Shalwa Az-zahra

Shalwa Az-zahra
23.


__ADS_3

jam sudah menunjukan pukul 09 malam. di kamar Shalwa sedang berkutat dengan buku pelajaran dari sekolah di meja belajar, Fahmi masih mengobrol dengan Ardi di ruang keluarga, sementara tante Arumi sudah masuk ke kamarnya.


setengah jam kemudian Shalwa menyudahi belajarnya, Shalwa merapihkan buku belajarnya dan menyimpannya lalu Shalwa menyiapkan buku-buku untuk pelajaran besok.


setelah itu Shalwa pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan wudhu dulu sebelum tidur, itu sudah menjadi ke biasaannya untuk berwudhu sebelum tidur. karna Shalwa pernah mendengar dari ustadz yang mengajarinya di masjid. bahwa wudhu bukan hanya wajib di lakukan sebelum melaksanakan salat tapi juga sangat di anjurkan di lakukan sebelum tidur.


Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berwudhu sebelum tidur.


sebagaimana yang di jelaskan dalam hadist.


"barang siapa yang tidur di malam hari dalam ke adaan suci,(berwudhu) maka malaikat akan teta mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya malaikat itu akan berucap 'ya Allah ampunilah hambamu si fulan, karna tidur di malam hari dalam ke adaan suci.' (HR. ibnu hibban & ibu Umar r.a.)"


maka dari itu Shalwa selalu melakukannya.


selesai wudhu Shalwa keluar dari kamar mandi dan ia melihat Fahmi sudah ada di sana sedang menggelar kasur di lantai.


Shalwa yang melihat itu buru-buru menghentikan tindakan Fahmi.


"kenapa?" tanya Fahmi melihat Shalwa dengan heran.


"em.. itu em.. abang tidurnya di ranjang aja." jawab Shalwa gugup.


"terus adek dimana tidurnya kalo abang tidur di ranjang?" Fahmi balik bertanya. sebelum Shalwa bisa menjawab Fahmi sudah berkata,


"owh adek mau tidur di kamar kakek, adek rindu kakek ya.?" pernyataan sekaligus pertanyaan. "hmh gak papa kalo adek mau tidur di kamar kakek, abang tidur di sini." sambung Fahmi lagi dengan nada sedikit sedih karna mengira akan tidur berjauhan dari Shalwa, walaupun biasanya juga tidur terpisah tapi masih dalam satu kamar.


"emmh itu..."


"pergilah dek, abang gak papa ko!,"


sebelum Shalwa bisa mengucapkan kata sanggahan Fahmi sudah memotongnya lagi.

__ADS_1


"tapi.."


"abang sudah ijinkan adek, jadi pergilah." sahut Fahmi lagi dengan selembut mungkin sambil memaksakan senyum manisnya, karna dalam hati ia kurang rela di tinggal Shalwa. Fahmi melenggang menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan kaki tak lupa juga berwudhu sebelum tidur.


meninggalkan Shalwa yang melongo sendiri dan semakin frustasi karna tak tau harus berkata apa lagi, penjelasannya tak tersampaikan karna Fahmi terus memotongnya.


Shalwa melihat Fahmi sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Shalwa mendesahkan nafasnya panjang lalu beranjak ke tempat tidurnya, biarkan saja suami yang tak mau mendengar penjelasannya pikir Shalwa. tapi Shalwa sangat gugup dan gelisah juga.


Fahmi keluar dari kamar mandi melihat ke sana kemari tak melihat ke beradaan Shalwa. mungkin Shalwa sudah pergi ke kamar kakek pikirnya. ia tak melihat ke arah tempat tidur padahal orang yang dia cari sedang meringkuk gelisah di dalam selimut.


Fahmi menuju lemari mengambil baju tidurnya karna tadi dia lupa dan Shalwa tak menyiapkannya biasanya sudah tersedia di meja di ambilkan oleh Shalwa, Fahmi tinggal memakainya saja. tapi sekarang tidak, mungkin Shalwa juga lupa karna terlalu gugup.


Fahmi mengganti pakaiannya di sana karna berpikir tak ada siapa-siapa juga di kamar itu. untung Shalwa sedang membelakanginya jadi dia tak tau apa yang di lakukan Fahmi.


saat Fahmi akan naik ke tempat tidur dia melihat selimut yang menggembung, Fahmi mengernyitkan dahi heran tapi penasaran juga.


"dek...?" panggil Fahmi. Shalwa jangan di tanya ia sudah berkeringat dingin dan jantung seperti mau meledak saja saat mendengar suara Fahmi memanggilnya. Shalwa sangat gugup tapi ia memberanikan diri membuka selimut di atas kepalanya sampai dagu, lalu berbalik melihat Fahmi yang sedang berdiri di sisi ranjang.


Shalwa mendesahkan nafasnya pelan. "emang siapa tadi yang bilang mau tidur di kamar kakek?, Shalwa gak bilang gitu." jawab Shalwa.


Fahmi berpikir mengingat percakapannya tadi. iya Shalwa tak bilang akan tidur di kamar kakek, cuma dia yang menyimpulkan begitu karna Shalwa menyuruhnya tidur di ranjang Shalwa. jadi kenapa bukankah Shalwa ingin mereka tidur terpisah. lihatlah yang katanya seorang CEO ini bahkan harus lama berpikir hanya karna istri kecilnya menyuruh tidur di ranjang dan ia masih tak mengerti juga.


Fahmi memegang dagunya sambil berpikir "Jadi..?" tanyanya pada Shalwa karna masih belum paham.


"kita tidur bersama di ranjang." jawab Shalwa cepat berusaha setenang mungkin. Shalwa mencengkram selimut dengan erat.


Fahmi mematung mendengar kalimat yang Shalwa lontarkan, antara bahagia dan tak percaya, bahagia karna akhirnya Shalwa mau mencoba lebih dekat dengannya. tak percaya apakah pendengarannya bermasalah, atau Shalwa yang salah bicara.


Shalwa yang melihat Fahmi hanya mematung menjadi lebih gugup "apa dia tidak mau tidur seranjang denganku dan dia mengira aku sudah tak sabar menginginkannya dan menganggapku wanita gak baik." batin Shalwa ia menggigit bibirnya dan menaikan selimutnya hampir menutupi mata. Shalwa sangat malu juga agak kecewa, bagaimana kalau benar dugaannya.


"mhh,, maaf Shalwa.. Shalwa cuma itu.." Shalwa tak bisa melanjutkan kata-katanya ia malah semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut. "ka..kalau abang gak bisa gak papa ko." jawab Shalwa pelan dari balik selimutnya.

__ADS_1


Fahmi sadar dan mendengar Shalwa yang bicara di balik selimut dengan pelan. Fahmi tak bisa mengatakan apapun karna saking bahagianya.


Fahmi dengan senang hati menaiki tempat tidur dan ikut berbaring di sebelah Shalwa yang sudah membelakanginya karna tak mendengar jawaban dari Fahmi.


Shalwa kecewa juga malu karna Fahmi tak menamggapinya. tapi saat merasakan pergerakan di belakangnya Shalwa membeku dan jantung berdebar dengan kencang.


Shalwa menggenggam erat selimut yang di pegangnya. Shalwa sudah tak bisa lagi menekan rasa gugupnya dan kembali berkeringat dingin.


"Terimakasih sudah mau mencoba menerimaku dan mau mencoba lebih dekat denganku. aku sangat bahagia sehingga aku tak bisa berkata apapun lagi, hanya kata terimakasih yang bisa ucapkan." ucap Fahmi.


"dan maaf aku mungkin sudah memaksamu untuk menerimaku di sisimu dengan menikah denganku. maaf aku sudah membuatmu tak nyaman dengan adanya aku di dekatmu. dan maaf aku sudah merenggut masa mudamu. mungkin yang lain masih asik dengan dunia mereka sendiri dan masih menikmati waktu kesendiriannya yang bahagia tanpa ada yang mengekang. sedangkan kamu dengan menikah denganku masa mudamu harus di habiskan denganku dan jika ingin apapun dan kemanapun kamu tak bebas dan harus meminta izin dulu padaku. maafkan aku yang egois hanya memikirkan kebahagianku sendiri tanpa memikirkan dirimu terlebih dahulu. maaf, maafkan aku...!? ucap Fahmi pelan tapi dengan perasaan tulus dari lubuk hatinya.


Shalwa yang mendengar ucapan Fahmi mencoba menekan rasa gugupnya dan membalikan tubuhnya menghadad ke arah Fahmi.


Shalwa menatap mata Fahmi dengan lekat walau sedikit ragu dan malu tapi Shalwa memberanikan diri menatap netra suaminya yang sudah mengembun. Fahmi sangat merasa bersalah pada Shalwa tapi dia juga sangat menginginkan Shalwa.


"bukankah kakek yang ingin kita menikah..?" tanya Shalwa pelan.


"bukan, tapi aku yang memintamu duluan, kakek hanya menyetujuinya saja setelah ke adaanya semakin buruk. awalnya kakek memintaku menunggu sampai adek lulus sekolah dan meminta pendapatmu tentangku dan mendapat persetujuanmu dulu. tapi Allah berkehendak lain, dan saat ke adaannya semakin parah, kakek bercerita pada ayahku kakek takut waktunya takkam lama lagi, dan tak tau kapan ia akan pergi. kakek khawatir kamu akan kesepian setelah kakek pergi, dan tak punya pilihan selain menikahkanmu." ucap Fahmi dengan lirih tapi masih bisa terdengar jelas oleh Shalwa karna mereka berdekatan.


"lalu apa reaksimu.?" dengan tetesan air mata yang mulai keluar tapi menyembunyikannya dari Fahmi dengan menundukan kepalanya dan agak mengegeser tidurnya kebawah.


" aku tentu sangat setuju dan senang setelah ayah menceritakan ke inginan kakek untuk kami segera menikah. waktu itu, aku tak tau apa yang menyebabkan kakek ingin aku dan adek segera menikah, apalagi di hari itu juga. sempat berpikiran buruk tapi aku bertekad akan menerima adek apapun ke adaan adek. dan setelah sampai di tempat tujuan aku syok karna itu rumah sakit aku gelisah dan sedih apa yang terjadi padamu pikirku, dan setelah sampai ruangan aku melihat kakek terbaring lemah di ranjang. lalu kakek menceritakan ke adaanya dan menyampaikan ke inginannya." ungkap Fahmi dengan air mata yang sudah membasahi pipinya juga tapi dengan cepat ia hapus lagi.


"kakek ingat esok harinya adalah ulang tahunmu, kakek sudah menyiapkan kado untukmu. untuk merayumu yang mungkin kecewa padanya saat itu. tapi.. " Fahmi menjeda ucapannya karna tak sanggup meneruskan.


air matanya kembali mengalir dan melihat bahu Shalwa yang bergucang Fahmi tak kuasa lagi meneruskan kata-katanya.


Fahmi mendekat memberanikan diri mendekap Shalwa dengan dirinya yang juga berderai air mata.


tangis Shalwa pecah juga sesekali terdengar isakannya di dekapan suaminya. Fahmi menenangkan Shalwa dengan mengusap-usap punggungnya dan sesekali mengecup puncuk kepala Shalwa. entah Shalwa sadar atau tidak tapi dia tak menolak dan merasakan nyaman di dekapan suaminya itu.

__ADS_1


lama mereka menangis dan tak ada percakapan apapun lagi. hingga akhirnya mereka tertidur karna lelah, dengan isakan Shalwa yang masih sesekali keluar. dan tak sadar mereka tidur saling memeluk erat.


__ADS_2