembuskanya perlahan menguatkan diri Shalwa berpikir kakek tak mengatakan kapan nikah nya mungkin nanti setelah Shalwa siap dan sekarang mereka hanya akan mengikatnya terlebih dahulu mungkin dengan bertunangan pikirnya.


"iya kek Shalwa pasti akan menikah nanti mana mungkin Shalwa tak menikahkan." ucap Shalwa setelah sekian lama terdiam. "apakah sekarang Shalwa akan bertunangan dulu kek..?" tanya Shalwa lagi dengan memaksakan senyum.


kakek menatap cucunya sendu "maafkan kakek tapi Shalwa akan menikah nanti malam mereka sudah menyiapkan semuanya." kata kakek lirih.


senyum yang tadi mulai terbit kini menghilang dalam sekejap dan air matanya merembes membasahi pipinya.


"tapi kan Shalwa masih sekolah kek,, kenapa harus menikah sekarang,, kenapa tak nanti saja setelah Shalwa lulus sekolah,, kenapa dia ingin menikahi Shalwa sekarang,,, Shalwa belum siap menikah kek..." ungkap Shalwa dengan berderai air mata.


"maafkan kakek nak tapi kakek yang minta kalian untuk menikah sekarang, anggaplah ini permintaan terakhir kakek." ucap kakek pelan. air mata kakek juga perlahan menetes tapi kakek buru-buru menghapusnya kakek tak ingin menangis di hadapan sang cucu.


tangis Shalwa semakin pecah "a..apakah kakek tak sudah tak sayang lagi pada Shalwa,,, makanya kakek ingin Shalwa segera menikah..?" tanyanya sambil melepas paksa pelukan kakek.


kakek tak marah ia justru tersenyum dan menangkup pipi Shalwa lalu menghapus air mata yang membasahi pipinya cucunya itu walau itu percuma karna Shalwa terus menangis sesegukan dan air matanya tak mau berhenti.


"kakek sangat menyayangi Shalwa sangat,, makanya kakek ingin Shalwa menikah dengan nya. kakek sangat ingin menjadi wali nikahnya Shalwa, kakek sudah tua dan penyakit kakek semakin lama semakin tambah parah, kakek tak tau sampai kapan kakek akan menemani Shalwa, kakek tak tau kapan akan pergi. jadi selagi kakek masih ada maukan Shalwa menikah." tutur sang kakek panjang lebar dengan sesekali berhenti menahan sesak di dadanya.


kakek menatap Shalwa penuh harap.

__ADS_1


flasback of.


Shalwa mengingat wajah penuh harap kakeknya waktu itu dan matanya mengembun dan Shalwa menangis mendekap foto kakek dan neneknya.


Shalwa berbaring di ranjang kakek dan menangis di sana, setelah lelah menangis matanya terpejam dan Shalwa tertidur dengan mendekap foto kakek neneknya erat dan isakan-isakan lirih yang sesekali terdengar di ruangan yang sunyi itu dan gumaman Shalwa yang memanggil kakek.


sebenarnya bukan hanya Shalwa yang ada di kamar kakek, ada Ardi di dana yang juga ingin mengobati sedikit rasa rindunya pada kakek, saat Shalwa masuk Ardi sedang di kamar mandi kakek dan saat akan keluar ia melihat Shalwa sedang duduk di ranjang kakek dan menatap lekat foto kakek neneknya.


Ardi tak ingin mengganggu adiknya itu pasti Shalwa butuh waktu sendiri untuk menerima segalanya, seperti dirinya yang butuh waktu sendiri juga. jadi Ardi memutuskan untuk diam di kamar mandi setidaknya sampai Shalwa keluar lagi. tapi setelah sekian lama Shalwa malah tertidur disana.


Ardi melangkah menghapiri Shalwa perlahan, Ardi menatap adik nya sendu. "kakak yakin kamu kuat, kamu bisa menerima semuanya, kamu adalah gadis kecil kakak yang hebat, kami menyayangimu.." ucap Ardi pelan lalu menyelimuti Shalwa lalu keluar dari kamar kakek.


Ardi kembali ke kamarnya melihat jam ternyata sudah jam 03:30 pagi, Ardi bergegas tidur karna besok pasti akan sibuk lagi, walau ia memutuskan tak akan masuk kantor dulu dan melimpahkan tugasnya pada asisten sekaligus sepupunya itu tapi pasti seminggu ke depan mereka akan masih sibuk tahlilan sang kakek.


di kamar tante Arumi dia hanya tertidur sebentar lalu terbangun dan tak bisa tidur lagi. tante Arumi melihat wajah ibu mertuanya yang damai dalam tidur pulasnya tante arumi mengambil tangan ibu mertuanya dan mengecupnya pelan, matanya berkaca-kaca " semoga Allah memanjangkan umur ibu dalam keberkahan. ibu jangan cepat pergi seperti mereka ya Arumi masih butuh ibu. Arumi hanya punya ibu dan anak-anak sekarang." bisiknya lirih dengan air mata yang sudah keluar.


tante Arumi bangun dan menghapus air matanya.


tante Arumi memutuskan untuk mengaji, tante Arumi ingin meluapkan rasa sedih dan kehilanganya dengan bercerita pada tuhannya saja. lalu tante Arumi pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dulu setelah itu tante Arumi menggelar sejadah dan memakai mukenanya di samping ranjang.


tante Arumi melaksanakan Sholat sunah tahajud dua raka'at terlebih dahulu, setelah selesai berdoa dan berbicara banyak hal dalam do'nya baru setelah itu tante Arumi menenggelamkan diri dalam bacaan ayat-ayat suci Al-qur'an.


tante Arumi mengaji dengan suara pelan karna takut suaranya akan menggaggu tidur ibu mertuanya.

__ADS_1


mohon dukungan nya dari kakak semua...😊😊😊


__ADS_2