
hari ini adalah hari ke dua Ardi berada di desa calon istri kakak sepupunya. Ardi berniat hari ini ia akan mengunjungi sang pujaan hati, perempuan yang selama ini namanya selalu tersemat di dalam hatinya.
pagi itu selesai sarapan bersama keluarga besar neneknya ILham, dengan hati riang dan tersenyum-senyum Ardi tengah bersiap diri untuk pergi ke rumah perempuan yang sudah di klaim sebagai calon istrinya kelak.
dengan semangat Ardi berjalan ke arah rumah pujaan hatinya itu, walau sudah lama tak ke desa ini dan sudah agak banyak bangunan yang berubah tapi Ardi masih ingat dengan jelas jalan ke rumah pujaan hatinya. itu.
saat melihat rumah yang di tujunya masih sama dan tak ada perubahan apapun rumah panggung yang agak besar dan rapi, di halamannya banyak di tumbuhi bunga-bunga yang indah persis seperti terakhir kali ia mengunjungi rumah ini.
dengan gugup dan jantung yang berdetak kencang Ardi memberanikan diri melangkah ke arah rumah yang masih terlihat sepi dari luar itu. begitulah setiap kali Ardi mengunjungi wanita pujaan hatinya perasaan senang bercampur gugup dan berdebar selalu melandanya, tapi sampai saat ini Ardi belum pernah mengungkapkan perasaannya pada sang pujaan hati hanya memendamnya di lubuk hatinya yang paling dalam, karna Ardi belum berani mengungkapkannya dan kali ini Ardi memantapkan hatinya untuk mengutarakan perasaannya pada sang pujaan hati.
setelah sampai di depan rumah Ardi mengangkat tangannya perlahan dan mengetukannya pada daun pintu rumah itu.
tok tok tok
"Assalamu'alaikum"
"Assalamu'alaikum" salam Ardi lagi karna masih belum ada sahutan dari dalam rumah.
tok tok tok
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam" baru terdengar sahutan dari dalam setelah tiga kali salam.
pintu terbuka dari dalam dan memperlihatkan wanita paruh baya yang mungkin seusia dengan mamanya Ardi. wanita paruh baya itu adalah ibu dari wanita pujaan hatinya tapi mungkin si ibu tak mengenalinya, bu Rohimah namanya.
wanita itu agak bingung tapi akhirnya tersenyum ramah pada Ardi "maaf cari siapa ya nak.?" kata wanita itu dengan ramah.
Ardi ingin menyalami wanita itu tapi berakgir dengan menangkupkan tangannya di dada karna wanita itu juga menangkupkan tangannya di dada.
"saya Ardi bu yang dulu sering main ke sini sama Ilham dan yogi." kata Ardi memperkenalkan diri karna mungkin si ibu lupa padanya.
si ibu terlihat berpikir dan tak lama si ibupun terlihat mengingat sesuatu "oh nak Ardi yang dulu sering ke sini sama si yogi cucunya mak lela toh? yang kalo kesini suka minta jambu dan mengajak ratih ngerujak yo?." kata bu Rohimah sambil ter senyum lebar.
Ardi tersenyum canggung sambil menganggukan kepalanya "iya bu" kata Ardi sambi tersenyum kecil.
__ADS_1
"owalah udah lama sekali loh kamu ndak kesini, sekarang udah keren banget ya, apa kabarmu nak?" kata bu Rohimah.
"iya udah lama saya gak ke sini ternyata udah banyak yang berubah ya bu, Alhamdulillah saya baik bu, ibu sama keluarga juga apa kabar?" kata Ardi.
"iya sekarang udah banyak bangunan rumah udah hampir mau jadi kota desa ini" kata bu Rohimah sambil tertawa kecil.
"Alhamdulillah ibu sama keluarga baik." lanjut bu Rohimah lagi.
"siapa bu..?" kata seorang pria paruh baya dari dalam rumah, suaminya bu Rohimah itu menghampiri ke arah pintu.
"ini nak Ardi yang dulu sering kesini saudaranya yogi cucu mak lela pa." kata bu Rohimah.
Ardi menyalami tangan suami bu Rohimah itu pak Rendy namanya.
"ibu ini ada tamu yo masak di ajak ngobrol di luar, ajak masuk ke dalam dong bu ajak ngobrol di dalam kan bapak ada toh bu." kata pak Rendy pada bu Rohimah yang hanya tersenyum ke arah suaminya sambil mengangguk. "mari nak masuk ke dalam kita ngobrolnya di dalam sambil ngeteh.!" ajak pak Rendy pada Ardi sambil masuk ke dalam rumah di ikuti istrinya dan Ardi juga mengikuti dari belakang.
pak Rendy mengajak Ardi duduk di kursi, sementara bu Rohimah pergi ke dapur untuk mengambil minum dan makanan ringan untuk di suguhkan kepada tamunya.
tak lama bu Rohimah kembali dan ikut bergabung mengobrol.
"o ya nak Ardi ke mana saja lama ndak ke sini toh, cuma nak Ilham saja yang sering ke sini." sahut bu Rohimah menimpali.
"oh begitu, sekarang nak Ardi ke sini nganter nak Ilham ya?" kata bu Rohimah.
"iya bu, lusa dia akan menikah dengan kak nina, orang sini katanya dekat rumah ibu ya?" kata Ardi.
"iya deket cuma terhalang lima rumah dari sini, itu rumahnya udah di dekorasi." kata bu Rohimah.
"ini ibu sebenarnya juga mau ke sana mau bantu-bantu. ya sudah ibu tinggal dulu ya, nak Ardi ngobrol dengan bapak saja ya." kata bu Rohimah pamit setelah itu bu Rohimah pergi dari sana.
"hidup di desa sangat tenang dan terasa nyaman, saling tolong menolong bila ada kesibukan saling bantu." kata Ardi setelah bu Rohimah tak terlihat lagi.
"ya begitulah hidup di desa nak." kata pak Rendy. dan mereka mengobrol ringan seputar ke adaan desa yang semakin maju.
"iya Alhamdulillah setelah jalanan di perbaiki akses untuk ke kota jadi lancar jadi pertanian kami di desa sangat lancar." pak Rendy menjawab ke kaguman Ardi akan kemajuan di desa.
__ADS_1
setelah sekian lama di sana dan mengobrol panjang lebar Ardi tak melihat gadis pujaan hatinya muncul, jadi Ardi memberanikan diri bertanya pada pak Rendy.
"em.. pak, apa Ratihnya ada.?" tanya Ardi pelan.
"oh nak Ardi ingin ketemu Ratih ya." kata pak Rendy.
"iya saya tak melihat ratih dari tadi. sudah lama tak bertemu dengannya, dulu biasanya kami sering ngerujak sama-sama di rumah mak lela." kata Ardy.
pak Rendy tersenyum "iya bapak juga ingat dulu kalian suka minta jambu air ke sini bila musimnya dan pergi ngerujak di rumah mak lela." kata pak Rendy sambil mengingat masa-masa kecil dan remaja putrinya yang suka manjatin pohon jambu dan mengambilkan buahnya untuk Ardi bila Ardi sedang berkunjung.
"nak Ardi sudah lama sekali tak berkunjung kemari, Ratih sekarang sudah tak tinggal dengan kami." kata pak Rendy lagi.
Deg
"maksud bapak Ratih tak tinggal di sini bagai mana? bukannya Ratih putri kalian." Ardi bertanya dengan rasa was-was, Ardi takut dugaannya menjadi kenyataan.
pak Rendy tersenyum "Ratih memang putri kami, tapi sekarang dia sudah memiliki keluarga baru jadi dia tinggal bersama keluarga barunya." kata pak Rendy sambil senyuman tak lepas dari wajahnya.
"maksud bapak keluarga baru?" Ardi masih takut menebak.
"Ratih sudah berkeluarga" kata pak Rendy.
Dhuuuarr...
"Ratih sudah menikah" pernyataan Ardi pelan sambil menundukan kepalanya.
"ya tepatnya Ratih menikah 4 tahun yang lalu dan sudah memiliki se orang putra dan sekarang dia sedang mengandung putri keduanya." jelas pak Rendy.
jantung Ardi serasa ingin berhenti berdetak. jelas saja Ardi jadi tak karuan perasaannya, perasaan yang tadi semangat dan bahagia, bunga-bunga yang terasa bermekaran di hatinya kini pupus sudah hilang tak bersisa.
Ardi memaksakan tersenyum semanis mungkin dan mengangkat kepalanya Ardi tak ingin pak Rendy tau kalau dia sedang kecewa.
"bila dia datang ke sini tolong sampaikan salam saya untuknya dan ucapan selamat dari saya ya pak. saya turut bahagia untuk kebahagiaannya." kata Ardi sambil tersenyum.
"mungkin besok Ratih akan kemari katanya dia ingin menyaksikan pernikahan sahabatnya Nina. " kata pak Rendy.
__ADS_1
Ardi menganggukan kepalanya dan setelah itu Ardi pamit ia beralasan ingin bantu-bantu untuk persiapan pernikahan Ilham karna memang di rumah nenek lela juga sedang sibuk, pak Rendypun mengiyakan.
Ardi pergi dari rumah pak Rendy dengan lesu juga wajah yang murung. rasanya hatinya kecewa, sakit, mengetahui gadis yang selama ini tersemat di hati dan bertahta indah di hati terdalamnya kini sudah bahagia bersama orang lain. Ardi terus merutuki kebodohannya kenapa tak mengungkapkan perasaannya dari dulu mungkin kalau begitu sekarang Ratih belum berkeluarga dan akan menunggunya. tapi itu hanya andai-andainya saja karna jodoh itu ada di tangan sang pencipta yang sudah di gariskan oleh sang penulis skenario.