Shalwa Az-zahra

Shalwa Az-zahra
25.


__ADS_3

"mah lusa Ardi mau ke desa neneknya ILham, mamah mau ikut?" ucap Ardi. saat ini mereka sedang bersantai di ruang tengah sehabis makan malam.


"kenapa lusa? emang kamu gak banyak kerjaan?" tanya tante Arumi.


"kayanya selama seminggu ke depan engak banyak deh mah, ya sekalian jalan-jalan aja di sana, siapa tau nanti dapat yang sreg di sana." Ardi melihat mamahnya juga Shalwa yang sedang sibuk ngemil sambil nonton tv. mereka tak bereaksi apapun.


"kalau udah dapet cepat bawa ke sini!" kata tante Arumi dan Shalwa juga menyahut berbarengan tanpa melirik Ardi.


"oke." Ardi mendesahkan nafasnya pelan dia lemas melihat respon mamah dan adiknya yang tanpa ekspresi.


"apa mamah mau ikut bareng Ardi dan ILham?" tanya Ardi setelahnya.


"enggak, mamah nanti bareng nenek kamu ke sananya, sehari sebelum ILham melaksanakan pernikahan karna katanya nenek gak mau lama-lama di sana." jawab tante Arumi yang masih anteng melihat tv.


ILham adalah sepupu Ardi, anak dari kakak ayahnya Ardi.


"kenapa nenek gak mau lama di sana, padahalkan di sana pemandangannya enak adem masih asri." kata Ardi heran. tante Arumi hanya menggendikan bahu saja tanda tak tahu.


Shalwa yang mendengar nenek gak mau lama di desanya nenek ILham hanya mengulum senyum tipis karna dia tahu apa penyebabnya "nenek masih belum bisa memaafkan mereka ya, sehingga di desanya saja nenek tak ingin lama-lama padahal cucunya akan melangsungkan pernikahan di sana" batin Shalwa.


"Shalwa gak di ajak kak?" sahut Shalwa kemudian.


"ngapain ngajak kamu?" sewot Ardi dia masih kesal karna mamah tak bereaksi apapun saat dia bilang akan cari mantu untuknya.


"kan Shalwa juga ingin tahu desa neneknya ka ILham yang katanya masih asri itu, setiap kali kakak ke sana, Shalwa gak pernah di ajak padahal kakak sama kak ILham ke sana bukan sekali dua kali. Shalwa cuma dapet ceritanya doang." jawab Shalwa panjang lebar sambil cemberut.


"kamukan sekolah dek, apalagi sekarang kamu sudah punya suami. masa kamu tega mau meninggalkannya di sini sendirian." kata Ardi melembut karna melihat Shalwa cemberut.


"ya izin dulu sekolahnya, juga di ajak ajak abangnya, gampangkan" jawab Shalwa enteng.


Ardi, Fahmi, dan tante Arumi yang mendengar Shalwa hanya menggelengkan kepala sambil mengulum senyum.


"dek, adek kan sekolahnya baru masuk dua hari sehabis izin seminggu masa udah mau izin lagi. emang Shalwa tak mau lulus sekolah, izin mulu nanti pelajarannya ketinggalan loh jadi pas nanti ujian Shalwa gak bisa karna pelajarannya banyak yang ketinggalan. dan suamimu baru bergabung dengan perusahaan masa baru sehari kerja udah mengambil cuti, walaupun ia pemimpinnya tapi kerjaannya juga banyak masa harus di alihkan lagi sama pak bagas. apa kata karyawannya nanti pasti mikirnya pemimpin gak bertanggung jawab. Shalwa mau kaya gitu?" ucap Ardi dengan lemah lembut memberi pengertian pada adiknya yang kadang ke kanak-kanakan itu kalo manjanya lagi keluar. tapi itu hanya di tunjukan pada keluarganya saja, kalo sama orang lain Shalwa selalu bersikap dewasa dan tak pernah menunjukan sikap manjanya. pada Fahmipun ia belum pernah tunjukan.

__ADS_1


"iya iya Shalwa gak ikut di rumah aja sekolah yang bener." kata Shalwa lirih, lalu ia merebahkan kepalanya di paha tante Arumi yang duduk di sebelahnya. Shalwa membenamkan wajahnya di perut tante Arumi dan memeluknya erat.


" tante nanti kalau Shalwa sudah lulus sekolah, Shalwa boleh kemana-mana kan?" tanya Shalwa pelan.


tante Arumi mengusap kepala Shalwa dengan sayang "boleh, kalau suami Shalwa mengijinkan."


Shalwa yang baru sadar di situ ada suaminya langsung bangun dan melirik ke arah Fahmi yang langsung menyunggingkan senyum manisnya saat Shalwa meliriknya.


"maaf." cicit Shalwa pelan sambil menundukan kepalanya. yang lain hanya menggelengkan kepala saja melihat tingkah Shalwa.


"ini sudah malam cepatlah istirahat.!" kata tante Arumi pada semuanya.


"iya tante, Shalwa ke kamar dulu ya." pamit Shalwa di ikuti Fahmi. lalu mereka pergi ke kamar Shalwa beriringan.


"mamah kenapa gak ikut aja bareng Ardi?" ucap Ardi setelah Shalwa dan Fahmi menghilang di balik pintu kamarnya.


"kasian nenek nanti ke sana sendirian, yang lain pada kesana bareng kalian kan." jawab tante Arumi.


"nantikan mamah mau nemenin nenek dulu di rumahnya jadi sama sajakan." kata tante Arumi sambil berdiri. "ayo kita juga harus istirahat ini sudah malam, besok kamu harus kerjakan." katanya lagi. lalu melangkahkan kakinya menuju tangga.


Ardi senang mendengar mamahnya akan nemenin nenek di rumahnya. Ardi menyusul mamahnya yang sudah naik tangga.


"makasih mah" ucap Ardi sambil memeluk mamahnya dari samping setelah mereka sampai di atas.


tante Arumi mengangguk sambil mengusap tangan Ardi.


"lalu bagaimana dengan menantu mamah?" tanya tante Arumi menatap wajah putranya yang tiba-tiba berubah masam saat mamahnya tanya.


"nanti deh kalo udah ada yang cocok dan juga sayang sama mamah dan adikku." jawab Ardi sambil melepas pelukan mamahnya. "maaf ya mah Ardi sudah bikin mamah Khawatir dan sedih karna Ardi belum dapat jodoh."


"enggak sayang, jodoh itu rahasia tuhan jadi kapanpun itu. itu sudah takdirmu mamah gak akan maksa kamu untuk segera menikah jadi jangan terburu-buru nikmatilah waktumu sambil cari yang cocok dengan kriteria wanita impianmu." kata tante Arumi sambil tersenyum ke arah putranya.


"ya udah mamah mau tidur dulu ya, kamu juga jangan begadang!" kata tante Arumi lagi lalu masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Ardi pun melangkahkan kakinya ke arah kamarnya yang ada di pojok sambil tersenyum bahagia. "mamah tenang aja Ardi pasti akan segera bawa mantu untuk mamah tunggu saja." batin Ardi. walaupun mamahnya bilang begitu tapi Ardi tau mamahnya sudah lama ingin ia segera memiliki pasangan.


Ardi masuk ke kamarnya dan membuka laci yang ada di lemarinya ia mengambil sebuah foto kecil dari sana lalu duduk di ranjangnya sambil menatap foto itu dengan lekat. "semoga kamu masih ingat aku dan masih sendiri aku akan mengunjungimu lusa tunggu aku, aku akan mengenalkanmu pada mamahku." monolog Ardi sambil senyum-senyum sendiri lalu menyimpan foto itu kembali dan bersiap untuk tidur.


***


di kamar Shalwa, mereka sudah berbaring di tempat tidur saling memandang satu sama lain.


"em.. abang.." Shalwa diam lagi tak meneruskan kata-katanya.


Fahmi dengan sabar menunggu apa yang ingin di katakan istri kecilnya itu tapi sekian lama Shalwa masih saja diam.


"ada apa dek, katakan saja jangan ragu..!" ucap Fahmi akhirnya karna Shalwa masih belum meneruskan kata-katanya.


"em.. itu kemaren abang bilang kakek punya hadiah untuk Shalwa, di mana itu?" kata Shalwa pelan sebenarnya ia masih menahan sesak bila menyangkut tentang kakeknya tapi dia juga penasaran apa hadiah dari kakek.


"apa adek siap melihat sesuatu dari kakek itu?" tanya Fahmi.


Shalwa menganggukan kepalanya pelan. "itu ada di kamar kakek, abang juga belum lihat, kata kakek itu ada di lemarinya." kata Fahmi "besok saja kita lihatnya ya, sekarang adek harus tidur besok kan sekolah nanti kesiangan bangunnya." kata Fahmi lagi. Shalwa hanya menganggukan kepalanya saja.


"bolehkan kalau abang tidurnya peluk adek lagi.?" tanya Fahmi pelan.


Shalwa tersentak lalu mendongak melihat wajah suaminya yang terlihat memohon.


"boleh." ucap Shalwa hampir tak terdengar tapi Fahmi melihat ucapannya jadi dengan bahagia Fahmi mendekatkan tidurnya lalu memeluk Shalwa dengan sayang. Shalwa membeku saat Fahmi menyentuhnya tapi setelahnya Shalwa merasakan dekapan suaminya yang hangat, dan merasa nyaman.


Shalwa tersenyum manis dalam dekapannya lalu memberanikan diri balas memeluk suaminya dengan jantung yang berdebar kencang. Fahmi juga tersenyum bahagia merasakan Shalwa memeluknya, jantungnya juga berdebar sangat kencang sampai Shalwapun merasakan dan mendengar detakannya.


"terimakasih" bisik Fahmi pelan sambil mengecup kepala Shalwa "selamat tidur sayang" bisiknya lagi.


Shalwa tak bisa mengatakan apa-apa dia terdiam membeku merasakan Fahmi mencium kepalanya. hanya mengeratkan pegangannya pada baju belakang Fahmi.


mereka saling diam dan lama kelamaan mereka tertidur dengan perasaan manis di hati masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2