Shalwa Az-zahra

Shalwa Az-zahra
35.


__ADS_3

seperti biasa Shalwa pulang di jemput oleh sang suami. walaupun di kantor sedang sibuk tapi Fahmi tetap menyempatkan dirinya untuk menjemput sang istri, karna Fahmi tak ingin istrinya berboncengan dengan tukang ojeg, tapi poin pertamanya Fahmi sudah sangat merindukan istri kecilnya itu dan ingin membiasakan Shalwa berdekatan dengannya.


"abang sudah makan?" tanya Shalwa setelah menyalami tangan suaminya dan masuk ke mobil lalu duduk di kursi penumpang depan di sebelah sang suami.


"baru makan satu buah roti yang di jual di depan kantor untuk mengganjal perut" jawab Fahmi sambil tersenyum ke arah Shalwa. "adek udah makan?" tanya Fahmi pada Shalwa sambil melajukan mobilnya menuju arah jalan pulang.


"udah tadi di kantin, abang mau cari makan dulu apa nanti di rumah Shalwa masakin." tawar Shalwa.


Fahmi buru-buru menganggukan kepala "boleh di masakin adek aja tapi kalau adek capek kita cari aja makanannya." tentu Fahmi senang dengan tawaran Shalwa tapi tak ingin sampai istri kecilnya kelelahan.


"Shalwa gak capek kok, tapi emang abang gak balik lagi ke kantor.?" tanya Shalwa.


"enggak abang udah bawa berkas yang belum sempat di kerjakan jadi di kerjakan di rumah aja karna lagi gak ada pertemuan-pertemuan jadi bisa kerja dari rumah sambil nemenin adek." Fahmi menoleh ke arah Shalwa sebentar ingin tahu reaksi istri kecilnya seperti apa karna dia ingin menemaninya tapi Shalwa terlihat biasa aja. Fahmipun kembali fokuskan pandangannya ke jalanan, walau sempat terbesit rasa kecewa karna istrinya tak menunjukan rasa senang saat di bilang ingin menemaninya bela-belaan pekerjaan di bawa ke rumah tapi Fahmi cepat memaklumi karna mereka kenal juga baru beberapa minggu jadi mungkin belum ada perasaan apapun dari istrinya.


sebenarnya Shalwa senang karna Fahmi ingin menemaninya di rumah tapi Shalwa tak tau harus berekspresi seperti apa karna Shalwa selalu pandai menutupi perasaannya dari orang luar. mungkin Fahmi juga masih termasuk orang luar bagi Shalwa karna mereka tinggal bersama juga baru sebentar.


Shalwa hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. "em.. abang mau di masakin apa? kalau ada yang abang mau nanti kita mampir di tempat perbelanjaan kita beli dulu yang abang mau." tanya Shalwa.


"apa aja yang ada di rumah, bukannya tante Arumi udah belanjain untuk kebutuhan kita selama beberapa hari, masih banyak kan di kulkas, kalau kita belanja lagi nanti mubazir yang udah ada di rumah." Fahmi sangat senang bukan main mendengar tawaran Shalwa senyumannya pun mengembang lebar.


"kan cuma beli yang abang mau aja, bukan belanja banyak." kata Shalwa. dia juga tersenyum melihat senyuman suaminya, dalam hati Shalwa berharap semoga kedepannya hubungan dia dan suaminya semakin layak di sebut sebagai pasangan suami istri.


"kita lihat dulu aja apa yang ada di rumah, abang bukan pemilih kalau soal makanan apa aja masuk." senyuman Fahmi semakin mengembang dan hatinya terasa hangat dan berbunga. dalam hatinya Fahmi bersyukur atas sikap Shalwa akhir-akhir ini. Fahmi juga berharap semoga hubungannya bersama sang istri semakin lebih baik.

__ADS_1


"ya udah kalo gitu kita langsung ke rumah aja." putus Shalwa.


"emang adek gak ada yang di pengen?" tanya Fahmi masih tetap fokus ke jalanan sambil tersenyum senang.


"ada tapi udah kelewat." jawab Shalwa.


"apa?, ya udah kita putar balik aja." kata Fahmi sambil akan memutar balik arah.


"jangan.. jangan. nggak gak uasah lagian orang yang keliling mungkin udah belok ke gang-gang kecil" Shalwa buru-buru menghentikan Fahmi, dan Fahmi kembali melajukan kendaraannya menuju arah pulang.


"beneran gak papa? nanti malah ke pikiran lagi setelah di rumah." kata Fahmi memastikan.


"beneran. lagian juga cuma telur gulung kalau mau nanti bisa bikin di rumah." jawab Shalwa sambil memberikan senyum manisnya pada sang suami yang menoleh ke arahnya.


"emang adek bisa bikin telur gulung? itu susah loh ngegulung telurnya." kata Fahmi.


"adek udah sering bikin?" tanya Fahmi penasaran.


"sering sih enggak cuman kalo lagi mau dan lagi gak sekolah suka bikin sendiri di rumah." jawan Shalwa.


"oh pantesan, kalo gitu nanti tolong bikinin buat abang juga ya, abang pengen nyobain." kata Fahmi dan Shalwa menganggukan kepalanya tanda mengiyakan permintaan suaminya sambil berkata "insyaAllah siap."


tak lama mereka sampai juga di rumah, Shalwa turun dari mobil sementara Fahmi menyimpan mobilnya ke garasi setelah menyimpan mobil Fahmi menghampiri Shalwa yang masih menunggunya di teras rumah setelah itu mereka masuk kerumah beriringan.

__ADS_1


Shalwa pergi ke kamar untuk menyimpan tasnya setelah itu pergi ke dapur untuk memasak. Shalwa terlebih dahulu menaruh beras yang sudah di cuci ke penanak nasi setelah itu Shalwa membuka kulkas dan terlihat masih banyak bahan masakan, Shalwa mengambil sayuran dan daging ayam secukupnya kira-kira porsi untuk makan berdua, hanya sayur pakcoy untuk di tumis beserta timun untuk lalapannya. Shalwa juga mengambil dua buah telur dan satu bungkus bihun mentah untuk di bikin telur gulung.


Shalwa memotong dagingnya terus mencucinya setelaha itu Shalwa juga mencuci sayurannya sambil di belah-belah sayur pakcoynya. setelah itu Shalwa menyiapkan bumbu untuk daging.


"apa ada yang bisa abang bantu?" Fahmi menghampiri Shalwa di dapur dan menawarkan bantuan.


Shalwa menoleh ke arah suaminya dan tersenyum."gak usah, Shalwa masak yang gampang kok jadi gak repot. abang terusin aja kerjaannya nanti kalo masakannya udah siap akan Shalwa panggil." kata Shalwa sambil membumbui daging dan mendiamkanya di wadah sebentar supaya bumbunya meresap sebelum nanti di goreng.


Fahmi melihat bahan masakan yang ada di meja yang sudah siap tinggal di masak saja. "Hhmm ya udah abang ke depan lagi kalo gitu, maaf ya abang tak bantu adek." kata Fahmi.


"iya gak papa lagian masaknya cuma sedikit kok." jawab Shalwa. Fahmi pun berbalik dan pergi dari dapur, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.


Shalwa mengambil panci dan mengisinya dengan air untuk merebus bihun, selagi bihun di rebus Shalwa menyiapkan penggorengan untuk menggoreng daging dan setelah minyaknya panas Shalwa menggoreng dagingnya, Shalwa juga meniriskan bihunnya supaya tak ada airnya saat di goreng nanti. setelah menggoreng daging ayam Shalwa menumis sayur pakcoy, selesai menumis Shalwa kembali menyiapkan penggorengan untuk membuat telur gulung pesenan suaminya dan juga ke inginannya. selama hampir satu jam Shalwa berkutat di dapur dan akhirnya selesai juga masakannya, setelahnya memotong-motong timun dan menaruhnya di piring Shalwa menyiapkan masakannya di meja makan beserta nasinya tak lupa Shalwa juga menyiapkan saus juga kecapnya untuk telur gulung.


selesai itu Shalwa mencuci tangan dan mukanya di WC dapur seteleh itu Shalwa memanggil suaminya karna makanannya sudah siap.


"emm.. abang, ayo makan dulu nanti kerjanya di terusin sehabis asyar aja." ajak Shalwa setelah berdiri di samping suaminya yang sedang sibuk dengan berkasnya di ruang tengah.


Fahmi mendongak melihat ke arah istri kecilnya yang terlihat masih segar walau sehabis masak, Fahmi membereskan berkas-berkas dan menutup laptopnya lalu memasukannya ke dalam tas kerjanya setelah itu berdiri lalu menggenggam tangan Shalwa dan menariknya pelan. "ayo perut abang sudah sangat lapar karna mencium bau masakan dari dapur." kata Fahmi semangat sambil berjalan menuntun Shalwa ke dapur.


Shalwa mengikuti sambil melihat tangannya yang di genggam oleh suaminya serasa ada sengatan listrik bertegangan kecil yang mengalir dari tangannya dan jantungnya juga berdegup kencang.


Fahmi menari kursi dan menyuruh Shalwa duduk di situ dan Fahmi duduk di kursi sebelahnya dengan tangan yang masih bertautan. "wah kelihatannya enak banget ini" ucap Fahmi melihat hidangan di meja.

__ADS_1


Shalwa menggoyangkan tangan yang di genggam oleh suaminya, Fahmi menoleh ke arah tangan yang di goyangkan oleh Shalwa dan melepas genggamannya perlahan "maaf" kata Fahmi pelan.


Shalwa mengangguk setelah itu mengambil piring dan mengisinya dengan hidangan di meja dan menaruhnya di depan suaminya. "makasih dek" kata Fahmi sambil tersenyum. "sama-sama" jawab Shalwa juga dengan senyumnya setelah itu baru mengambil mengisi piring untuknya. akhirnya merekapun makan tanpa suara.


__ADS_2