
Fahmi keluar dari kamar mandi sudah lengkap memakai sarung, baju koko serta pecinya.
Shalwa yang melihat suaminya keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan pakaiannya dan terlihat segar.
Shalwa selalu terpesona melihatnya tapi Shalwa pandai selalu pandai menyembunyikannya.
"abang ke mesjid dulu ya dek. Assalamualaikum. " pamit Fahmi pada Shalwa.
"iya bang. wa'alaikumsalam." jawab Shalwa sambil menyalami tangan Fahmi di lapisi mukenanya.
Fahmipun keluar dari kamar Shalwa dan pergi ke masjid.
selesai sholat asyar Shalwa keluar bersama tante Arumi mereka akan menetik sayuran di belakang untuk di masak nanti malam.
" tante bukankah dulu tante nikah karna di jodohkan ya.?" tanya Shalwa pada tante Arumi. setelah mereka selesai memetik sayuran seperlunya
"iya sayang kenapa.?" kata tante Arumi sambil duduk di bangku di dekat taman bunga Shalwa.
"ceritain ke Shalwa biar Shalwa bisa belajar bagaimana cara menerima orang asing di hidup kita, soalnya Shalwa masih suka canggung kalau dekat Dengan bang Fahmi." ucap Shalwa pelan.
tante tersenyum kecil lalu menggenggam tangan Shalwa "sayang menerima orang asing di hidup kita itu adalah dengan terbiasa hidup bersama. dan cobalah buka hatimu untuk menerima keberadaannya di sisimu. tante dulu walau di jodohkan tapi sudah saling kenal dari kecil dan sudah saling suka.." tante Arumi tersenyum kecil mengingat masa lalunya.
"emh.. iya tante Shalwa akan mencobanya." ucap Shalwa pelan.
"ya udah tante ke dalam dulu ya." kata tante Arumi lalu beranjak dari duduknya dan pergi dari sana.
Shalwa mendesahkan nafasnya pelan. "ya Allah kuatkanlah aku dan berilah aku keberanian untuk memulai semuanya." batin Shalwa.
Shalwa memandangi bunga-bunga yang ia tanam bersama kakaknya. Shalwa selalu mencari ketenangan di sana dengan melihat indahnya berbagai bunga yang ia tanam rasanya begitu menenangkan.
__ADS_1
sementara Fahmi sedang memandangi Shalwa yang duduk di bangku tamannya dari jendela kamar Shalwa. Fahmi merasa damai bila memandangi Shalwa juga suka terlintas pikiran aneh-aneh dalam beberapa hari ini.
Shalwa berdiri lalu pergi dari sana dan masuk ke rumah. Fahmi yang melihat Shalwa akan masuk rumah buru-buru duduk di ranjang Shalwa lalu mengambil ponselnya yang ia letakan di meja belajar Shalwa dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya saat Shalwa masuk kamar.
Shalwa yang melihat Fahmi sedang sibuk dengan ponselnya memilih duduk di kursi belajarnya. Shalwa mengambil ponselnya yang masih ada di tas sekolahnya, lalu memainkan ponselnya. tak ada percakapan di antara mereka, hanya sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Fahmi sesekali melirik ke arah Shalwa dengan ekor matanya. sebenarnya mulutnya gatal ingin mengobrol dengan Shalwa tapi tak tau harus mulai darimana.
****
Ardi baru pulang setelah hampir magrib lalu langsung pergi ke kamarnya karna tak ada siapapun yang Ardi temui di rumah mungkin mereka sudah pada di kamarnya masing-masing menunggu adzan magrib.
biasanya Shalwa dan kakek sudah pergi ke masjid untuk sholat berjamaah setelah itu Shalwa akan belajar mengaji pada ustad di sana di temani kakek sampai mereka pulang bersama kalau Ardi dia kadang-kadang ke masjidnya, karna kesibukannya di kantor.
dan sekarang Shalwa pergi ke masjid bersama suaminya. tadi Shalwa sudah meminta ijin pada Fahmi dan Fahmi mengijinkannya juga ia ingin ikut belajar bersama Shalwa.
di rumah setelah selesai sholat magrib tante Arumi keluar dari kamarnya hendak turun ke lantai bawah untuk memasak makan malam keluarganya. sebelum turun tante arumi menghampiri kamar putranya memeriksa apakah putranya sudah pulang atau belum.
"tok,,, tok,,, tok,,,
"kak, kakak sudah sholat.?" tanya tante Arumi dari luar kamar.
ceklek,, Ardi membuka pintu kamar nya "udah mah." jawab Ardi sambil menyalami tangan mamahnya.
"udah mandi...?" tanya tante Arumi lagi.
"hehe,, belum sempat mah udah ke buru magrib." jawab Ardi cengengesan.
"kalo gitu tolong temenin mama masak di dapur ya.!." kata tante Arumi.
__ADS_1
Ardi mengganguk dan mengikuti langkah mamahnya menuruni tangga dan pergi ke dapur.
"Shalwa kemana mah kok kamarnya sepi..?" sahut Ardi setelah sampai di dapur dan duduk di kursi. sementara tante Arumi mulai sibuk dengan bahan masakan yang sudah di siapkannya tadi sore.
"Shalwa pergi ke mesjid sama Fahmi." jawab tante Arumi "memang kalau Shalwa ada kamarnya suka gaduh..?" tante Arumi balik bertanya pada putranya itu dengan heran kaya gak tau aja pikirnya.
Ardi cengengesan "iya ya lupa, kamar Shalwa tak ada bedanya mau ada orangnya apa enggak tetap sepi kalo dari luar sudah seperti kamar kosong aja, padahal sekarang sudah nambah penghuninya tapi tetap sama aja. jadi heran deh sama tu anak dua kalo di kamar mereka hanya diam-diam aja mungkin, padahal mereka udah dewasa loh mah masa gak ada rasa ini sudah seminggu juga masa masih belum ada perubahan bagaimana sih si Fahmi ini masa adik aku di diamin aja. apa perlu di ajarin dulu ya mah." cerocos Ardi panjang kali lebar dengan kesal.
tante Arumi hanya menggelengkan kepala saja mendengar cerocosan putranya.
"menurut mama bukan Fahmi mendiamkan adikmu, tapi Fahmi menghargai adikmu. Fahmi tidak mau Shalwa tak nyaman dengannya apa lagi mereka baru saling kenal, waktu seminggu bukan waktu yang lama apalagi mereka juga sibuk mengadakan tahlilan kakek. pasti mereka masih canggung dan malu. apalagi Shalwa baru kehilangan kakek itu pasti tak mudah untuknya, bukankah kakak juga merasakanya sulit untuk mengikhlaskan kakek?. mungkin mereka ingin saling mengenal lebih dekat dulu, jadi biarkan mereka beradaptasi dengan ke adaan masing-masing dan merasa nyaman satu sama lain. dan yang perlu kita lakukan adalah medukung mereka karna itu yang mereka butuhkan." tutur tante Arumi memberi pengertian pada putranya.
Ardi meng angguk-anggukan kepala membenarkan ucapan mamahnya. sambil membantu mengupas kentang yang sudah di rebus oleh tante Arumi sore tadi untuk membuat perkedel.
"memangnya kenapa kamu kesal gitu hubungan mereka belum ada kemajuan..?" tante Arumi bertanya lagi pada putranya.
"emm.. gak apa-apa aku cuma heran aja apa mungkin Fahmi gak doyan cewe gitu padahal mereka tinggal satu kamar." jawab Ardi.
"astagfirullahaladzim. jangan suka su'udzon sama orang kakak itu gak baik." ucap tante Arumi.
"iya mah InsyaAllah gak akan lagi." jawab Ardi. "padahal aku udah pengen lihat bayi di rumah ini pasti akan seru dan tak sepi lagi rumah ini kalau ada bayi." cerocos Ardi lagi.
"kalau gitu kamu aja cepat nikah dan bikin bayi." jawab tante Arumi enteng.
degh...
Ardi membeku mendengar kata-kata mamahnya tapi dengan cepat menetralkan perasaannya. "tapi Ardi pengen bayinya Shalwa dan Fahmi pasti lucu dan manis kaya Shalwa atau ganteng kaya Fahmi." ucap Ardi mengusir perasaan yang campur aduk di hatinya. mamah nya ngomong gitu pasti pertanda dia sudah mau punya menantu dan cucu.
"kakak ini gimana sih, Shalwa kan masih sekolah kalau cepat hamil nanti susah masa ke sekolah dengan perut buncit nanti di kira hami duluan oleh teman-temannya." sahut tante Arumi
__ADS_1
Ardi ter sadar dari ucapannya dan langsung terdiam sementara tante Arumi tak menyadarinya dia masih sibuk dengan aktivitasnya yang sedah menumis sayuran.